More

    Tentang Inovasi Puitik

    Foto: Ahmad Yulden Erwin (kanan) di Kantor KabarKampus.com (09/18)

    1/

    Dulu sekali, mungkin tahun 2011 atau 2010, di Facebook saya yang lama, saya men-share satu puisi karya Afrizal Malna yang terbit di Koran Kompas. Puisi itu oleh Afrizal Malna ditujukan kepada GM. Di kolom komentar saya menyatakan bahwa puisi Afrizal Malna itu luar biasa “keren”.

    - Advertisement -

    Tak diduga seorang sahabat saya tiba-tiba bertanya di kolom komentar: “Apa kerennya?” Tiba-tiba saya sadar bahwa saya telah menarik satu kesimpulan “keren” tanpa alasan sama sekali. Saya lalu menjawab sekenanya: “Ya, keren saja.” Kemudian sahabat saya itu bertanya kembali dengan lebih mendalam: “Kenapa puisi itu kau bilang keren?” Dan kali ini saya benar-benar tak bisa menjawab karena saya tak punya alasan logisnya.

    Lantas, dengan malu hati saya bertanya: “Apa yang membuat satu puisi jadi keren?” Sahabat saya itu cuma menjawab singkat: “Studilah puisi-puisi dan teori-teori sastra dunia.” Selesai. Namun, itu adalah awal yang baru bagi saya dalam dunia sastra. Itu adalah awal saya benar-benar mencari mengapa satu puisi disebut keren, disebut indah dan inovatif.

    Sekarang saya tahu bahwa pendapat saya tentang puisi-puisi Afrizal Malna dulu memang ngawur, pendapat orang yang tak tahu perihal sebenarnya tentang puisi. Jika saya ditanya tentang puisi-puisi Afrizal Malna, sekarang saya cuma akan menjawab: “Puisi-puisi Afrizal Malna itu ngawur.” Dan, bila diminta, saya bersedia untuk memberikan alasan-alasan logisnya.

    2/

    Yang paling penting bagi para penulis dan pembaca sastra di Indonesia saat ini adalah belajar memahami dengan benar perihal yang dimaksud dengan “inovasi”. Inovasi di dalam sains atau seni, hakikatnya sama saja. Inovasi harus mampu melahirkan “tawaran baru” dengan landasan konsep yang kokoh dan dapat menggantikan konsep sebelumnya. Teori relativitas Eisntein, misalnya, mampu menggantikan teori fisika Newton untuk menjelaskan fenomena alam fisik, bahkan mampu menjelaskan fenomena yang tak bisa dijelaskan oleh teori fisika Newton. Jadi, Einstein bukan “memberontak” dengan hanya menafikan teori fisika Newton tentang asumsi adanya ruang dan waktu yang absolut, melainkan juga menciptakan teori baru di dalam fisika modern yang bisa diuji kebenarannya, yaitu: Einstein mengeluarkan teori bahwa ruang-waktu adalah relatif terhadap posisi pengamat.

    Begitu juga halnya dalam konteks seni. Ezra Pound, “otak” dari puisi imajisme di Amerika Serikat pada awal abad ke-20, menolak konvensi estetika puisi klasik dan romantik—yang menekankan pada “metrum natural” untuk membedakan sintaksis puisi dengan sintaksis prosa. Meski begitu, ia tak hanya sekadar melakukan penolakan terhadap konvensi estetika puisi yang ada, melainkan menawarkan satu teori sintaksis puitik yang baru, yaitu teori “metrum berkaki bebas”—satu teori sintaksis puitik yang lebih “prosais” ketimbang sebelumnya. Jadi, penemuan baru itu, inovasi itu, tak hanya menafikan penemuan lama dengan cara semena-mena, tetapi juga menawarkan alternatif teori atau estetika baru di dalam puisi modern dunia.

