More

    Bisnis Rumah Produksi Di Kota Buaya

    Noor Fitriah

    Muda usianya, tapi kemampuan manajerialnya luar biasa. Dialah Muhamad Susanto yang baru saja menginjak usia 24 tahun. Mahasiswa semester tiga di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Surabaya (STIKOSA) ini sudah memimpin dua perusahaan.

    Di tengah kesibukanya membuka buku-buku kuliah, lelaki kelahiran 3 Mei 1988 ini sibuk mengurus usaha rumahan daur ulang sampah di Bojonegoro, dan rumah produksi (production house/PH) di Surabaya, Jawa Timur.

    - Advertisement -

    Kamis siang beberapa waktu lalu, di rumah toko (ruko), Jalan Arief Rahman Hakim, kota Buaya, dia memimpin rapat empat karyawan marketing usaha. Di ruko berlantai tiga yang dilabeli CV. Close Up 9 Production itu, San, demikian ia disapa, sedang menguliahi para karyawan tentang pemahaman dunia marketing.

    ”Ini rutin setiap minggu. Saya sendiri yang memberi materi,” katanya.

    Memulai usaha pada 2009, lelaki kelahiran Bojonegoro itu langsung mendirikan dua usaha. Darah pengusaha memang mengalir dalam nadinya. Bapaknya, Sanusi, ialah seorang pengusaha mebel tersohor di Bojonegoro. Sementara Ibunya, Sri Windari, hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa. Pada 2008, Santo, sebenarnya berbakat dalam dunia tulis menulis. Ia menjadi seorang penulis di stasiun radion IBS FM dan stasiun televisi lokal, Arek TV.

    Bakat di dunia broadcasting itu diperolehnya dari pendidikan diploma di Universitas Airlangga Surabaya. Baru pada 2009, status kepegawaian di dua perusahaan media itu ditinggalkan. Ia memilih mendirikan usaha dan melanjutkan pendidikan strata di STIKOSA.

    “Susah mengatur waktu, antara kuliah, bekerja di perusahaan, dan menjalankan usaha. Salah satu harus dilepas,” kata dia.

    Mei 2009, Ia mendirikan PH dengan bantuan modal dari beberapa kenalan pengusaha sebesar Rp 20 juta. Bermitra dengan kawan, memanfaatkan jaringan pertemanan, serta mempekerjakan beberapa kawan di pemasaran, usaha yang bergerak di bidang shoting video profil perusahaan, pernikahan, program televisi, dokumentasi, dan iklan televisi ini cukup menjanjikan.

    Omzet pada bulan-bulan awal mencapai  Rp 20 hingga 25 juta. Angka itu terus terkerek naik, hingga mencapai Rp 50 juta perbulan pada 2011. Dari usahanya itu, ia mampu mempekerjakan delapan orang.

    Dari hasil keuntungan usaha PH, enam bulan kemudian, pada Oktober tahun yang sama, ia membuka usaha rumahan pengolahan daur ulang sampah dengan modal awal Rp 7,5 juta. Pertama kali ia bekerja sama dengan pengepul sak semen pabrik. Sak semen itu ia olah, dibersihkan, kemudian dikembalikan kepada pengepul. Lama-lama kenalanya bertambah. Kini ia tidak lagi berhubungan dengan pengepul, melainkan langsung dengan pabriknya.

    Bisnis pengolahan daur ulang sampah semen pabrik ini lebih menjanjikan lagi. Pada bulan-bulan awal, omzetnya antara Rp 20 hingga 25 juta. Tapi kini meningkat menjadi Rp 50 hingga 70 juta per bulan. Dari usaha ini, ia mampu menghidupi 22 orang karyawan.”Terkadang saya mengurusi usaha di Bojonegoro, kadang juga di Surabaya. Sesekali saya pelatihan di Jakarta juga,” ujar lelaki berbintang Taurus ini.

    Namun, hingga kini ada satu hal yang mengganggu pikiranya. Santo, meski di usia mudanya sudah cukup sukses dalam bisnis, tapi tidak dengan kuliahnya. Ketika beberapa kawan sudah menyelesaikan beberapa program belajar di kampus, dia tidak. Akibat terlalu mengurusi usaha, indeks prestasi kuliahnya jeblok.”Semester terakhir kemarin, IPK saya Cuma 1,5,” kata dia sambil tertawa.

    “Makanya, dari pada saya tidak konsentrasi, mending saya hentikan dulu, dilanjutkan nanti kalau sudah tenang.”

    Pengusaha muda alumnus Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Bojonegoro pada 2007 ini mendapat beberapa penghargaan. Terakhir, ia mendapat penghargaan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga,”Sebagai wirausahawan muda,” tuturnya bangga.[]

    - Advertisement -

    1 COMMENT

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here