Pandangan serupa disampaikan Filsuf Universitas Pelita Harapan, Dr. phil. Fitzgerald Kennedy Sitorus. Ia menilai ilmu pengetahuan tidak boleh bersikap netral, melainkan harus kritis dan berpihak pada kemanusiaan serta emansipasi.
Kennedy menjelaskan bahwa keadilan sosial tidak hanya berkaitan dengan distribusi ekonomi, tetapi juga penghormatan terhadap martabat dan pengakuan sosial setiap individu maupun kelompok.
“Itu persis yang diusung Madzhab Frankfurt, dan saya pikir gagasan serupa juga ada pada pemikiran Cak Nur,” kata dosen filsafat Universitas Pelita Harapan tersebut.
Menurutnya, pendidikan filsafat tetap relevan dalam menghadapi dampak negatif industrialisasi, mulai dari alienasi hingga kerusakan ekologis.
“Kita di tengah kemajuan dunia industrial tentu ada banyak masalah yang ditimbulkan. Kita tahu dan itu yang dibicarakan Madzhab Frankfurt seperti keterasingan, alienasi, ketimpangan sosial, kerusakan ekologis, dan segala macam,” tutur alumni Goethe-Universitat Frankfurt itu.
Ia pun mempertanyakan pendekatan yang hanya menilai relevansi pendidikan dari kebutuhan industri semata.
“Jadi kalau kita hanya memberi perhatian untuk jurusan yang relevan dengan dunia industri, tentu jadi pertanyaan juga, jurusan yang relevan dengan dunia industri itu yang seperti apa?” katanya.
Kennedy menambahkan, keadilan sosial yang sesungguhnya tercapai ketika individu merasa diterima dan memiliki ruang yang setara di tengah masyarakat.
“Jadi sangat relevan kalau dalam konteks ini kita berbicara mengenai Teori Kritis Madzhab Frankfurt karena ada kesamaannya dengan masalah kita di Indonesia dan juga dengan gagasan yang dicetuskan oleh Cak Nur,” pungkas Kennedy.






