JJ : Ride for Peace

Jeffrey Polnaja atau Kang JJ (JeJe), penjelajah dunia dari Indonesia yang membawa misi perdamaian. FOTO : AHMAD FAUZAN SAZLI

Mengelilingi dunia dengan sepeda motor adalah ide gila. Apalagi tempat yang dikunjungi adalah negara atau kota yang sedang berperang. Meski “kegilaan” itu mempertaruhkan nyawa bagi Jeffrey Polnaja, yang biasa disapa Kang JJ, telah menjadi bagian hidupnya.

Petualangan mengendarai motor berkeliling ke 72 negara selama 32 itu ia lakukan untuk menyampaikan pesan perdamaian. Selama perjalanan, pria kelahiran Bandung 18 Juni 1962 sempat ditodong AK 47 di Myanmar, dirampok di Afghanistan, berkelahi dengan pemuda mabuk di Moscow, menikmati jalan tertinggi di dunia (Barlachla),  juga menikmati malam romantis di Paris.

Ia telah melewati pengalaman haru, senang,  sedih, duka, dan menenggangkan.

KabarKampus berkesempatan bertemu dengan Kang JJ di Kafe Rolling Stone di daerah Kemang, Jakarta Selatan, Senin, (20/03). Pria berbadan besar ini ramah dan cepat akrab saat ngobrol dengan KabarKampus. Berikut petikan wawancara Ahmad Fauzan Sazli dari KabarKampus dengan Kang JJ :

Dalam perjalanan Kang JJ ke berbagai belahan dunia melewati negara konflik. Apa misinya? Perjalanan ini adalah ride for peace. Alangkah tidak fairnya saya membawa tema perdamaian namun tidak masuk negara konflik atau menghindarinya. Justru negara konflik itu membutuhkan pesan perdamaian. Saya harus melihat kesana. Memang diperbatasan saya sudah dilarang.

“Anda masuk kesana, sama saja dengan mengantar nyawa,” kata penduduk di sana. Satu hal, dalam hidup setiap orang bilang sama siapapun, kalau jodoh, lahir, dan mati di tangan Tuhan. Saya percaya dengan itu ya sudah jalan. Kalau harus tertembak, itu nasib kita.

Namun jangan nantang. Itu namanya bodoh. Semua saya jalani, mau itu namanya perang. Mereka manusia juga. Semua punya nurani. Jadi jangan takut, karena ketakutan itu akan menyetop jalan kita. Saya bisa mengatasi ketakutan itu, sehingga ketakutan itu menghasilkan sesuatu yang positif buat saya. Ketika kita takut, jangan menyerah, tapi pasrah.

Menyerah itu kalau kita sudah nggak mampu ngapa- ngapain. Tapi ketika kita pasrah dalam kepasrahan itu kita akan menyerahkan diri kita kepada Tuhan. Dalam kepasrahan ada kekuatan yang luar biasa. Intinya jangan menyerah.

Adakah yang Anda takutkan selama perjalanan? Tidak ada yang bener-bener serem. Karena sebagai seorang penjelajah, saya selalu bisa melihat keindahan dari sekian banyak keburukan. Saya bisa melihat hal posotif dari hal negatif. Dan itu yang membuat saya tetap bertahan.

Sisi positif yang Kang JJ lihat di daerah konflik? Perang itu tidak ada yang baik. Tapi dalam perang itu mereka ingin damai. “Saya ingin anak saya sekolah, nggak ingin anak saya angkat senjata. Tapi dalam situasi ini nggak mungkin saya nggak angkat senjata. Kalo saya nggak angkat senjata, saya bisa ditembak mati, anak saya bagaimana?” (Kang JJ menirukan ucapan salah seorang yang ditemuinya). Perang itu lingkaran setan. Kalau semua orang berniat damai mestinya bisa.

Ditengah obrolan Kang JJ memberikan sebuah buku bergambar seorang laki-laki dan motor. Buku tersebut berjudul “Wind Rider, Menyerempet Bahaya Demi Perdamaian Dunia”. Buku setebal 376 halaman ini mengisahkan pengalaman suka-duka seorang Jeffrey Polnaja mengelilingi dunia dengan sepeda motor.