    Berbeda misalnya dengan apa yang terjadi pada Afrizal Malna, ketika ia gagal menawarkan jalan estetika baru, maka ia hanya menafikan konvensi estetika lama dengan membuat inversinya, hanya itu, tanpa menawarkan konsepsi estetikanya sendiri. Jadi, jika konvensi estetika puisi sebelumnya dianggap oleh Afrizal Malna sebagai terikat pada tata bahasa, maka ia merasa cukup membuat puisi yang melabrak tata bahasa, lalu ia dan para pengikutnya menganggap hal itu sebagai semacam inovasi puitik. Jika konvensi estetika puisi sebelumnya dianggap oleh Afrizal Malna terikat pada prinsip kohesi dan koherensi, maka ia merasa cukup membuat puisi yang menolak prinsip kohesi dan koherensi, lalu dianggap atau menganggapnya sebagai semacam inovasi puitik. Inovasi model Afrizalian itu jelas bukan inovasi, tetapi hanya inversi, sesuatu yang gampang dilakukan. Dan hasilnya hanya merusak tanpa mampu menciptakan tawaran baru terhadap konvensi estetika yang ia tolak sebelumnya. Berikut saya hadirkan satu puisi karya Afrizal Malna:

    MESIN PENGHANCUR DOKUMEN

    Ayo, minumlah. Tidak. Saya tidak sedang es kelapa
    muda. Makanlah kalau begitu, tolonglah. Tidak. Saya
    tidak sedang nasi rames. Masuklah ke kamar mandi
    saya, tolonglah kalau tidak haus, kalau tidak lapar,
    kalau bosan makan. Perkenankan aku memberikan
    keramahan padamu, untuk seluruh kerinduan yang
    menghancurkan dinding-dinding egoku. Bagaimana
    aku bisa keluar kalau kamu tidak masuk.

    Kamu bisa mendengar kamar mandiku memandikan
    tata bahasa, di tangan penggoda seorang penyiar TV.
    Perkenankan aku membimbing tanganmu. Masuk-
    lah di sini yang di sana. Masakini yang di masalalu.
    Masuklah kalau kamu tak suka tata bahasa. Tolonglah
    kalau begitu, ganti bajumu dengan bajuku. Mesin
    cuci telah mencucinya setelah aku mabuk, setelah
    aku menangis, setelah aku bunuh diri 12 menit yang
    lalu. Bayangkan tubuhku dalam baju kekosongan itu.
    Tolonglah bacakan kesedihan-kesedihanmu:

    “Kemarin aku bosan, hari ini aku bosan, besok akan
    kembali lagi bosan yang kemarin.” Apa tata bahasa
    harus diubah menjadi museum es krim supaya kamu
    tidak bosan. Tolonglah. Semua yang dilakukan atas
    nama bahasa, adalah topeng api. Pasar yang
    mengganti tubuhmu menjadi mesin penghancur
    dokumen. Tolonglah, aku hanya seseorang dalam
    prosa-prosa seperti ini, seorang pelancong yang
    meledak dalam sebuah kamus. Sebuah puisi murung
    dalam mulut mayat seorang penyair. Tolonglah, tidurkan
    aku dalam kesunyianmu yang tak terjemahkan.
    Mesin penghancur dokumen yang sendirian dalam
    kisah-kisahmu.

    Jika hanya inversi model Afrizalian itu, yang anehnya kemudian banyak dianggap sebagai inovasi puitik oleh para pemujanya, lalu dengan kelewat percaya diri Afrizal Malna kemudian menawarkannya sebagai “jalan baru bagi estetika puisi dunia”, maka dengan sangat menyesal mesti saya katakan bahwa kesalahpahaman tersebut sungguh amat layak menjadi bahan tertawaan para sastrawan dunia.

    Jujur saya akui membuat racauan seperti racauan-racauan karya Afrizal Malna yang katanya “inovatif” itu bagi saya sangatlah gampang. Untuk membuat racauan-racauan seperti yang saya buat di bawah ini, saya hanya butuh dua menit menuliskan satu racauan secara otomatis dan dua menit mengeditnya. Saya sudah sering membuat racauan-racauan seperti itu, sebagai latihan saja, tapi saya tidak bilang itu puisi–apalagi puisi inovatif.

    Dalam menulis racauan seperti itu tidak perlu memikirkan apatah kalimat atau klausanya bisa berterima akal atau tidak, tidak perlu prinsip kohesi dan koherensi di dalam puisi, tidak usah pedulikan jukstaposisi dan metafora, buang itu segala anjambemen dan tipografi, tak usah pusing membaginya ke dalam larik dan bait, tidak usah pedulikan irama puitik, tidak perlu memikirkan makna diksi dan kesatuan wacana, tidak usah pedulikan soal harmonisasi majas, abaikan segala teori tentang komposisi, buang itu segala aturan soal tata bahasa, tuliskan saja langsung dari bawah sadar Anda, hantamkan, ledakkan…. dan jadilah sebuah racauan. Sebagai sebuah katarsis hal ini, saya akui, memang sangat menyenangkan. Namun, menganggapnya sebagai sebuah puisi jelas satu kekonyolan.

