More
    Home RUPA KISAH Hidup Seorang Diri di Kota "Mati" Wuhan

    Hidup Seorang Diri di Kota “Mati” Wuhan

    Humaidi Zahid. Dok. @humaidiz

    Apa rasanya tinggal di sebuah kota mati seperti Wuhan, China? Kata yang paling tepat untuk menggabarkannya adalah sedih.

    Seperti itulah perasaan Humaidi Zahid atau yang akrab disapa Omed, mahasiswa Indonesia yang tengah melanjutkan studi S2 Jurusan Linguistik di Central China Normal University, Wuhan. Omed merupakan satu dari tujuh Warga Negara Indonesia (WNI) yang masih tertinggal di kota asal muasal Virus Corona.

    Pada saat pemerintah Indonesia melakukan evakuasi pada 2 Febuari lalu, ia salah satu WNI yang ikut ke Bandara. Namun ia tidak bisa dievakuasi ke Indonesia, karena mengalami batuk. Omed pun harus rela ditinggal teman-temannya dan kembali ke asrama.

    - Advertisement -

    Sejak saat itu Omed menghabiskan hari-harinya di asrama. Sesekali dia mengunggah kegiatannya di asrama di akun instagramnya @humaidiz.

    “Saya pas itu lebih dari sedih. Mental saya itu ndumplang. Ingin nyebur ke sumur,” kata Omed mengungkapkan perasaan ketika tak bisa pulang ke Indonesia seperti video yang diunggah laman VOA Indonesia.

    Omed yang setiap hari berada di asrama ini, mengaku kesepian. Ia sering mengetuk pintu kamar di sekitar asrama, karena ingin merasakan keberadaan makhluk hidup di sekelilingnya. Bahkan ia ingin merasakan ada makhluk halus untuk menjadi teman.

    Omed mengaku, Minggu pertama berada di asrama membuatnya merasa seperti jasad yang tidak bernyawa. Hal itu membuatnya semakin nafsu beribadah. Ia mulai shalat dan mengaji untuk membuat hatinya terisi.

    Meski demikian, Omed tetap dihantui perasaan takut. Setiap hari korban virus corona terus bertambah. Ia pun setiap hari harus tes suhu. Sakit sedikit akan dituduh terjangkit virus corona.

    Meski demikian kebutuhan primer Omed terpenuhi. Kampusnya menyediakan makan untuknya sehari tiga kali.

    Dukungan Untuk Omed

    Unesa sebagai kampus almamater Omed kerap memberi dukungan untuk alumninya tersebut. Nurhasan, kepala Humas Unesa kerap melakukan panggilan video call untuk memotivasi Omed agar optimis.

    Pihak Unesa juga sudah memberikan bantuan dana kepada Omed untuk memenuhi kebutuhannya selama berada di Wuhan. Dalam waktu dekat, Nurhasan merencanakan kunjungan ke Lamongan (rumah Omed) untuk memberikan motivasi kepada keluarga Omed yang tidak kalah drop melihat kondisai anaknya yang harus hidup terisolasi di wilayah pusat persebaran virus corona.

    Selain itu, pihak Unesa juga sudah berkoordinasi dengan KBRI untuk upaya pemulangan Omed. Hal tersebut juga didasarkan pada kondisi psikis Omed yang pasti drop, apalagi korban virus corona semakin bertambah.

    “Dalam waktu dekat ini, kita akan adakan kunjungan ke rumahnya (Lamongan). Untuk menguatkan keluarganya, memberikan motivasi,” ujar Nurhasan.

    Omed mengaku suhunya tubuhnya setiap hari berkisar 36,6 derajat celcius. Ia pun dinyatakan negatif virus corona.

    Omed berharap bisa kembali bersama keluarga. Ia juga tidak hentinya berdoa, agar semua yang dialaminya segera berlalu.

    “Saya mencoba ikhlas di sini (Wuhan), saya mencoba menerima meski saya juga ingin ada di tengah keluarga. Saya harap semua segera berlalu,” ujar Omed kepada Nurhasan.[] 

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here