More

    Catatan Membaca Kumpulan Puisi: “Rekaman Terakhir Beckett” Karya Ari Pahala Hutabarat

    Photo: “Closure Removed” (2014), abstract clay sculpture, Raku technique, by Danny Rosales, USA.

    “It certainly concerns God, for the genealogy of evil is also a theodicy. The catastrophic origin of societies and languages at the same time permitted the actualization of the potential faculties that slept inside man.” 1)

    Jaques Derrida, “Of Grammatology”, Translated by Gayatri Chakravorty Spivak, 1967

    Bahasa tulis itu berbeda dari bahasa lisan dan keduanya memiliki peluang tingkat kesalahan yang sama besarnya. Hal itu ditegaskan oleh Jaques Derrida di dalam buku “Of Grammatology”, khususnya pada bagian ketika ia mendekonstruksi pemikiran Ferdinand de Saussure perihal fonosentrisme. Fonosentrisme, menurut Derrida, adalah paham pemikiran di dalam strukturalisme yang cenderung menomorduakan bahasa tulis karena mengutamakan bahasa lisan. Pengutamaan bahasa lisan itu bahkan oleh Derrida disebut menjadi akar dari logosentrisme, akar dari kecenderungan manusia untuk mencari dan mengekspresikan hal yang dianggap trensenden, murni, pasti, dan tak perlu ditunda pemaknaanya. Singkatnya, sebuah absolutisme.

    Menurut saya, kecenderungan para penulis sastra yang ingin tulisannya mudah dipahami oleh pembaca adalah kecenderungan fonosentrisme. Kecenderungan ini menciptakan semacam dugaan bahwa satu teks yang mudah dipahami atau “langsung” dipahami oleh pembaca lebih tinggi derajat literasinya. Hal begitu tak lain satu kecenderungan absolutisasi ujaran dan menolak menunda pemaknaan di dalam satu tulisan, satu ketakutan akan perubahan, akan ketakpastian, dan cenderung menarik solusi ringkas (meski ilusif) bahwa kepastian pemaknaan itu hanya mungkin terjadi di dalam ujaran lisan. Seperti juga logosentrisme, fonosentrisme adalah satu kecenderungan dari moda berpikir modernisme, bukan postmodernisme, yang berakar sejak Plato—bahkan Permenides—dalam filsafat Yunani.

    Fonosentrisme juga memiliki kecenderungan untuk menguasai pemikiran massa, terutama di dalam praksis politik. Para politisi, di dalam propaganda atau janji-janji kampanyenya, dituntut menggunakan ekspresi bahasa yang mudah dipahami oleh massa, dan oleh sebab itu kepastian pemaknaan menjadi latar pengujaran mereka agar mampu menghagemoni pikiran massa. Tidak peduli apakah isi ujaran lisan yang disampaikan itu benar atau salah, tetapi “khotbah” yang mudah dipahami—yang sesimpel mungkin—adalah tali tersembunyi untuk menyeret dukungan massa ke dalam afiliasi politik tertentu.

    - Advertisement -

    Saya pikir mungkin itulah sebabnya para politisi yang memiliki kemampuan orasi hebat, seperti Adolf Hitler, cenderung mendapat “pemberhalaan” oleh massa. Hitler diberhalakan oleh massa di Jerman pada perang dunia kedua, di negeri yang justru telah melahirkan para pemikir dunia dalam bidang logika, epistemologi, dan sains—yang pemikirannya terus berpengaruh hingga saat ini—seperti Immanuel Kant, Hegel, Karl Marx, Edmund Husserl, Albert Einstein, dll. Bisakah Anda melihat hal ini sebagai sebuah ironi yang pahit? Bisakah Anda melihat bagaimana fonosentrisme telah membuat logika menjadi semacam lelucon tertulis, semacam permainan yang dianggap merendahkan derajat suci kelisanan? Bisakah Anda melihat fakta bagaimana fonosentrisme di Jerman pada abad ke-20 kemudian bertransformasi secara metaforis menjadi monster pembantai paling mengerikan, yang telah memungkinkan kematian 62.000.000 orang lebih dalam perang dunia kedua? Bagaimana itu bisa terjadi?

    Seorang orator yang terlatih mampu menghipnotis massa yang mendengar orasinya, mampu menciptakan ilusi kepastian (atau mudah dipahami massa) di tengah ketidakpastian perubahan. Ketika kau mampu menciptakan kerumunan, maka massa di dalam kerumunan itu secara psikologis akan menjadi “buta”: mereka tak memerlukan berpikir logis, mereka hanya menuntut hiburan tentang kepastian dari para orator yang dipujanya. Ketakpastian ditolak, karena ketakpastian adalah rasa sakit utama dalam pikiran massa, dalam bawah sadar kolektif, yang mesti disembuhkan oleh semacam “firman” dari para orator. Firman (termasuk “firman” dari para orator itu sendiri), dalam keyakinan naif para orator politik dan pemuja fanatiknya, cenderung tak menuntut pembuktian logis apa pun, tetapi harus diterima saja sebagai semacam kepastian rigorous, sebagai semacam asumsi yang turun langsung dari suara-lisan-kemurnian dan karenanya sungguh “tak sopan” dipertanyakan.

    Mungkin, saya menduga, bagi kebanyakan para pemeluk teguh setiap pembuktian logis atau intuitif atas firman, atas narasi-narasi kanonik itu, adalah satu upaya “pemurtadan”, suatu upaya untuk melawan kepastian atau iman, sehingga wajib dihukum seberat-beratnya, bahkan dalam arti fisik. Di sisi lain, dengan sedikit parodis, terminologi pemurtadan sekarang justru bisa ditafsirkan sebagai sebuah konsep delogosentrisme atau dekonstruksi, ketimbang teologi. Benarkah begitu?

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here