More

    Mahasiswa Kembali Turun ke Jalan, Kampus Kembali Jadi Arena Politik

    Oleh: Randy Aprialdi

    Aksi mahasiswa ITB di kampus Ganesha, Bandung, 17 Juni 2026. (Foto: IDNTimes/Debbie Sutrisno)

    Dalam beberapa pekan terakhir, pemandangan yang sempat jarang terlihat kembali muncul di berbagai kota. Mahasiswa turun ke jalan, membawa spanduk, berorasi di depan gedung pemerintahan, dan menyuarakan kritik terhadap berbagai persoalan yang mereka anggap membebani masyarakat.

    Dari Bandung, Jakarta, hingga sejumlah daerah lainnya, aksi mahasiswa kembali menghiasi pemberitaan nasional. Tuntutannya beragam, mulai dari kondisi ekonomi, kenaikan biaya hidup, tata kelola pemerintahan, hingga berbagai kebijakan publik yang dinilai belum menjawab kebutuhan masyarakat.

    - Advertisement -

    Fenomena ini memunculkan satu pertanyaan menarik, apakah kampus sedang kembali menjadi arena politik? Pertanyaan tersebut bukan tanpa alasan. Selama beberapa tahun terakhir, muncul anggapan bahwa kehidupan politik mahasiswa mengalami penurunan. 

    Demonstrasi tidak lagi seramai dulu. Organisasi kemahasiswaan dianggap kehilangan daya pengaruhnya. Bahkan tidak sedikit yang menilai mahasiswa generasi sekarang lebih tertarik membangun personal branding dibanding mengurusi persoalan publik.

    Namun gelombang aksi yang muncul belakangan menunjukkan bahwa asumsi tersebut tidak sepenuhnya benar.

    Kampus Tidak Pernah Benar-Benar Apolitis

    Ada kecenderungan untuk membandingkan mahasiswa hari ini dengan generasi mahasiswa era Reformasi 1998 atau berbagai gelombang demonstrasi besar setelahnya. Perbandingan itu sering kali menghasilkan kesimpulan bahwa mahasiswa saat ini lebih pasif dan kurang peduli terhadap isu sosial-politik.

    Padahal, realitasnya tidak sesederhana itu. Mahasiswa hari ini hidup dalam situasi yang berbeda. Mereka tumbuh di era digital ketika kritik tidak selalu disampaikan melalui mimbar bebas atau demonstrasi di jalan. Media sosial, petisi daring, diskusi virtual, hingga berbagai bentuk kampanye digital telah menjadi ruang baru bagi mahasiswa untuk menyampaikan pendapat.

    Karena itu, ketika demonstrasi kembali muncul di ruang publik, yang sebenarnya terjadi bukanlah kebangkitan dari kondisi mati suri. Mahasiswa tidak pernah benar-benar berhenti bersuara. Mereka hanya menggunakan saluran yang berbeda.

    Kini, ketika berbagai persoalan dianggap semakin mendesak, jalanan kembali dipilih sebagai medium penyampaian aspirasi.

    Ketika Ekonomi Menyentuh Kehidupan Mahasiswa

    Salah satu faktor yang membuat mahasiswa kembali aktif menyuarakan kritik adalah persoalan ekonomi yang semakin terasa dekat dengan kehidupan mereka. Bagi sebagian orang, isu fiskal, inflasi, atau kebijakan anggaran mungkin terdengar abstrak. Namun bagi mahasiswa, dampaknya bisa dirasakan secara langsung.

    Harga kebutuhan pokok yang meningkat, biaya kos yang terus naik, ongkos transportasi yang semakin mahal, hingga ketidakpastian dunia kerja menjadi realitas yang mereka hadapi setiap hari. Mahasiswa tingkat akhir bahkan menghadapi kecemasan yang lebih besar. 

    Mereka tidak hanya memikirkan kelulusan, tetapi juga peluang kerja setelah wisuda. Dalam situasi ekonomi yang tidak menentu, masa depan terasa semakin sulit diprediksi. Ketika persoalan publik mulai memengaruhi kehidupan pribadi, keterlibatan politik biasanya ikut meningkat.

    Kampus dan Tradisi Kritik

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here