More

    The Lead Institute Paramadina Kaji Peran Filsafat dalam Mewujudkan Keadilan Sosial Ekonomi

    Sementara itu, Rektor Universitas Paramadina, Prof. Dr. Didik J. Rachbini, menegaskan bahwa ilmu pengetahuan harus berpihak pada keadilan dan kelompok rentan yang kerap tersisih oleh pembangunan.

    “Di mana antara penguasa dengan rakyat ada ketidakseimbangan. Karena itu harus dibantu rakyat untuk mengkritisi penguasa yang cenderung korup,” ujar Didik.

    Menurut Didik, gagasan tersebut sejalan dengan paradigma Keislaman, Kemodernan, dan Keindonesiaan yang diperkenalkan Cak Nur, serta memiliki irisan dengan pemikiran Teori Kritis Madzhab Frankfurt, termasuk pemikiran Axel Honneth.

    - Advertisement -

    “Pemikiran Cak Nur banyak yang menyebutnya sebagai Madzhab Neo-Modernis, madzhab Islam yang inklusif, progresif, dan demokratis. Jadi Cak Nur membangun paradigma bahwa Islam harus jadi kekuatan moral, etika, dan peradaban yang turun ke masyarakat,” tuturnya.

    Didik menambahkan bahwa Cak Nur berupaya menjembatani hubungan antara Islam, modernitas, dan demokrasi dalam konteks kebangsaan Indonesia.

    “Cak Nur berusaha menjembatani bagaimana Islam masuk dalam modernitas dan demokrasi, termasuk keislaman dan keindonesiaan adalah simbol yang penting bahwa orang Indonesia harus nasionalis serta tidak boleh orang nasionalis meninggalkan Islam,” imbuhnya.

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here