
JAKARTA, KabarKampus — Program Doktor Ilmu Manajemen dan Bisnis Universitas Paramadina bekerja sama dengan Megawati Institute menghadirkan ekonom Malaysia, Prof. Jomo Kwame Sundaram, dalam kuliah umum yang bertajuk “Sejak Kapan Kita Menjadi Liberal?: Sejarah Ilmu Ekonomi di Asia Tenggara,” Minggu (26/08/2026)
Ketua Program Studi Doktor Ilmu Manajemen dan Bisnis Universitas Paramadina, Prof. Dr. Ahmad Badawi Saluy, mengatakan pemahaman terhadap sejarah ekonomi liberal di Asia Tenggara penting untuk membaca perkembangan geopolitik dan kesejahteraan kawasan.
“Sejarah Ekonomi Liberal di Asia Tenggara adalah hal penting dan sangat krusial bagi lanskap geopolitik dan kesejahteraan kawasan kita, sebagai institusi yang selalu mengedepankan pemikiran kritis dan nilai-nilai kemanusiaan,” tutur Prof. Badawi.
Menurutnya, sejarah ekonomi tidak semata-mata berkaitan dengan masa lalu, tetapi memiliki keterkaitan langsung dengan struktur sosial, kebijakan publik, dan realitas ekonomi yang dihadapi masyarakat saat ini.
“Melalui diskusi ini, Program Doktor Universitas Paramadina berkomitmen untuk terus menghidupkan tradisi keilmuan yang tajam dan kritis. Kita ingin melihat bagaimana liberalisasi ekonomi membawa peluang sekaligus tantangan, serta bagaimana kita dapat merumuskan model ekonomi yang tidak hanya efisien secara pasar, tetapi juga berkeadilan sosial bagi masyarakat,” ujarnya.
Diskusi dimoderatori oleh Sekretaris Program Doktor Ilmu Manajemen dan Bisnis Universitas Paramadina, Dr. Diin Fitri Ande.
Liberalisme Tidak Memiliki Satu Makna Tunggal
Dalam paparannya, Prof. Jomo menegaskan bahwa liberalisme bukanlah konsep yang memiliki satu pengertian tunggal. Maknanya dapat berubah sesuai dengan konteks sejarah, negara, serta kepentingan politik yang melatarbelakanginya.
Karena itu, menurutnya, istilah liberalisme yang digunakan dalam kebijakan ekonomi perlu dipahami secara kritis dengan melihat siapa yang menggunakan istilah tersebut dan dalam konteks apa.
“Tidak ada satu liberalisme yang dipersetujui semua orang. Maksud liberalisme itu kabur. Jadi kalau kita dengar istilah liberal, kita mesti tahu siapa yang menggunakannya, apa maksudnya,” tutur Prof. Jomo.
Ia menjelaskan bahwa pemikiran ekonomi yang berkembang saat ini tidak dapat dilepaskan dari perjalanan sejarah, termasuk kolonialisme, imperialisme, perubahan politik global, serta perkembangan institusi ekonomi internasional.
Berbagai teori ekonomi yang sering dipandang sebagai kebenaran universal, menurut Prof. Jomo, pada dasarnya lahir dari konteks sejarah tertentu. Karena itu, teori dan model tersebut tidak selalu dapat diterapkan begitu saja pada negara lain.
Pentingnya Memahami Sejarah Pemikiran Ekonomi
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