Sebelum ia menggunakan BMW R1150 GS Adventure Limited Editions tahun 2005, tunggangannya saat ini, Kang JJ juga pernah mengendarai motor Honda CB 100. Itupun motor pinjaman. Motor inilah yang pertama membawa JJ ke alam penjelajahan. Masuk kampung keluar kampung. Baginya penjelajahan adalah salah satu cara bersyukur atas karunia dan anugerah sang Pencipta. Keinginan untuk melihat dunia luar membuat Kang JJ seperti angin, pergi kemana pun di belahan bumi ini.

Motor BMW R115 GS seri adventure yang ditungganginya saat ini, masih terawat dengan baik. Motor ini memiliki kecepatan 1130 cc. Mampu menjelajah medan berbatu, berpasir, lumpur dan sebagainya. Di dunia ini BMW R115 GS milik Kang Jeje adalah BMV yang paling jauh mengitari bumi. Bisa jadi lebih jauh dari kita yang baru punya rencana. Jika kita cermati kisah-kisah penjelajah dunia yang menggunakan motor memiliki kesamaan semangat yakni menebarkan persahabatan. Dan jangan cemburu jika banyak bikers menganggap, motor adalah kekasih yang tak pernah berharap. Selalu menanti, kapan dan dimana pun.

Kenapa misinya perdamaian? Karena yang dibutuhkan di dunia ini adalah perdamaian. Bicara lingkungan atau apa, dasarnya harus damai dulu. Dan damai itu adalah hak inti dari makhluk hidup. Bayi yang baru lahir pun sudah memerlukan perdamaian. Jadi itu yang diperjuangakan, bisa nggak damai? Kalo bisa damai, kita bisa duduk, dan semua bisa bicara. Setiap orang punya hak yang sama untuk menyampaikan pendapat dalam kedamaian.

Kenapa Anda memilih perjalanan dengan sepeda motor? Motor itu kayak temen. Kenapa saya nggak naik mobil? Kalau pakai mobil, saya nggak bisa merasakan yang rakyat sana rasakan. Dengan sepeda motor, saya bisa merasakan apa yang dirasakan orang di daerah yang saya lewati. Panasnya udara, dinginnya salju, baunya pinus di hutan pinus. Dan semua itu adalah anugerah. Saya ingin menikmati anugerah, menikmati  budaya dan mencium alamnya. Smell of the nature.

Bagaimana dengan  rencana kelilling dunia selanjutnya? April ini saya akan berangkat. Kali ini misinya sama, namun ada green spiritnya, semangat untuk menghijaukan. Saat ini bumi dan udara makin panas, saya menghimbau orang lain untk menanam. Punya motor satu menanam dua pohon dan punya mobil satu menanam tiga pohon

Semua itu masih dalam bentuk himbuan. Kalau di dalam negeri bisa merangkul kawan untuk menghijaukan gunung. Namun kalau di luar saya menghimbau mereka. Kalau dari negara berkembang mau, masa negara maju nggak mau. Rencana perjalanan kali ini ada 30 negara melewati Belgia, Siberia, Alaska, turun dari kutub utara ke selatan di Chili, selesai New Zeland dan Australia, kemudian masuk melewati Timor- Timor.

Kang JJ akan ganti motor? Jerman sudah menawarkan memberi dua motor, namun meski motor saya sudah tua tapi masih mampu.  Ketika orang luar anggap motor itu tidak mampu, tapi orang Indonesia mampu. Meski motor baru lebih enak tapi motor lama lebih menantang.

Di kafe Rolling Stone Jakarta malam itu, Kang JJ bersama isterinya menikmati suasana keakraban dalam acara para penjelajah Indonesia, Ring of Fire. Senyum Kang JJ tak pernah lepas. Dan ia selalu pelan-pelan bicara tak seperti saat menunggang BMW kesayangannya. Malam itu si KaKa dan kawan-kawan jurnalis mengambil kesempatan langka ini untuk berfoto bersama. Dia akhir pertemuan Kang JJ tak lupa mengajak anak muda untuk menjelajah dan mensyukuri anugerah Tuhan. Telah ia lalui banyak negara, telah ia dengar beragam bahasa, telah ia jumpai beragam budaya dunia tetap saja ia mencintai Indonesia. Bagaimana dengan Kaka?

Komentar Kita

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.