More

    Teror Buku di Kampus Unas

    Ahmad Fauzan Sazli

    20 03 2013 Teater Ghanta

    Candra, mahasiswa Unas, mahasiswa pegiat teater Ghanta di selasar, Universitas Nasionalm Jakarta, (20/02/2013). FOTO : AHMAD FAUZAN SAZLI

    - Advertisement -

     

    Suasana sore di selasar Universitas Nasional (Unas) Jakarta, penuh dengan mahasiswa. Sebagian mahasiswa hilir mudik dan sebagiannya lagi duduk di lantai.

    Di tengah ramainya selasar kampus Unas. Chandra, seorang mahasiswa Unas membawa rak buku dan menjajakannya kepada mahasiswa lain di sekitar selasar Unas.

    “Anda mau beli buku?” tanyanya kepada mahasiswa. Namun mahasiswa yang ditawari buku tersebut cuek. Begitupun mahasiswa lainnya.

    Kemudian buku yang berada di atas rak, dibuang satu persatu. “Sudah bencikah kalian dengan buku?” Teriak Candra.

    Sontak Candra menjadi perhatian mahasiswa yang lalu lalang di selasar itu. Bahkan sebagian mahasiswa berhenti kaget.

    Kemudian Candra melanjutkan berteriak, “Bila mahasiswa tak suka membaca buku, pulang saja ke rumah tidak usah kuliah. Wisuda pada tujuh April batal,” katanya.

    Kemudian Faris Asjaka, dari belakang memunguti satu persatu buku yang berserakan. “Di lingkungan pendidikan seperti ini tidak ada seorang pun yang membaca buku,” katanya.

    Faris pun kemudian menduduki buku-buku tersebut dan mengatakan, “Laptop dan Blackberry yang harganya berjuta-juta bisa dibeli. Semetara buku yang hanya Rp. 50.000 tak mampu dibeli.”

    “Buku itu penting,” kata Faris dengan geram.

    Percakapan dua mahasiswa di selasar Unas tersebut merupakan pertunjukkan yang digelar oleh teater Ghanta Unas. Dalam pertunjukannya mereka ingin mengkritisi kondisi mahasiswa Unas yang jarang bersentuhan dengan buku.

    “Mahasiswa Unas jarang sekali bersentuhan dengan buku. Minat membaca buku mahasiswa kurang,” kata Adil penggagas pertunjukkan.

    Menurut Adil, bahwa pertunjukan ini ingin menteror mahasiswa lain untuk membaca buku. “Banyak mahasiswa lebih suka nongkrong dan main game setelah pulang kuliah. Kami tidak suka dengan keadaan ini,” kata Adil.

    Pertunjukkan yang berlangsung 30 menit ini berjaan tanpa panggung dan latar. Para pemain juga interaktif dengan mahasiswa lain. Bahkan seorang laki-laki paruh baya protes dengan pertunjukkan buang-buang buku tersebut. Begitu pun mahasiswa lain, mereka terlihat kaget saat ditawari buku serta diteriaki sebagai mahasiswa yang tidak peduli dengan buku.[]

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here