More

    Bersama Tuna Netra Merasakan Nonton Bioskop Sesungguhnya

    Menonton di bioskop mungkin adalah hal yang biasa bagi banyak orang. Namun tidak bagi Tuna Netra. Apalagi selama menonton film di bioskop, mereka ditemani visual reader (pembisik) yang membuat para tuna netra merasakan pengalaman nonton di bioskop sesungguhnya.

    Komunitas Bioskop Harewos menggelar nonto bareng tuna netra di Bioskop CGV, Pasir Kaliki, Bandung, Sabtu. (13/05/2017). Foto : AHMAD FAUZAN

    Kegiatan nonton film bareng sahabat tuna netra ini digelar oleh komunitas Bioskop Harewos di CGV Cinemas, Paskal Hyper Square – Bandung. Dalam kesempatan tersebut, mereka menonton film keluarga “Surau Dan Silek”, film berbahasa Minang karya sutradara Arief Malinmudo.

    Ada sebanyak 40 sahabat tuna netra yang ikut nonton bareng film ini. Selama 90 menit, mereka ditemani oleh sebanyak 30 volunter yang menjadi visual reader atau jadi pembisik selama menonton.

    - Advertisement -

    Salah satu sahabat tuna netra yang ikut nonton bareng adalah Sofwan (18), mahasiswa semester dua STKIP Cimahi. Selama menonton, Sofwan ditemani visual reader bernama Nita. Nita bertugas menjelaskan adegan demi adegan serta dialog kepada Sofwan.

    “Filmnya seru. Film ini tentang anak-anak di Minangkabau yang sangat semangat belajar silat. Film ini juga ngomongin bahwa silat Minangkabau tidak bisa dilepaskan dari shalat shawalat,” kata Sofwan menceritakan film yang ia tonton kepada KabarKampus, Sabtu, (13/05/2017).

    Menuruf Sofwan, nonton film bareng seperti ini membuatnya lebih detil memahami cerita film. Berbeda bila menonton film audio visual seorang diri.

    “Dulu saya biasa nonton film audio di rumah seperti film Harry Potter dan sebagainya. Kali ini bioskop beneran sama didampingi lagi,” kata Sofwan.

    Selain Sofwan, ada Ade yang juga menyandang tuna netra. Meski bukan pertama kali merasakan diajak nonton dan ditemani nonton di bioskop, ia mengaku senang. Selain ramai, ia merasa lebih mengerti mengenai alur cerita pada film.

    “Kalau nonton sendiri ceritanya terbatas. Kalau nonton berdua ada yang ngejelasin. Jadi ngerti alur ceritanya bagaimana. Pokoknya asik dan susah dijelaskan,” kata Ade yang saat ini mengikuti kursus keterampilan di Wyata Guna Bandung.

    Bioskop Harewos sendiri merupakan social movement yang mengajak sahabat netra di Bandung nonton film bersama dengan para relawan pembisik. Komunitas ini berdiri pada September 2015 dan telah empat kali menggelar kegiatan nonton bareng sahabat tuna netra.

    Dita Widya, salah satu penggagas Bisokop Harewos menjelaskan, kegiatan ini digelar karena ingin memfasilitasi sahabat tuna netra sesuatu yang membahagiakan mereka. Lewat kegiatan bioskop Harewos, mereka bisa berbagi rasa, warna, film lewat imaginasi dan interaksi.

    “Imaginasi sahabat tuna netra akan semakin luas dengan cara nonton seperti ini. Mereka jadi tidak menerka-nerka adegan-adegan yang mereka tonton,” ungkap Dita.

    Selain itu, Dita menambahkan, dengan adanya visual readet atau pendamping, pendamping bisa menjelaskan adegan demi adegan. Seperti adegan orang sedang membaca koran. Peristiwa ini tidak bisa ditangkap oleh tuna netra.

    “Selain itu, tuna netra yang ngga bisa ngeliat, memiliki pendengaran yang tajam. Jadi lebih nyaman buat mereka bila nonton di bioskop,” ungkap Dita.

    Dita mengaku lewat kegiatan ini mereka bisa memuka dunia tentang tuna netra. Bahwa keterbatasan tuna netra sebenarnya adalah tanpa batas. “Aku pingin menunjukkan hal tersebut ke dunia sana,” jelas Dita.[]

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here