More

    Konser “Suara Limbah,” Komposisi Nada Lingkungan yang Tercemar

    ENCEP SUKONTRA

    Konser musik “Suara Limbah” menyajikan suara botol-botol bekas. Beragam nada berhamburan. Konser ini ingin mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan hidup.

    Konser “Suara Limbah” merupakan garapan Agung Pramudya Wijaya, mahasiswa Pascasarjana Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI), Bandung. FOTO : ENCEP SUKONTRA
    Konser “Suara Limbah” merupakan garapan Agung Pramudya Wijaya, mahasiswa Pascasarjana Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI), Bandung. FOTO : ENCEP SUKONTRA

    Konser “Suara Limbah” merupakan garapan Agung Pramudya Wijaya, mahasiswa Pascasarjana Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI), Bandung. Konser ini terkait Ujian Akhir Penciptaan Seni Musik di Program Pascasarjana kampus yang sebelumnya bernama STSI itu.

    - Advertisement -

    Konser diawali dengan satu komposisi suara-suara gesekan logam, mesin bor dan bubut yang bersahutan. Suara-suara bising saat membuat bahan bangunan seperti hadir dalam pembukaan konser yang digelar di Gedung Kesenian Dewi Asri ISBI, Kamis (08/09/2016) malam lalu.

    Untuk menyajikan konser “Suara Limbah,” Agung Pramudya Wijaya membentuk band The Muslim (Musik Limbah) dengan personel Dadi Frimansyah, Arief Hendrawan, Rivandi Sofyan, Andri Senjaya, Rian Andriawan.

    Di ruang pertunjukkan berukuran sekira 10×10 meter, masing-masing personel berdiri di balik meja yang terbuat dari krat-krat botol. Di atas meja terdapat berbagai jenis botol kaca maupun plastik. Sebagian botol sudah dibentuk menjadi alat musik.

    Ada juga drum atau tong plastik dan kaleng. Area konser dikelilingi botol-botol berbagai jenis dan ukuran beragam warna, mulai botol parfum, minyak gosok, botol gepeng minuman keras, gallon, botol air mineral, hingga botol-botol besar bekas cairan kimia.

    Botol-botol itu memantulkan cahaya lampu panggung begitu band The Muslim menyajikan komposisi demi komposisi dalam konser nontematik eksperimental “Suara Limbah”.

    Komposisi pertama berupa beragam bunyi-bunyian dari botol yang diatur dalam tempo tertentu, kadang tinggi bertenaga, kadang rendah, yang dimainkan dengan cara dipukul, digoyangkan.

    Penonton yang memadati sebagian kursi penonton disuguhi beragam bunyi-bunyian, sekilas ada bunyi yang mirip gamelan, angklung, ada juga bunyi dentingan yang biasa dilakukan tukang bakso keliling. Sisanya lebih banyak bunyi-bunyian yang terdengar asing.

    Pada komposisi lain Agung dan kawan-kawan memamerkan suara yang didominasi dari alat tiup botol. Agung misalnya memainkan “fujatol” kependekan dari “fujara botol” yang terbuat dari botol plastik yang disambung pipa dan selang.

    Pemain lain juga memainkan alat tiup botol lainnya. Beragam bunyi alat tiup menghasilkan tiupan-tiupan yang bersahutan, ada yang mirip flute, seruling, orang tertawa. Komposisi ini membuat suasana pertunjukkan terasa primitif, bahkan cukup mencekam.

    Agung Pramudya Wijaya
    Agung Pramudya Wijaya

    Baru di komposisi berikutnya penonton bisa menemukan suatu tangga nada yang membentuk musik. Agung memamerkan kemampuannya dalam menggesek alat gesek dari botol (gestol/gesek botol) yang disambungkan ke sound effect, suaranya bisa melengking tinggi seperti melodi gitar listrik, kadang pelan seperti biola.

    Pemain lain mengiringinya dengan gittol (gitar botol), basstol (bass botol), perkusi botol dan dentuman drum-drum plastik dan kaleng. Komposisi ini berjudul Galindeng Asmarandana, terdengar seperti musik balada yang disertai vokal syahdu.

    Usai konser berdurasi 35 menit itu, Agung Pramudya Wijaya beharap konser “Suara Limbah” mengingatkan betapa pentingnya menjaga lingkungan hidup dari limbah-limbah perusak.

    Konser “Suara Limbah,” kata dosen desain produk Institut Teknologi Nasional (Itenas), Bandung ini, dilatarbelakangi keprihatiannya terhadap pencemaran lingkungan. Ia mengaku butuh dua tahun riset persiapan konser yang sekaligus menjadi materi ujian akhirnya di Program Pascasarjana ISBI Bandung.

    Riset dimulai dengan pengumpulan botol-botol bekas untuk didaur ulang menjadi alat musik yang sajian pertunjukkan malam itu. “Semoga memberikan kesan mendalam untuk kita semua. Semoga kita semua makin menjaga dan menghormati lingkungan kita,” kata bassis band Cherry Bombshell itu. []

    - Advertisement -

    1 COMMENT

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here