Jalanan Sebagai Pengingat
Demonstrasi mahasiswa sering kali menimbulkan perdebatan. Ada yang mendukung, ada pula yang menganggap aksi tersebut tidak lagi relevan di era digital. Namun terlepas dari berbagai pandangan tersebut, kehadiran mahasiswa di ruang publik memiliki makna simbolik yang penting.
Aksi turun ke jalan menjadi pengingat bahwa kampus masih menyimpan energi kritis. Bahwa mahasiswa tidak hanya dipersiapkan menjadi tenaga kerja profesional, tetapi juga warga negara yang memiliki kepedulian terhadap kondisi sosial di sekitarnya.
Tentu tidak semua persoalan harus diselesaikan melalui demonstrasi. Dialog, penelitian, advokasi kebijakan, hingga berbagai bentuk partisipasi lainnya tetap memiliki peran penting dalam kehidupan demokrasi. Namun ketika mahasiswa memilih kembali memenuhi jalanan, pesan yang ingin disampaikan biasanya sederhana, ada persoalan yang menurut mereka perlu mendapat perhatian lebih serius.
Kampus Masih Menjadi Ruang Politik
Pada akhirnya, gelombang demnstrasi mahasiswa yang muncul belakangan menunjukkan satu hal penting, kampus belum kehilangan perannya sebagai ruang politik. Bukan politik dalam arti perebutan kekuasaan semata, melainkan politik sebagai kepedulian terhadap persoalan bersama.
Mahasiswa mungkin tidak selalu turun ke jalan setiap saat. Mereka juga tidak selalu hadir dalam setiap perdebatan publik. Namun ketika situasi dianggap cukup mendesak, kampus masih mampu melahirkan suara-suara yang mempertanyakan, mengkritik, dan menawarkan pandangan berbeda.
Karena itu, ketika mahasiswa kembali memenuhi jalanan, mungkin yang sedang kita saksikan bukan sekadar demonstrasi. Kita sedang melihat kampus mengingat kembali salah satu fungsi terpentingnya, yaitu menjadi ruang yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga keberanian untuk peduli.






