More

    Lika-Liku Ayam Kampus Freelance di Depok

    Ahmad Fauzan Sazli

    08 03 2014 Ayam Kampus

    Malam itu saya membuat janji dengan salah satu Ayam kampus di Kota Depok. Kami berjanji bertemu di salah satu restoran yang tak jauh dari sebuah kampus yang ada di sana. Kami bisa bertemu karena diperkenalkan dengan seorang kenalan yang dekat dengan si ayam kampus tersebut.

    - Advertisement -

    Tanpa ba bi bu, setelah memarkirkan motor, saya pun  lansung menghampiri dia. Untuk menutupi namanya saya akan menyebutnya dengan panggilan Cinta.

    Cinta adalah mahasiswa tingkat akhir jurusan Komunikasi, di sebuah Perguruan Tinggi di Kota Depok. Cinta memiliki kulit putih dengan tinggi 160 sentimeter.

    Sambil meneguk air putih, Cinta bercerita, bahwa dirinya menjadi ayam kampus sejak semester satu. Namun lebih jauh dari itu pekerjaan menjual diri tersebut dilakukannya sejak menginjak bangku SMA.

    “Waktu kelas dua SMA saya pernah menjadi simpanan pria beristri. Kemudian kami berpisah saat saya menginjak kelas tiga,” kata Cinta tersenyum.

    Menurutnya, saat itu ia diberi uang jajan mencapai lima juta rupiah setiap bulannya. Cinta yang saat itu menjadi siswa salah satu SMA di Depok ini juga diberi fasilitas ngekos gratis oleh pria berusia 37 tahun tersebut.

    Pengalaman ini pun berlanjut di bangku kuliah. Cinta mengaku, justru di bangku kuliah ia merasa lebih bebas melakukan pekerjaan tersebut. Pasalnya, ketika harus bersama pelanggan, ia bisa berdalih menyelesaikan pekerjaan kuliah di rumah teman kepada orang tuanya.

    “Saya jual aktivitas kampus ke orang tua saya kalau lagi ada yang booking,” kata mahasiswi berkaca mata ini.

    Cinta menjelaskan, ia menjual dirinya kepada lelaki hidung belang melalui temannya. Temannya itu merupakan germo. Ia akan menghubungi germo tersebut ketika sedang membutuhkan uang.

    “Saya akan bilang ke dia, kalau saya lagi butuh uang melalui SMS. Artinya saya minta dicarikan Gadun atau lelaki hidung belang diatas usia 30,” ungkapnya.

    Meski ia selalu meminta bantuan germo, Cinta mengaku tak ingin terikat dengan germo. Pasalnya uang dari pelanggan sebagian besar akan diambil germo.

    “Saya pernah ditawari germo dengan penghasilan satu harinya 3 juta rupiah, namun saya harus melayani 10 laki-laki setiap harinya,” ungkapnya.

    Anak pertama dari tiga bersaudara ini mengungkapkan, biasanya ia mencari pelanggan sebulan sekali. Tarif yang ditawarkan adalah sebesar 1.5 juta rupiah. Harga tersebut untuk sekali berhubungan intim. Dan biasanya ia melakukan itu hanya satu jam di sebuah hotel.

    “Saya ngga ingin berlama-lama, karena saya cuma butuh duit,” katanya sambil menghabiskan air mineral.

    Cinta mengaku, ia melakukan hal itu hanya untuk uang. Uang itu digunakan untuk bersenang-senang, seperti nongkrong dan karaoke. Sementara untuk biaya kuliahnya sendiri, Cinta masih dibiayai oleh orang tuanya.

    Mahasiswi yang tinggal di Depok ini juga mengaku,  tak masalah mendapat predikat sebagai ayam kampus. Apalagi tak banyak mahasiswa yang tahu  pekerjaan sampingannya itu.

    “Saya ngga ada beda dengan mahasiswa lain. Tak ada tanda-tanda khusus kalau saya ini ayam kampus,” katanya.

    Meski menjadi ayam kampus, diluar pekerjaan sampingannya tersebut, IPK Cinta terbilang tak mengecewakan. Pada semester kemarin ia berhasil memperoleh IPK. 3.16.

    “Kalau IPK saya kecil, biaya kuliah bisa diberhentikan orang tua,” kata Cinta.

    Sudah satu jam saya ngobrol asik dengan Cinta. Mahasiswi yang menggunakan kerudung hitam, baju garis-garis hitam ketat, celana hitam dan  sepatu kulit berwarna hitam ini tak sungkan menjawab pertanyaan apa saja dari saya.

    Saat saya tanya, kenapa ia menggunakan Jilbab? Sambil menghisap rokok Marlboro, Cinta mengatakan bahwa dia ingin berubah sedikit-sedikit.

    “Saya pinginnya ngejablai aja, ngga pake hubungan intim,” kata Cinta yang bercita-cita menjadi pengusaha toko coklat ini.

    Selanjutnya, Cinta menuturkan, bahwa ayam kampus di kampusnya cukup banyak. Mereka ada yang berkelompok dan juga tidak berkelompok seperti dirinya. Mereka juga ada di setiap kampus di seluruh Depok.[]

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here