    Berikut beberapa “racauan 2 menit” yang saya tuliskan secara spontan berdasarkan tema yang ditentukan oleh teman-teman FB saya pada satu status saya tertanggal 20 Mei 2015. Saya menuliskan setiap racauan itu hanya dua menit dan membutuhkan dua menit juga untuk mengeditnya, jadi total yang saya butuhkan hanya empat menit untuk menuliskan satu racauan. Secara kualitas racauan-racauan saya ini boleh diadu dengan “puisi-puisi yang katanya inovatif” karya Afrizal Malna. Jika selera Anda akan parodi cukup baik, maka Anda akan mengerti maksud kalimat terakhir saya di atas.

    RACAUAN 2 MENIT TANPA KATA KERJA

    Hari ini saya sedang bir hitam. Selalu saja kebebasan seharga 12 perak. Hidup adalah payung sedikit pahit. Tebing itu sedikit hijau. Hari ini saya sedang singkong rebus. Ini agak aneh juga, kenapa singkong rebus bisa sedikit bir hitam. kenapa tidak sedang bir pletok? Tapi, Tuan pastilah angin, bukan? Angin tidak sedang bir pletok, sebab sudah wortel. Pagi ini saya adalah kentang tumbuk di dalam pesawat Garuda Airlines, juga kepalamu. Dari sini, saya sedikit hitam, sedikit langit, kemarin malam. Selamat jauh… Saya bukan ulang tahunmu. Saya hanya sedih karena bukan ulang tahunmu. Saya harus jauh, katamu. Saya tanpa kata kerja, kataku. Baiklah, katamu. Terima kasih, kataku. Saya hanya sedih dan mungkin kesedihan akan selalu seperti kata sifat yang jauh.

    —————————————

    RACAUAN 2 MENIT BUAT WAHYU SINEBAR

    A adalah B. Saya sedang latihan membaca. Sedang membaca masa kecil saya sebelum bahasa. B adalah bahasa, tapi pasar juga bahasa. Selalu pasar jadi 3 menit di kamar mandi. Bersama wastafel yang sendiri. Bahasa belum air mata, Wahyu. Bahasa hanya adalah. Saya adalah bahasa di dalam busa sabun mandi. Tapi mandi sedang bermain congklak, juga taplak, di dalam sepatu sekolahmu. Big boss yang lusuh itu. Seperti masa lalu yang sepi. Dan kini masa kecil menjelma bayang-bayang hujan 13 menit. Saya sedang bermain dengan bayang-bayang masa kecil itu, masa depan saya yang lain. Di sini kami adalah C. C yang kehilangan masa lalu. C yang menjelma cicak, cabe rawit, combro dan, mungkin juga, sedikit Cica Kuswoyo. Di mana penyanyi masa kecil kami itu, Wahyu? Apakah ia masih menyanyikan sedikit delman plus sedikit kuda yang sedikit plak-plak-plak itu? Tapi di sini, saat ini, saya nampak sedang menatap D. D dari masa lalu yang sepi. D yang sendiri. D yang diam di dalam sepatu big boss yang teronggok di sudut kamarmu. D yang selalu berdiam di dalam hatimu, D yang (juga) adalah mimpimu. Jangan bangunkan saya, Wahyu. Saya sedang sedikit di situ.

    —————————————

    RACAUAN 2 MENIT BUAT GAFURApakah lelah itu tikungan 12 malam? Saya tidak sedang jam, tentu, tak ada lagi jam malam dari masa lalu kolonial itu. Segalanya adalah raung sedih tanpa gramatika, kecuali garam dapur dari masa depan yang hujan. Apa arti hujan bagimu, ya, hujan yang gaduh itu, yang jauh itu? Kesunyian di bawah rak sepatu, malam yang membisikkan Hegel, juga kegilaan pikiran. Kami sedang domino, kami sedang catur, kami sedang bir hitam, sedikit saja. Kami tak perlu kata kerja apa pun. Kami generasi yang hening dalam kata kerja yang mengigil. Aku adalah saya, sepotong permainan dalam kata-kata–kosong semata, anteseden dari segala yang tertib, yang licin, yang mulus seperti betis gadis 17 tahun itu, yang terbakar itu, merayap di bawah kerut keningmu. Kami tak ingin tata bahasa, kami ingin luka, lebih jauh ke hamparan bunga-bunga kana, tidak, lebih jauh lagi, mungkin ke dalam laut, atau ke langit yang paling gelap–mencari identitas kami yang tak pernah ada. Saya sedang tidur, jangan mimpikan saya, Gafur.

