More
    HomeBUKUAgnosthesia, Ketidakmampuan Mengenal Emosi yang Membuat Kita Menderita

    Agnosthesia, Ketidakmampuan Mengenal Emosi yang Membuat Kita Menderita

    Terkadang manusia masih saja belum bisa mengenal emosi yang dirasakannya. Semakin dewasa, manusia semakin sulit menyadari emosi. Salah satunya karena kebiasaan menekan emosi demi menunjukkan betapa dewasanya kita. Padahal, sewajarnya manusia kita boleh, atau di situasi tertentu malah harus mengenal, bahkan di situasi tertentu mengekspresikan emosi kita. Hal itulah yang mendorong Maria Frani Ayu untuk menulis buku berjudul ‘Agnosthesia, Ketidakmampuan Mengenal Emosi Yang Membuat Kita Menderita’.

    Perempuan yang akrab disapa Ayu ini merupakan seorang perawat kesehatan jiwa yang bekerja merawat keadaan psikologis serta emosional pasien-pasiennya. Dalam buku ini Ayu menulis sesuai dengan pengalaman serta pemahamannya. Sehingga, saat membaca kamu tidak akan terasa seperti membaca teori psikologi, tapi membaca cerita  pengalaman seorang praktisi tapi sekaligus mendapat pengetahuan secara teori.

    - Advertisement -

    Dalam buku ini, Ayu membagi isinya ke dalam lima bagian, di antaranya:

    1. Tentang kesedihan dan kesunyian. Dalam bab ini Ayu menerangkan, sejatinya sungguh sangat wajar ketika kita merasakan dua hal tersebut. Alih-alih menyembuhkannya dengan menolak atau mengelak, seharusnya kita menerima dan mengamini bahwa kita memang sedang sedih. Itu akan menyembuhkan lebih cepat dari pada mengacuhkan kenyataan bahwa kita sedang sedih.
    2. Tentang kecemasan dan ketakutan. Ada situasi dimana kita dibayangi oleh ‘harimau’, pasti kita akan merasa tidak nyaman, cemas atau takut. Hal tersebut biasa dikenal dengan istilah invisible tigers. Pada situasi tersebut, kita akan merasakan gejala fight or flight (melawan atau melarikan diri). Di bab ini, Ayu akan memandu bagaimana kita menghadapi gejala tersebut dengan tepat.
    3. Tentang kepercayaan. Ayu menyebutkan, percaya terhadap sesuatu juga bagian dari emosi. Ketika kita menggunakan kepala kita untuk memercayai sesuatu, kita pun memberikan a pinch of emotion di sana. Kepercayaan juga tidak muncul begitu saja, ia terlahir secara alami agar manusia mendapat perlindungan dan dapat menyerahkan keselamatan diri pada sesuatu yang kita pilih untuk dipercayai.
    4. Tentang kemarahan. Rasa marah adalah emosi yang ditandai dengan respon antagonis, yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu yang dinilai sebagai penyebab masalah. Ayu menjelaskan, emosi ini dapat dijadikan alat komunikasi untuk memberitahukan bahwa ada hal yang tidak beres. Jadi, kemarahan bukan berarti hal yang negative selama kita bisa mengelola dan memahami pesan dibaliknya agar setelahnya tercipta evaluasi dan solusi.
    5. Tentang kebahagiaan. Bagian ini mengupas emosi manusia yang paling diinginkan di dunia, tulis Ayu dalam bukunya. Bahagia yang dimaksud bukan sekadar tersenyum atau tertawa ketika diminta. Kebahagiaan itu lahir dari perasaan puas dan beruntung. Bahkan, Bahagia juga bisa lahir dari rasa tertekan dan menderita. Juga, kebahagiaan tidak perlu bergantung pada anggapan orang lain. 

    Judul Buku : Agnosthesia

    Penulis         : Maria Frani Ayu

    Penerbit       : EA Books

    ISBN         : 978-623-94979-2-7

    Harga         : Rp 78.000,-

    Buku ini tersedia di Toko Buku Kabar Kampus :

    @tokobukukabarkampus

    @kabarkampuscom

    Untuk pemesanan sila hubungi : 

    0851-5844-9490 (Whatsapp)

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here