More

    Melihat Lebih Dekat Persoalan Anak Muda Indonesia

    Ahmad Fauzan Sazli

    23 02 2013 MelihatLebihDekat_FZNSAZLI

    Karya instalasi representasi anak muda Indonesia yang tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi dalam acara “63 Anak Muda adalah Guru kita di Galeri Dia Loe Gue, Kemang, Jakarta, Selatan, Sabtu, (23/02/2013). FOTO : AHMAD FAUZAN SAZLI

    - Advertisement -

    Dari lingkaran kecil di luar sebuah ruangan, terlihat lima anak muda di depan sebuah universitas. Lima anak muda itu yakni, satu laki-laki berada di atas sepeda motor, satu perempuan di atas sepeda membonceng anak kecil, satu lagi perempuan di depan meja bilyar, dan sepasang perempuan dan laki-laki menggendong anak.

    Entah siapa mereka. Namun setelah masuk ke dalam ruangan dan membaca tulisan di belakang mereka. Ternyata, satu laki-laki di atas sepeda motor itu adalah Rusdin (22), asal Wakatobi. Rusdin adalah lulusan paket C yang sehari-hari bekerja sebagai penyanyi organ tunggal dari kampung ke kampuing. Saat ini Rusdin baru saja membuka usaha salon pertamanya di Lasali, Bau-bau.

    Satu perempuan di atas sepeda membonceng anak kecil adalah Imah (17). Imah adalah pembantu rumah tangga di Bekasi. Ia tidak lulus SMP. Sudah empat tahun dia bekerja dengan majikannya yang masih memiliki hubungan keluarga. Sedangkan satu perempuan di depan meja bilyar adalah Icha (18). Icha tidak lulus SMP. Ia adalah mantan eksa dan sekarang bekerja sebagai eskort girl di bilyar Kalibata.

    Sementara sepasang perempuan dan laki-laki itu adalah pasangan suami istri yakni Sigit (24). Sigit bekerja sebagai pengantar air isi ulang di Yogyakarta. Ia pernah kursus di BLK dan sekarang berprofesi sebagai sopir. Isterinya pula bernama Elinah (23), lulusan SMK yang pernah bekerja di Seoul Korea.

    Lima replika wajah anak muda tersebut merupakan contoh persoalan anak muda di Indonesa.

    Mereka dihadirkan dalam acara yang bertajuk “63 Anak Muda Adalah Guru Kita,” yang digelar komunitas Kampung Halaman di Galeri Dia Loe Gue, Kemang, Jakarta Selatan, (Sabtu, 23/02/2013).

    Kelima anak muda tersebut merupakan anak muda yang tidak mampu meneruskan pendidikan ke universitas atau perguruan tinggi.

    “Kita biasanya  melihat sesuatu itu dari satu sudut pandang. Dari jauh mereka terlihat biasa-biasa saja. Namun ketika melihat lebih dekat, masing-masing dari mereka punya cerita,” kata Sicilia, direktur Kampung Halaman kepada KabarKampus menjelaskan replika anak muda yang dipamerkan.

    Menurut Sicilia, pameran lima replika anak muda yang di pajang di dalam ruangan itu supaya pegunjung tidak melihat anak muda dari satu sudut pandang. Seperti banyak anak muda yang dinilai negative seperti suka tawuran dan sebagainya, namun bila melihat dibelakang mereka. Mereka  adalah orang yang perlu didamping,” jelas Sicilia.

    Sicilia mengungkapkan, saat ini terdapat lebih dari 63 juta anak muda di Indonesia. Sedangkan yang  tersaring masuk perguruan tinggi hanya sekitar empat persen. Dengan pendidikan rendah seperti itu, akan banyak pengangguran.

    “Apalagi mereka tidak bisa memaksimalkan potensi mereka.”

    Anak muda Indonesia harus didampingi oleh siapa saja agar potensi mereka dapat berkembang maksimal.[]

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here