    —————————————

    RACAUAN 2 MENIT BUAT AWAN TARIGAN

    Saya bukan awan, saya hanya hujan di dalam lemari tua itu. Angin yang tak bisa menebak arah pikiranmu, meski tak ada, tak ada angin atau hujan atau debu dalam pikiranmu, hanya langit atau cakrawala. Selalu saja gelap membuat sedang tak bisa kembali, tapi, apakah sedang yang tak bisa kembali itu, apakah kembali yang tak bisa sedang itu? Kami mungkin ladang di dalam matamu, kami bukan pak tani dan kancilnya yang pemalu, pula masa kecil yang dingin itu, seperti di sini yang selalu di situ. Kami hanya hujan tanpa awan, atau, mungkin, bukan-awan. Kami berputar seperti siklus yang tak kami sadari, kami hanya sekedip dugaan di bawah lemari tua, juga kira-kira yang kehilangan sapu tangan itu. Jangan pikirkan saya, Awan, jangan rasakan saya.

    —————————————

    RACAUAN 2 MENIT BUAT RAIHAL

    Berapa harga secangkir kopi Ulle Kareng itu, Raihal? Ah, kopi yang jauh tak lagi menyisakan sejarah kolonial. Seperti sebuah danau di tengah daratan yang sepi, dari masa silam yang tak terjangkau. Apa arti masa silam ini, selain sepotong hikayat, atau tomat yang tak bisa dipetik kecuali oleh gelap yang lain, keinginan yang memendam batu-batu di bawah sepasang telapak kaki tak dikenal, jalan yang senyap itu? Kita tak perlu kembali, katamu. Ya, kataku. Kita selalu di sini, katamu. Juga di sana, kataku. Rasa pahit itu masih sepanas dulu, Raihal, di tengah secangkir kopi itu. Masih sedikit jauh, di luar segala yang dikenal, tak ada tangan yang akan mengingat sejarah kopi sebelum jam 13 malam. Kenangan adalah sejarah yang mencoba kekal di dalam sepasang tangan lelah ini, mencoba meraih secangkir kopi yang tak pernah ada. Saya tidak sedang bangun, Raihal, saya hanya sebutir cemas yang menggigil di situ, seperti masa lalu yang tak pernah terbangun di dalam serbuk kopi itu, di dasar cangkirmu.

    3/

    Sekarang, bagaimana kita mengenali dengan tepat apa yang dimaksud inovasi atau invensi puitik itu? Saya akan memberi contoh-contoh yang bisa dikaji lebih jauh dalam konteks seni. Begini:

    Di dalam sejarah seni rupa modern dunia pada awal abad ke-20, ada hal substansial terkait warna. Di kalangan para pelukis klasik atau neoklasik, bahkan di kalangan para pelukis impresionisme sendiri, pada akhir abad ke-19, warna masih dianggap merupakan bagian dari realitas, representasi visual dari bentuk. Tetapi, satu kelompok pelukis muda di Eropa, khususnya di Prancis, mulai meninggalkan praktek-praktek konvensional terkait persoalan warna dalam lukisan. Kelompok seniman itu amat dipengaruhi oleh tokoh-tokoh pascaimpresionis seperti Paul Cezanne, Vincent van Gogh, dan Paul Gauguin. Dipimpin oleh Henri Matisse, mereka dikenal sebagai “fauves”, atau “binatang liar”, dan aliran seni lukis mereka dikenal sebagai fauvisme. Istilah fauvisme sendiri diperkenalkan oleh Louis Vauxcelles saat mengomentari pameran Salon d’Automne dalam artikelnya untuk suplemen Gil Blas edisi 17 Oktober 1905, halaman 2.

