Kampus dan Tradisi Kritik
Sejarah pendidikan tinggi menunjukkan bahwa kampus tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan. Kampus juga merupakan ruang lahirnya berbagai gagasan kritis yang berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat.
Dari masa ke masa, mahasiswa sering berada di garis depan dalam mengkritisi kebijakan yang dianggap bermasalah.
Peran tersebut lahir karena kampus menyediakan ruang untuk berpikir, berdiskusi, dan mempertanyakan berbagai hal yang dianggap tidak berjalan sebagaimana mestinya. Karena itu, ketika mahasiswa kembali turun ke jalan, fenomena tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang asing dalam tradisi kehidupan akademik.
Yang menarik justru bagaimana bentuk gerakan mahasiswa saat ini mulai berubah.m Jika dahulu demonstrasi sering identik dengan isu demokrasi dan kebebasan politik, kini tuntutan mahasiswa banyak berkaitan dengan isu ekonomi, kesejahteraan, pendidikan, lingkungan, hingga masa depan generasi muda.
Artinya, ruang politik kampus tidak hilang. Ia hanya berkembang mengikuti persoalan yang dianggap paling relevan oleh zamannya.
Antara Aktivisme dan Tantangan Akademik
Meski demikian, menjadi mahasiswa saat ini tidaklah mudah. Di satu sisi, mereka diharapkan aktif menyuarakan kepentingan publik. Di sisi lain, tuntutan akademik dan persaingan dunia kerja semakin tinggi.
Mahasiswa harus menjaga nilai, mengikuti organisasi, mencari pengalaman magang, membangun portofolio, hingga mempersiapkan karier setelah lulus. Tidak heran jika sebagian mahasiswa memilih fokus pada pengembangan diri dibanding aktivitas politik kampus.
Namun gelombang aksi yang muncul belakangan menunjukkan bahwa kesibukan akademik tidak selalu menghilangkan kepedulian sosial. Ketika persoalan yang muncul dianggap cukup penting, mahasiswa tetap memiliki kemampuan untuk bergerak dan menyuarakan sikap mereka.
Jalanan Sebagai Pengingat
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






