More
    HomeBUKUMengenal Depresi & Distimia Lewat Buku "I Want to Die but ...

    Mengenal Depresi & Distimia Lewat Buku “I Want to Die but I Want to Eat Tteokpokki”

    Sebuah buku berjudul I Want to Die but  I Want to Eat Tteokpokki cukup ramai menghiasi timeline media sosial saya. Dikatakan, buku tersebut termasuk ke dalam jajaran best seller di Korea Selatan. Dengan didorong rasa penasaran yang cukup besar, saya pun membeli buku tersebut. Akhirnya saya tahu bahwa buku tersebut merupakan kumpulan esai bertemakan self improvement

    Buku ini berbeda dari buku self-improvement yang biasa saya baca sebelumnya, cukup unik karena isinya merupakan sebuah percakapan antara seorang psikiater dan pasiennya. Rasanya saya seperti berada di sana menyimak percakapan mereka. Lebih uniknya lagi, penulisnya bukanlah sang psikiater, melainkan pasiennya. Namanya Baek Se Hee, seorang pengidap depresi dan distimia. 

    Apa itu depresi dan distimia?

    - Advertisement -

    Barangkali pertanyaan itu juga terlintas di benak kalian ketika mendenga dua kata tersebut. Untungnya, di buku ini ada sebuah kata pengantar yang ditulis oleh seorang dokter jiwa asal Indonesia bernama dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ. Ia menjelaskan, depresi adalah sebuah gangguan mood yang menyebabkan perasaan depresif dan kehilangan kesenangan secara persisten. Gangguan depresi ini memengaruhi bagaimana kita merasa,  berpikir dan bertindak. Hal tersebut juga dapat mengakibatkan berbagai masalah emosional dan fisik.

    Ada juga kriteria diagnosis lain yaitu persistent depressive disorder atau biasa disebut distimia. Distimia merupakan bentuk kronis/jangka Panjang dari depresi. Seseorang dapat kehilangan ketertarikan yang normal pada aktivitas sehari-hari, merasa tidak ada harapan, produktivitas berkurang, harga diri yang rendah dan perasaan tidak layak.

    “Distimia berbeda dengan depresi dalam derajatnya serta durasi waktunya yang sangat lama,” tulisnya.

    dr. Jiemi menambahkan dalam kata pengantarnya, di dalam buku ini aka nada banyak istilah psikiatri. Oleh karena itu, Ia mengajak pembaca buku ini memahami terlebih dahulu sedikit istilah yang menggambarkan cara berpikir orang-orang yang sedang hidup dalam depresi dan distimia.

    1. Black and White Thinking

    Pada keadaan ini, seseorang cenderung melihat segala sesuatu sebagai 100% hitam dan 100% putih, tidak ada abu-abu dan tidak ada warna lain. Seseorang cenderung berpikir terpolarisasi dalam keadaan depresi.

    1. Overgeneralization

    Seseorang bisa dengan tampak mudah menggeneralisasi keadaan. Suatu kejadian buruk dapat dianggap mewakili keseluruhan hidup.

    1. Personalization

    Seseorang juga dapat menganggap segala sesuatu yang terjadi adalah kesalahannya.

    1. Fortune telling

    Dalam keadaan ini, seseorang cenderung membayangkan masa depan, tapi dalam bayangan buruk. “Masa depan saya pasti akan sia-sia, pekerjaan saya akan digantikan orang lain, di masa depan saya bukan siapa-siapa.”

    1. Mind Reading

    Dalam cara berpikir ini, kita seakan bisa membaca isi pikiran orang lain. Ketika orang lain bicara hal yang netral pun dapat diterjemahkan lain, seakan kita tahu motif orang lain melakukan sesuatu.

    1. Emotional Reasoning 

    Seseorang cenderung menggunakan emosinya sebagai landasan berpikir. Kalau saya merasa cemburu artinya “berarti pasangan saya selingkuh, karena saya merasa cemburu.”

    1. Disqualifying the Positive

    Segala peristiwa yang masuk, dipersepsikan dengan sudut pandang yang negative. Kalau ada peristiwa positif yang kita alami, maka itu akan diartikan Kembali buruk.

    1. Ambivalensi

    Melatarbelakangi itu semua, bisa saja ada pikiran yang saling berkontradiksi yang keduanya sama-sama dirasakan. Bisa saja yang ingin mengakhiri hidup dan di saat yang bersamaan juga ingin hidup. Bisa saja ingin mendekati seseorang dan di saat yang bersamaan juga ingin mendorong orang tersebut menjauh. Hal yang kontradiktif yang berada dalam persamaan itu dinamakan ambivalensi.

    Di akhir kata pengantar, dr. Jiemi menyampaikan beberapa kata tentang buku ini. Prakata tersebut cukup membuat saya tertegun sejenak. Kata-katanya begini: 

    Iya, kadang manusia memang begitu membingungkan. Kamu akan menemui beragam pengalaman nyata dari berbagai pandangan teori yang ditulis oleh Baek Se Hee di buku ini. Kamu juga akan melihat interaksi antara pasien yang tidak sempurna dan seorang psikiater yang juga tidak sempurna. Namun, interaksi kedua orang yang tidak sempurna ini sama-sama membuat mereka bertumbuh. Karena pada akhirnya, tujuan manusia bukanlah menjadi sempurna, melainkan menjadi semakin baik dan semakin bertumbuh.

    Judul Buku :I Want to Die but  I Want to Eat Tteokpokki
    Penulis        :Baek Se Hee
    Penerbit     :Haru
    ISBN            :978-623-7351-03-0 
    Harga          :Rp. 99..000,-
    Buku ini tersedia di Toko Buku Kabar Kampus :
    @tokobukukabarkampus
    @kabarkampuscom
    Untuk pemesanan sila hubungi : 
    0813 9546 6095 (Whatsapp)
    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here