    Para pelukis fauvisme itu berani menggunakan warna-warna cemerlang secara tak lazim, dalam arti tak meniru “logika” dari warna alam, warna “yang realis” itu, tetapi memasukkan unsur emosi ketika memosisikan secara kontras warna-warna dalam kanvasnya. Misalnya, menempatkan warna merah pada gunung, warna kuning pada laut, dan warna biru untuk batang pohon. Sementara para pelukis klasik dan neoklasik atau impresionisme menggunakan warna sebagai deskripsi dari suatu objek, para pelukis fauvisme membiarkan warna itu sendiri menjadi subjek dari lukisan. Warna bukanlah diskripsi dari bentuk suatu objek, tetapi adalah esensi dari bentuk itu sendiri. Dengan kata lain komposisi warna dalam lukisan fauvisme berupaya mencari sebuah ekspresi yang unik dalam hubungan keseluruhan antara berbagai aspek komposisi pada satu lukisan. Gerakan seni lukis fauvisme ini, meski hanya berumur singkat, telah membuka jalan bagi banyak aliran seni lukis modern dunia seperti ekspresionisme abstrak, neoekspresionisme, surealisme, dll.

    Bagaimana dengan puisi? Di dalam konvensi puisi, majas perbandingan, seperti metafora misalnya, masih dianggap sebagai “deskripsi” dari ide (gagasan, tema, pesan, atau topik). Oleh sebab itu syarat dari membuat majas perbandingan yang baik ialah adanya kemiripan antara topik (ide) dengan “kendaraan metaforik” atau bentuk dari gaya bahasa yang hendak diungkapkan. Kemiripan itu merupakan keharusan. Karena itu dikatakan fungsi metafora (termasuk majas perbandingan lainnya) adalah untuk membuat gagasan yang abstrak menjadi konkrit. Hal ini berarti metafora hanyalah fungsi dari gagasan semata. Metafora hanyalah “deksripsi dari gagasan” belaka. Metafora bukanlah subjek puitik, metafora hanyalah keterangan dari subjek (yang berarti predikat) dan sama sekali bukan subjek itu sendiri. Itulah konvensi yang diterima secara akademis terkait metafora atau majas perbandingan lainnya.

    Pertanyaannya, bagaimana bila metafora atau secara lebih umum majas perbandingan atau secara lebih luas lagi seluruh jenis majas, baik perbandingan maupun pertentangan, adalah subjek puitik itu sendiri dan bukan lagi “predikat” dalam satu komposisi puitik? Bagaimana bila subjek puitik itu bukan lagi sebuah gagasan, sebuah pesan ideologis atau filosofis atau politis atau spiritual atau religius tertentu, tetapi adalah emosi itu sendiri—tepatnya rasa “haru” itu sendiri? Jawaban atas pertanyaan ini mungkin akan menjadi sebuah inovasi dalam puisi. Tak ada inovasi dalam puisi tanpa pemahaman yang benar terhadap konvensi puisi.

    Sebuah lukisan kolase guntingan kertas karya pelopor fauvisme dari Prancis, Henri Matisse, berjudul “The Fall of Icarus”, dengan puitis melukiskan presensi dari keharuan itu. Ketika sayap-sayap Icarus terbakar oleh cahaya matahari, ia pun terjatuh dari angkasa. Namun, ketika jatuh dari keluasan angkasa itulah hati Icarus justru menyala, menjadi bintang merah. Warna merah menyala dari hati Icarus merupakan ekspresi dari emosi. Warna merah adalah subjek dari emosi itu sendiri, dan bukan deskripsi dari bentuk hati Icarus atau bentuk bintang. Hal yang senada juga dapat dibaca dalam puisi Iswadi Pratama (penyair dan sutradara teater dari Lampung) yang berjudul “Amadeus: Lacrimossa” dalam kumpulan puisi “Harakah Haru” (April 2015), berikut ini:

    AMADEUS: LACRIMOSSA

    bukit-bukit es, jalanan berangin
    empat lelaki menguburmu tanpa requiem

    sebuah sekop berkarat di tepi
    salju diseduh sedih di pangkal pagi

    di lembar-lembar partitur itu
    mengering luka bekas perihmu

    di dinding-dinding kota Wina
    nyaring tawamu tak lagi menggema

    toksin menggerusmu hari demi hari
    seperti sebuah nada terhapus dari komposisi

