More

    Mahasiswa KKN ITB Nobel Fasilitasi Pemasaran UMKM Desa Samaulue

    Mahasiswa ITB Nobel Indonesia Kuliah Kerja Nyata Desa Samaulue, Kecamatan Lanrisang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. (ist)

    PINRANG, KabarKampus – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) ITB Nobel Indonesia Posko 28 mendorong penguatan kapasitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Samaulue, Kecamatan Lanrisang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. Pendampingan dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya berfokus pada kegiatan edukasi, tetapi juga mencakup aspek legalitas, digitalisasi, dan pengelolaan usaha.

    Pendampingan tersebut dilakukan sebagai bagian dari kontribusi mahasiswa dalam membantu pelaku UMKM menghadapi tantangan usaha yang semakin kompetitif. Sejumlah layanan teknis diberikan, antara lain fasilitasi pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB), pembuatan dan optimalisasi profil Google Bisnis, serta pendampingan menghitung struktur biaya produksi dan operasional usaha.

    Langkah tersebut dinilai penting karena penguatan UMKM tidak cukup hanya dengan meningkatkan kemampuan produksi. Legalitas usaha, kehadiran digital, dan kemampuan menghitung biaya secara tepat menjadi fondasi bagi pelaku usaha untuk mengambil keputusan bisnis, menentukan harga, serta memperluas akses pasar.

    - Advertisement -

    Rangkaian pendampingan kemudian diperkuat melalui Seminar Kewirausahaan bertema “Strategi Pemasaran UMKM Lokal Menuju Pasar Global”yang digelar di Aula Kantor Desa Samaulue, Ahad (23/8). Kegiatan diikuti 25 peserta yang terdiri atas pelaku UMKM, aparatur pemerintahan desa, pengurus koperasi desa merah putih (KDKMP) dan mahasiswa KKN ITB Nobel Indonesia Posko 28.

    Seminar menghadirkan akademisi ITB Nobel Indonesia sekaligus praktisi pengembangan kewirausahaan, Bahrul Ulum Ilham, S.Pd., M.M., Ph.D., sebagai narasumber. Diskusi dipandu oleh Muh. Idul Ikhsan sebagai moderator.

    Dalam pemaparannya, Bahrul menekankan bahwa persaingan UMKM di era digital menuntut perubahan cara pandang. Menurutnya, pelaku usaha tidak cukup hanya menghasilkan produk, tetapi harus mampu membangun merek, menciptakan nilai tambah, menjaga kualitas, memahami kebutuhan pelanggan, dan memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pasar.

    “Produk lokal tidak boleh terjebak dalam romantisme geografis. Dengan strategi branding yang terukur, adopsi teknologi digital, dan orientasi pasar yang progresif, UMKM Desa Samaulue layak naik kelas menuju pasar nasional dan global,” ujarnya.

    Ia juga mendorong pelaku UMKM untuk melihat produk lokal sebagai aset ekonomi yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Kemasan, identitas merek, kualitas produk, informasi digital, hingga pengalaman pelanggan menjadi bagian penting dalam membangun daya saing.

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here