Oleh: Randy Aprialdi

Di berbagai perguruan tinggi terus bertambah, kampus juga semakin modern. Sistem akademik serba digital, layanan administrasi pindah ke aplikasi, kelas bisa dilakukan secara hybrid, dan komunikasi berlangsung lewat platform daring.
Namun, di balik berbagai kemajuan tersebut, muncul keluhan yang semakin sering terdengar dari mahasiswa karena mereka merasa sendirian selama menjalani kuliah. Ironisnya, rasa kesepian itu muncul bukan karena kampus kekurangan dosen, melainkan karena hubungan antara dosen dan mahasiswa terasa semakin jauh.
Banyak mahasiswa mengaku hanya berinteraksi dengan dosen ketika ada jadwal kuliah, bimbingan skripsi, atau urusan administrasi akademik. Di luar itu, komunikasi nyaris tidak terjadi. Situasi ini berbeda dengan cerita banyak alumni yang pernah merasakan bagaimana dosen menjadi tempat berdiskusi, meminta nasihat, bahkan berbagi persoalan karier maupun kehidupan.
Kini, relasi tersebut perlahan berubah menjadi hubungan yang sangat formal. Mahasiswa datang ke kelas, mendengarkan materi, mengumpulkan tugas, lalu pulang. Dosen mengajar sesuai jadwal, memberi penilaian, kemudian berpindah ke kelas berikutnya.
Semua berjalan sesuai prosedur, tetapi ruang untuk membangun kedekatan semakin sempit. Di sisi lain, kondisi ini tidak sepenuhnya bisa dibebankan kepada dosen. Seorang dosen saat ini tidak hanya mengajar. Mereka juga dituntut melakukan penelitian, menulis artikel ilmiah, mengurus akreditasi, menjalankan pengabdian kepada masyarakat, mengikuti berbagai pelatihan, hingga memenuhi berbagai target kinerja institusi.
Belum lagi tuntutan administratif yang terus bertambah. Akibatnya, waktu untuk mendampingi mahasiswa secara personal semakin terbatas. Tidak sedikit dosen yang sebenarnya ingin lebih dekat dengan mahasiswa, tetapi kesulitan membagi waktu di tengah padatnya pekerjaan.
Mahasiswa Datang dengan Masalah yang Berbeda
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






