More

    Shu-Ha-Ri (守 破 離), Satu Prinsip Studi Seni di Timur

    Foto: Shodo (seni kaligarfi Jepang) karya seorang Master Zen Jepang, Shodo Harada Roshi. Shodo adalah salah satu bidang seni di Jepang yang ketat mempraktikkan prinsip “Shuhari”—di samping seni haiku, seni minum teh, seni keramik, seni drama noh, seni lukis tinta, seni merangkai bunga, dll. Teks tertulis kaligrafi ini berarti: “10.000 mil, tetaplah angin yang sama”.

    Shu-ha-ri (dalam Bahasa Cina dilafalkan menjadi Shou-po-li) adalah satu metode atau prinsip dasar menjadi seorang master dalam bidang seni di Jepang sejak abad pertengahan. Ini juga merupakan prinsip dasar dalam semua metode pelatihan seni klasik di Jepang hingga saat ini. Muasalnya dari prinsip dasar latihan seni beladiri Kendo (seni beladiri menggunakan pedang atau katana) di Jepang. Bila setiap kata atau piktogramnya, yang berasal dari Bahasa Cina itu, hendak diterjemahkan maka ungkapan “shu-ha-ri” tersebut akan bermakna begini:

    Shu ( 守 ) = Dasar (mempelajari hal-hal dasar, memahami konvensi atau teori, berlatih dengan pengulangan).

    Ha ( 破 ) = Melepaskan (mematahkan konvensi, melampaui ego atau zona nyaman diri, inovasi).

    - Advertisement -

    Ri ( 離 ) = Transendensi (melampaui semua teknik, fleksibilitas, menyadari kesatuan dari hal yang bertentangan dan dengan rileks hidup di dalamnya).

    Metode ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu di Jepang, misalnya dalam aliran Kendo tertua yaitu Shintoryu. Di Cina metode ini disebut dengan istilah berbeda dalam “Wushu” (lebih tua dari metode Kendo Shintoryu), yaitu:

    Di ( 地 ) = Bumi (berlatih hal-hal dasar).

    Ren ( 人 ) = Manusia (belajar untuk menemukan diri sejati).

    Tian ( 天 ) = Langit (keilahian yang melampaui dan merangkum semuanya).

    Rasa saya, metode ini juga bisa diterapkan untuk belajar dalam bidang seni lainnya, misalnya sastra. Jadi, bila saya selama ini kerap bicara soal apa itu “seni belajar dari belajar seni”—dimulai dari belajar hal dasar, lalu belajar melepaskan, dan terakhir belajar melampaui—maka semua itu ada basis koherensinya dan sudah teruji sejak ratusan tahun lalu di Jepang, bahkan ribuan tahun lalu di Cina. Saya paham perihal ini dan sudah mempraktekkannya sendiri.

    Omong kosong bila ada orang yang beranggapan bahwa belajar menulis puisi atau prosa atau drama sebagai karya sastra dalam kebudayaan di Timur tak ada ilmunya. Di atas saya baru saja menunjukkan bahwa setiap studi seni di Jepang dan atau Cina justru ada metodenya, ada ilmunya, bahkan sudah sejak ribuan tahun lalu dipergunakan. Jika Anda merasa dan bangga menjadi “orang Timur”, maka mestinya Anda juga percaya bahwa “tak ada cara instan untuk menjadi seorang seniman di Timur”.

    —————————————————————-
    Esai © Ahmad Yulden Erwin, 2016 – 2017
    —————————————————————-

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here