More
    Home RAGAM WIRAUSAHA Lulus Kuliah, Jadi Entrepreneur atau Profesional?

    Lulus Kuliah, Jadi Entrepreneur atau Profesional?

    (ki-ka) Richie Wirjan dan Ryo S. Limijaya memberikan paparan pada talkshow ‘Entrepreneur vs Profesional’. Foto. Istimewa

    Ingin menjadi entrepreneur atau profesional? Pertanyaan ini kerap dihadapi para lulusan Perguruan Tinggi saat ini. Mereka masih dibingungkan mau jadi apa setelah lulus.

    Padahal untuk menentukan jalur karir, mereka harus mengetahui potensi utama dan bidang apa saja yang disukai untuk bekerja. Ketika tahu dua hal itu, maka pekerjaan akan menjadi kesenangan dan memberikan kontribusi yang lebih besar.

    Hal ini seperti yang diungkapkan Ryo Saputra Limijaya, Head of Sales and Marketing Anomali Coffee di Ruang Serba Guna, Kampus Universitas Pelita Harapan, Tangerang, (08/02/2019). Alumni Hubungan Internasional (HI) UPH 2008 ini dalam kesempatan tersebut mengisi seminar bertajuk “Enterpreneur atau Profesional?”

    Ryo bercerita, setelah lulus kuliah dan mencari pekerjaan, ia memahami dirinya ingin bekerja di bidang food and beverages. Selain itu ia juga menyukai semua tentang Indonesia.

    “Ini alasan saya pilih HI ketika berkuliah, ingin jadi diplomat negara cita-cita awal. Tapi ketika saya berkarier di Anomali, saya pun akhirnya juga menjadi seorang diplomat, diplomat kopi tepatnya, mempromosikan kopi Indonesia ke dunia,” papar Ryo.

    Menurut Ryo, menjadi seorang professional atau entrepreneur, bukanlah suatu paham yang harus diberikan garis jelas pembeda. Baginya, keduanya tidak bisa dipisahkan, bahkan sebaliknya saling melengkapi. Seperti, ketika seseorang yang berada di professional dan nantinya ingin berada di top of management, modal yang harus dimiliki adalah ‘being entrepreneur in the company’.

    Owner tempat kita bekerja pasti ingin punya anggota tim yang memiliki entrepreneurship mindset,” tegas Ryo.

    Tak kalah penting, menurut Ryo, ketika ingin berkarier, setiap orang seharusnya punya Growth Mindset. Artinya tidak hanya sekedar bekerja dan mengerjakan jobdesk yang ada. Namun harus punya kemauan menerima tantangan dan pekerjaan yang diberikan dengan sebaik mungkin, dan bekerja dengan maksimal. Modal ini yang harus ada ketika seseorang ingin berada di jajaran top of management.

    Sementara itu Richie Wirjan, Owner Credens Strategic Branding yang juga mengisi seminar bercerita, mengatakan, masih banyak orang yang mendefinisikan seorang entrepreneur itu hanya asal terlihat keren. Padahal usaha setahun dua tahun belum tentu berlanjut.

    Menurut alumni Ilmu Komunikasi 2007 ini, menjadi entrepreneur bukan sekedar karena ingin bekerja sendiri, bebas, dan tidak berada di bawah orang lain. Namun suatu prinsip yang mutlak yaitu attitude yang baik, punya integritas, sikap profesionalitas, respect kepada siapa pun, dan persistence.

    “Ketika kamu ingin jadi entrepreneur tapi kamu masih bekerja di perusahaan orang lain, pahami bahwa dengan jiwa entrepreneur, kamu punya kesempatan membesarkan perusahaan tersebut. Dan ketika memutuskan untuk menjadi entrepreneur, kamu harus pastikan apakah kalian yakin dan siap menjalani bisnis yang telah disiapkan,” kata Richy.

    Bagi Richy, entrepreneurship bukan hanya bicara tentang Business Plan, melakukan pameran, dapat pembeli, dan selesai. Tapi lebih dari itu apakah kalian siap berkomitmen dalam keadaan usaha yang sedang berjalan baik maupun melemah, kalian tetap memberikan kualitas terbaik dan bisa impactful.[]

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here