More

    LawangBuku, Saksi Literasi 15 Tahun yang Penuh Liku

    IMAN HERDIANA

    Sejarah buku di Bandung memiliki catatan panjang, diwarnai jatuh bangunnya bisnis buku, hingga pembubaran diskusi buku oleh pihak-pihak anti-literasi.

    Deni Rachman, pengelola LawangBuk, salah satu saksi penting dinamika dunia buku dan literasi di kota Bandung. FOTO : FRINO BARIARCIANUR
    Deni Rachman, pengelola LawangBuku, salah satu saksi penting dinamika dunia buku dan literasi di kota Bandung. FOTO : FRINO BARIARCIANUR

    “Bisnis buku dari 2000 sampai sekarang miris, itu potretnya. Ada yang tumbuh ada yang mati. Tapi harapannya buku tetap hidup,” kata Deni Rachman, pengelola LawangBuku, di Kafe Kaka, Bandung, saat acara Jungkir Balik, Desember 2016 lalu.

    - Advertisement -

    Januari ini, LawangBuku genap berusia 15 tahun, bukan waktu singkat bagi perjalanan toko buku alternatif. Terlebih bagi sebagian orang, buku beda dengan sembako yang dibutuhkan setiap harinya.

    Tapi bagi sebagian orang lagi, buku sepenting sembako. Buku adalah media literasi santapan batin. Untuk itulah toko buku alternatif seperti Lawang Buku ada.

    Deni Rachman mengatakan, pada awal berdirinya pada 2001, LawangBuku menyediakan buku-buku sastra dan sejarah. Diawali dengan membuka lapak di kampus-kampus, antara di IAIN SGD (sekarang UIN), maupun di sekolah, pasar mingguan Lapangan Gasibu bersama ratusan PKL, hingga di Pusdai, Jalan Diponegoro.

    Di awal pendiriannya, Deni Rachman melalui LawangBukunya menghadapi semacam uji nyali daripada mencari untung. Tak jarang, ia bertemu dengan mahasiswa juniornya. Malu, memang.

    “Periode awal itu masa senang dagang, sering bertemu mahasiswa angkatan bawah. Jadi semacam uji mental ketemu orang, ketemu juga relasi penerbit dan lain-lain,” cerita alumnus ilmu kimia Universitas Padjdjaran (Unpad) angkatan 98 ini.

    Pada masa awal ini, LawangBuku banyak menjual buku-buku bertema pascareformasi 1998, antara lain tema-tema sejarah dan sastra yang dibungkam semasa Soeharto. Buku-buku kiri dan kajian filsafat membanjir.

    Suatu hari, ia pernah membuka lapak buku di kawasan Jalan Diponegoro. Salah satu buku yang dijual adalah novel Saman, Ayu Utami. Namun ada pihak yang meminta buku tersebut tak dijual. Pengalaman lain, selama ngelapak ia memanfaatkan kosannya sebagai
    gudang buku, lalu pindah dari satu kosan ke kosan lain. Pernah juga kebanjiran, buku-bukunya dievakuasi ke kosan saudara.

    Seiring waktu, relasi mulai terbangun, antara lain dengan toko-toko buku alternatif beserta komunitas baca yang dipelopori Tobucil.

    LawangBuku kemudian turut terlibat atau jadi ‘saksi’ pasang surut geliat literasi di Bandung berikut sejumlah peristiwa yang menimpanya. Pada 2003-2009, LawangBuku menjadi distributor dan mengelola agen literasi Dipan Senja.

    Kerja sama ini menjadikan LawangBuku pemasok buku-buku ke seluruh toko buku alternatif di Bandung yang tumbuh bak cendawan di musim hujan. Sebut saja Tobucil, Omuniuum, Rumah Buku, Awi Apus, Pustakalana, Ultimus, Malka, Das Mutterland, dan Reading Light.

    LawangBuku juga mengirim bukunya ke pasar buku terbesar di Bandung, Palasari, Pasar Buku Suci, sejumlah toko buku besar, hingga toko buku di Jawa Barat, Yogyakarta, dan Surabaya.

    LawangBuku mengikuti pameran buku bersama IKAPI Jawa Barat dan DKI Jakarta, meramaikan event buku alternatif seperti Books Day Out, Pasar Buku Sabuga, Stok Buku Bandung di Gedung Indonesia Menggugat, dan lain-lain.

    Pekan Literasi Kebangsaan di Gedung Indonesia Menggugat, 1 – 7 Desember 2016. Salah satu agenda gerakan literasi yang digagas oleh berbagai komunitas di kota Bandung. FOTO : FRINO BARIARCIANUR
    Pekan Literasi Kebangsaan di Gedung Indonesia Menggugat, 1 – 7 Desember 2016. Salah satu agenda gerakan literasi yang digagas oleh berbagai komunitas di kota Bandung. FOTO : FRINO BARIARCIANUR

    Pada 2006, peristiwa memilukan menghantam geliat literasi di Bandung. Sebuah diskusi Marxisme yang digelar Toko Buku Ultimus dibubarkan ormas kepemudaan. Deni Rachman mencatat, beberapa kawan diskusinya digiring ke Polwiltabes (sekarang Polrestabes) untuk dimintai keterangan.

