More
    Home KREASI FILM Memahami Isu Kesetaraan Gender Lewat Film Disney: Mulan

    Memahami Isu Kesetaraan Gender Lewat Film Disney: Mulan

    Ilustrasi film animasi “Mulan”

    Dari sekian banyak film animasi garapan The Walt Disney Company, ada satu yang jadi favorit Saya. Judulnya adalah Mulan, dirilis pada tahun 1998. Pertama kali saya menonton Mulan saat duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Setelah menonton, yang Saya pahami saat itu hanya Mulan merupakan sosok putri yang menawan. Sedangkan, secara jalan cerita dan makna yang terkandung, belum betul-betul dipahami.

    Ketika semakin dewasa, saya menonton ulang fim tersebut dalam rangka nostalgia. Tapi, saya malah menemukan hal menarik lainnya. Yakni, tentang kesetaraan gender yang digambarkan dengan latar cerita kekaisaran Cina. Di mana budaya patriarki masih melekat pada masyarakat yang merugikan tidak hanya perempuan tapi juga laki-laki.

    Sinopsis

    Dikisahkan bahwa Mulan merupakan anak perempuan dari keluarga Fa. Mulan hidup pada zaman dimana perempuan dituntut cepat menikah supaya menjadi kebanggaan bagi keluarga. Hal yang sama menimpa Mulan, sehingga ia diikutsertakan dalam sesi pencarian jodoh di desanya. Namun hasilnya nihil, karena Mulan yang tidak feminim itu menggagalkan perjodohannya sendiri.

    Suatu hari, Kaisar memerintahkan perwakilan laki-laki dari tiap keluarga di China menjadi bala tentara, untuk menghadapi musuh besar yang mengancam kekaisaran saat itu. Ayah Mulan adalah satu-satunya laki-laki yang ada di keluarga, sehingga Dialah yang harus maju sebagai tentara. Meski kondisi kesehatannya buruk karena sudah lanjut usia.

    Melihat itu, Mulan tidak tega jika harus melepas Ayahnya berperang. Oleh karena itu, Dia memutuskan untuk menggantikan Ayahnya dengan berpura-pura menjadi anak laki-laki. Sungguh pilihan yang penuh risiko. Tidak hanya tentang marabahaya yang menanti di medan perang, tapi juga pandangan negatif dari masyarakat jika tahu Mulan nekat menjadi tentara.

    Tanpa banyak berpikir lama, Mulan akhirnya nekat mencuri baju perang Ayahnya lalu memangkas rambutnya jadi persis laki-laki pada umumnya. Keberanian itu Dia dapatkan dengan didorong oleh rasa cinta pada keluarga dan sikap loyal terhadap negara. Singkat cerita, Mulan bersama beberapa pasukan kekaisaran berhasil menumbangkan musuh. Cerita ditutup dengan Mulan dilamar oleh laki-laki yang menjadi pemimpin pasukan perang, Jenderal Shang namanya.

    Kisah Mulan, Bukti Patriarki Menyiksa Segala Lini

    Dari cerita Mulan tersebut Saya menangkap, pada akhirnya budaya Patriarki tidak hanya menyakiti perempuan, tapi juga laki-laki itu sendiri. Contoh, ketika Kaisar memerintahkan masyarakat mengirim perwakilan laki-laki dalam keluarganya untuk menjadi tentara. Akan tidak adil jika keluarga tersebut hanya memiliki satu laki-laki renta seperti kondisi keluarga Mulan. Tidak ada celah untuk negosiasi. Jika tidak mengirim perwakilan, maka keluarga tersebut akan dihukum.

    Lalu, Mulan pun dihadapkan kepada dua pilihan yang sama-sama menyiksa. Pertama, Dia rela Ayahnya menjadi tentara dengan kemungkinan terburuk gugur di medan perang. Kedua, memilih nekat menggantikan Ayah demi keselamatan keluarga dan negara. Namun, keselamatan dirinya sendiri tidak dihiraukan.

    Jika kita tarik pada masa sekarang, sesungguhnya budaya patriarki yang serupa masih ada di tengah masyarakat kita hari ini. Bahkan sudah tertanam sampai ke alam bawah sadarnya. Salah satu contoh, ketika perempuan dikonstruksikan sebagai manusia penuh perasaan, maka Dia boleh menangis ketika sedih. Sebaliknya, laki-laki dipandang sebagai manusia yang sangat rasional dan kuat, maka Dia sepatutnya pantang menangis. Padahal, menangis adalah bentuk luapan emosi yang wajar dilakukan manusia.

    Jangan sampai budaya purba mendikotomikan peran perempuan dan laki-laki yang bisa mencederai keduanya. Seperti yang pernah dikatakan aktivis feminis bernama bell hooks dalam bukunya Killing Rage: Ending Racism, komunitas yang baik bukan dibentuk oleh penghapusan perbedaan, tapi dengan menguatkan perbedaan tersebut. Sehingga gender apapun dapat hidup berdampingan dengan harmoni.[]

    Penulis: Rifka Silmia Salsabila, anggota Geostrategy Study Club (GSC).

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here