    Salieri, Salieri…
    “bila Tuhan tak memberkati, kupilih berkatku sendiri”

    Subjek puitik dalam puisi ini bukanlah “Amadeus Mozart” atau “Antonio Salieri”, sang “-ku” atau sang “-mu”, dua komponis besar di Wina pada abad ke-18 yang saling berseteru, melainkan “rasa haru” untuk keluar dari sebuah situasi batas—bisa kematian, bisa kegagalan, atau pahitnya penderitaan hidup, atau, mungkin juga, kegelapan dari religiusitas itu sendiri. Keharuan itulah yang menjadi subjek puitik, menjadi latar-sugestif yang memecah dirinya ke dalam aku-lirik, aku-objek, maupun aku-pembaca di dalam puisi Iswadi Pratama ini. Rasa haru itulah yang menjadi “warna” dari puisi ini, sebuah subjek puitik yang liar namun mampu membangkitkan simpati, setara dengan warna merah dari hati Icarus yang tengah melayang jatuh ke laut di dalam lukisan kolase Henri Matisse, warna keharuan yang menyala dalam banyak puisi-puisi Iswadi Pratama, warna yang kini mungkin telah mendingin dalam banyak puisi-puisi modern atau kontemporer pada abad ke-21.

    Lebih jauh lagi, puisi Iswadi Pratama tersebut berhasil keluar dari “jebakan” melankoli (yang seolah telah menjadi semacam konvensi dalam puisi lirik di Indonesia), karena puisi ini berhasil menempatkan keharuan sebagai subjek puitik menjadi persoalan situasi batas eksistensial yang mengajak pembacanya mengalami transendensi: “bila tuhan tak memberkati, kupilih berkatku sendiri”. Tentu saja, pernyataan itu (pernyataan siapa: Amadeus Mozart atau Antonio Salieri?) bukanlah ekspresi transendensi yang biasa. Dengan kata lain, berhasil atau tidaknya “ajakan” dari penyataan puitik tersebut, tergantung pada tingkat kesadaran pembaca puisi ini.

    4/

    Sekarang, saya akan berikan contoh inovasi lainnya terkait sintaksis puitik. Perhatikan kalimat berikut ini dan perhatikan juga argumentasinya:

    “Dingin membuka jendela kamarmu.”

    Apa makna kalimat di atas? Apakah dingin yang merupakan kata sifat dari benda itu, atau metafora dari perasaan yang dingin misalnya, bisa dipersonifikasikan menjadi subjek? Tidakkah subjek dari personafikasi itu haruslah kata benda juga (baik konkrit maupun abstrak), bukannya kata sifat? Bagaimana mungkin kata sifat bisa menjadi subjek setelah dipersonafikasi?

    Namun, hal tersebut tidaklah serumit yang dibayangkan. Sintaksis puitik di atas adalah salah satu dari jenis sintaksis impresionistik. Kata benda yang menjadi subjek (misalnya kata ganti diri “kau” atau kata benda “tangan” atau “angin”) dikaburkan dengan hanya menghadirkan impresi sifat dari kata benda itu saja, “dingin” itu saja. Bila hendak dihadirkan secara utuh, maka kalimat di atas akan menjadi kalimat berita biasa atau kalimat yang mengandung majas personifikasi belaka atau, bisa juga, kalimat yang bernuansa sastra gothik atau realisme magis. Misalnya: “sepasang tangannya yang dingin membuka jendela kamarmu” (kalimat berita biasa); atau, “angin dingin itu membuka jendela kamarmu” (kalimat yang mengandung majas personafikasi); atau, “tatapan dinginnya tiba-tiba membuka jendela kamarmu” (kalimat yang mengandung nuansa sastra gothik atau realisme magis). Namun, ketika hanya sifat “dingin” dari “tangan” atau “angin” atau “tatapan mata” yang dihadirkan, maka kalimat itu menjadi sintaksis impresionistik: “Dingin membuka jendela kamarmu.