    Sejak insiden itu, diskusi-diskusi kritis di Bandung perlahan redup. “Sejak itu senyap,” kata pria berkacamata ini.

    Masa tersebut diikuti redupnya bisnis perbukuan di Bandung (2008-2009), banyak toko buku alternatif gulung tikar, termasuk sejumlah toko yang dipasok LawangBuku. LawangBuku sempat bangkrut.

    Toko buku yang berjatuhan itu antara lain Bacabaca Bookmart, Malka, Das Mutterland, Jaringan Buku Alternatif, Toko Buku Kaseundeuhan, dan toko buku lainnya di di Jatinangor, Bandung, Cimahi.

    Sedangkan toko buku yang bertahan adalah Tobucil, Ultimus, Omuniuum, Kineruku (dulu Rumah Buku), dan LawangBuku sendiri yang kembali ke bisnis toko buku, tidak lagi distributor. Beberapa toko mengubah arah bisnisnya, tak lagi murni jualan buku.

    Fase 2010, Fase Media Sosial
    Setelah mengalami kebangkrutan, Deni Rachman tak kapok. Ia merintis bisnis bukunya lewat jalur online (Facebook). Modal awal pengadaan buku didapat dari hasil penjualan buku karya Pramoedya Ananta Toer.

    “Hampir 30 judul. Meski degdegan juga. Kebayang, kan, kalau sekarang tiga judul buku Pram saja bisa dua jutaan,” katanya.

    Fase 2010, pelapak online masih terbatas. Baru pada 2013, pelapak online mulai menjamur, terutama di Facebook. Terlebih buka toko di Facebook bisa memangkas biaya sewa toko atau sewa stand pameran buku yang mahal, sedangkan hasilnya tak sebanding dengan harga sewa.

    Fenomena online mengubah pola perbukuan di Bandung, khususnya menghilangkan keunikan toko buku alternatif (offline), yakni gerakan literasi berupa partisipasi atau interaksi penjual dan pembeli.

    Pola unik itu bisa dilihat pada masa 2000-2009 di mana banyak tumbuh aktivitas literasi berupa klab baca dan menulis, misalnya Klab Baca Tobucil, Komunitas Menulis Mnemonic di Wabule, aktivitas menulis di Malka, dan Asian African Reading Club Museum KAA.

    Yang baru dari periode 2010, adalah, munculnya gerakan literasi berbasis sejarah. Ini didahului Komunitas Aleut dan Bandung Trail, kemudian diikuti komitas lainnya. Ada pula Komunitas Taman Kota yang beberapa kali menggelar bedah buku di sejumlah taman kota.

    Pada awal 2016, LawangBuku dan Komunitas Ulin menghidupkan kembali Stok Buku Bandung yang pernah digelar 2006, namun hanya jalan sampai pertemuan ke-3. Lagi-lagi badai datang menerjang. Pada 2016 pula terjadi peristiwa mengejutkan bagi dunia literasi, yakni tutupnya toko dan perpustakaan Reading Light. Sebelumnya, Toko Buku Djawa, Jalan Braga, yang legendaris, juga tutup.

    LawangBuku yang sudah lima tahun membuka toko di Town Square (Baltos), juga mengalami nasib serupa. LawangBuku kembali ke jalur online dan event-event buku saja. Hal ini tak lepas dari tingginya harga sewa toko, sementara omzet lebih sering turun.

    Seolah melengkapi derita perbukuan, tahun itu muncul pelarangan terhadap peredaran buku-buku kiri. Zaman seakan berputar kembali ke era Orde Baru yang doyan memberangus buku.

    Pelarangan itu melahirkan protes dan pernyataan bersama pecinta literasi yang dilanjutkan sejumlah diskusi yang mengkritisi sikap pemerintah dan aparat. Peristiwa yang menihilkan budaya baca itu disusul aksi anti-literasi yang menimpa komunitas Perpus Jalanan Bandung. Komunitas yang biasa membuka lapak perpustakaan saban malam Minggu itu dibubarkan militer.

    Berbeda dengan peristiwa pembubran diskusi Marxisme di Ultimus satu dasawarsa silam yang sepi dukungan, pembubaran Perpus Jalanan Bandung memicu gelombang solidaritas dari pelaku perbukuan maupun masyarakat.

    Pembubaran direspons sejumlah diskusi kritis di kampus-kampus hingga pernyataan sikap bersama masyarakat sipil di Jalan Dago (Ir H Djuanda), lokasi yang jadi lapak Perpus Jalanan Bandung.

    Pembubaran Perpus Jalanan Bandung viral di media sosial hingga ‘memaksa’ Wali Kota Bandung dan Wakil Gubernur Jawa Barat—yang gemar main medsos—menyatakan menyesalkan pembubaran itu.

    “Beda dengan pembubaran diskusi Ultimus yang sepi pengawalan publik. Pembubaran kali ini dikawal solid,” tutur Deni Rachman.

    Ia berharap, 2017 ini gerakan literasi di Bandung semakin solid. Aksi-aksi anti-literasi apa pun bentuknya, diharapkan cukup menjadi catatan masa lalu saja. []

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here