    “Apa tujuan dari “pengaburan subjek” dalam sintaksis puitik impresionis itu? Apakah hanya untuk menciptakan kegelapan? Tentu saja tidak. Kekaburan dalam sintaksis impresionistik tidaklah dimaksudkan untuk menciptakan kegelapan, tetapi untuk membuka ruang persepsi yang lain dalam benak pembaca, di mana subjek sintaksis puitik itu tidak mesti suatu subjek tunggal yang solid, yang telah pasti, seperti kata benda itu, tetapi juga bisa hanya sifat dari kata benda itu sendiri untuk menunjukkan suatu “proses”. Dengan demikian subjek puitik menjadi terbuka untuk menghadirkan berbagai kemungkinan subjek yang lain di dalam sintaksis puitik, misalnya subjek-subjek yang diciptakan oleh pembaca di dalam benaknya.

    Dengan demikian, kata sifat, jenis kata yang amat ditakuti oleh sastrawan Mark Twain itu, telah diberikan tempat yang sejajar dan sama pentingnya dengan jenis kata lainnya dalam sintaksis puitik impresionis.

    Konsep sintaksis impresionistik ini saya temukan dan rumuskan pada awal bulan April 2015 setelah saya membaca soal kata sifat yang merupakan “presensi kata benda” dalam bahasa Sansekerta, sebab dalam bahasa Sansekerta memang tak dikenal jenis kata benda yang terasing dari benda lain atau lingkungannya. Kata sifat merupakan “proses” yang ditangkap oleh persepsi inderawi terhadap benda-benda di sekitarnya.

    5/

    Sering kali dunia sastra kita (terutama yang bergenre puisi) melupakan hal-hal mendasar dalam ilmu bahasa sebagai media ekspresi seninya. Contoh, banyak yang mengklaim dirinya sastrawan atau penyair di Indonesia, tapi tak paham hal-hal mendasar dalam ilmu bahasa (linguistik). Salah satunya adalah soal sintaksis.

    Puisi pada dasarnya adalah sintaksis (ilmu tentang kalimat dalam linguistik). Satuan dasar dalam puisi adalah “sintaksis puitik”, bukan kata. Sintaksis puitik dapat berupa frasa, klausa, dan kalimat. Pertama, seorang penulis puisi harus tahu dan terampil bagaimana menyusun sintaksis dengan benar. Kedua, barulah setelah itu seorang penulis puisi belajar membuat “sintaksis puitik” dengan tepat. Bukan seperti yang dicontohkan Afrizal Malna dalam racauan-racauannya yang diklaim sebagai inovasi dengan basis kesalahan sintaksis puitik.

    Salah satu buku linguistik terbaik dalam bahasa Indonesia ditulis oleh Prof. Abdul Chaer, judulnya adalah “Sintaksis Bahasa Indonesia: Pendekatan Proses”. Buku ini tak hanya memindahkan teori sintaksis dari Barat, tetapi juga telah menerapkannya dalam konteks bahasa Indonesia.

    Jadi, jangan omong yang besar-besar dulu soal hakikat seni, estetika, atau pendekatan pascastruktural kalau membuat kalimat saja tidak benar alias ngawur. “Licentia Poetica” tidak lahir dari ketidakpahaman hal-hal mendasar, apalagi kengawuran, tetapi lahir sebagai sebuah “kreativitas” dari bentuk-bentuk yang telah ada di dalam puisi.

    Yang diandalkan di dalam racauan bukan koherensi atau kohesi secara teoritis, tapi kejutan-kejutan. Inovasi–baik dalam seni maupun sains–bukanlah kejutan. Namun, “konsep” yang berhasil dibuktikan. Kejutan dalam inovasi hanyalah efek sekilas akibat kita tidak akrab dengannya, tapi yang justru penting adalah “pembuktiannya”. Racauan bukanlah inovasi, karena racauan tak akan bisa “dibuktikan”.

    Kenapa seni yang tak bertolak dari konsep, dari konvensi (inovasi baru ada setelah konvensi ada), disebut racauan? Karena racauan memang tak akan bisa dibuktikan. Kenapa? Karena senimannya sendiri tak tahu apa itu konsepsi artistik. Seniman di Indonesia senangnya buat yang aneh-aneh, senang sekali buat kejutan, padahal kejutannya itu lahir dari ketidakpahaman akan konvensi alias kengawuran.

    “Goblok saja tidak cukup untuk menjadi penyair di Indonesia!” Itu mesti jadi semboyan baru dalam dunia puisi Indonesia kontemporer bila ingin maju.

    —————————————————-
    Prosa @ Ahmad Yulden Erwin​, Mei 2015
    —————————————————-

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here