More

    Benarkan Profesi Dosen Berumur Pendek?

    Ilustrasi / dosen mengajar. Foto : The Huffington Pos

    Dalam satu pekan ini, kalangan dosen disuguhkan dengan sebuah artikel menohok yang ditulis Moch. Faried Cahyono, dosen dan juga peneliti UGM. Tulisan tersebut mengulas tentang kerja dosen yang identik dengan umur pendek. Tulisan ini tersebar di grup-grup WA hingga media sosial.

    Sebenarnya tulisan ini telah dipublish pada blog Moch Faried Cahyono pada 2016 lalu. Entah mengapa, artikel ini kembali menyeruak. Namun nampaknya artikel ini akan selalu relevan setiap saat. Karena memang tak sedikit, dosen yang meninggal dunia dalam usia yang masih relatif muda.

    Faried menulis artikel tersebut, setelah rekannya sesama dosen di UGM, meninggal dunia dalam usia yang relatif muda, yaitu 51 tahun, usia yang jauh dari rata-rata orang Indonesia yang mencapai 67 tahun. Namun kehilangan dosen yang relatif muda adalah untuk kesekian kali di kampus UGM.

    - Advertisement -

    Faried mencatat saat itu selama 4 tahun belakangan ini UGM telah kehilangan 60 orang dosennya. Mayoritas mereka, meninggal dibawah usia 60 tahun dan hanya 4 orang yang meninggal dengan usia diatas 60 tahun.

    Kematian memang kehendak tuhan, namun kematian banyak dosen muda di UGM menimbulkan satir. Bekerja sebagai dosen di UGM di jaman kini, bisa jadi bukan pekerjaan yang sehat.

    Irwan Abdullah, Direktur Pasca Sarjana UGM dalam artikel Faried menyebutkan, kematian banyak dosen UGM dibawah usia rata-rata manusia Indonesia bisa jadi karena keharusan bekerja ekstra keras untuk kebutuhan survive secara ekonomi. Selain itu beban sosial seorang intelektual seperti dosen di Indonesia, di luar pekerjaan pokoknya mengajar, lebih berat dibanding negara maju.

    Mereka harus pula memenuhi tuntutan sosial masyarakat, diantaranya, ikut andil menciptakan masyarakat yang lebih baik Sementara dari gaji, relatif lebih rendah. Persoalan menjadi penting, ketika orang mencoba menghubungkan soal gaji rendah, kerja berat, dengan angka harapan hidup yang rendah.

    Dalam catatan wakil dekan tersebut, dosen selain mengajar, harus menulis laporan penelitian, buat jurnal ilmiah, juga kerja-kerja administratif yang dilakukan dalam tenggat waktu dan ketergesaan. Hal itu karena, di UGM, seorang dosen bisa mengajar sampai 11 mata kuliah per minggu.

    Selain itu, ada alasan mengapa dosen harus mengajar begitu banyak mata kuliah. Pertama menyangkut kepakaran. Jumlah kelas yang lebih banyak, juga dibukanya banyak program baru pada tahun-tahun terakhir menyebabkan dosen harus meluangkan banyak waktu. Kebijakan semester pendek dengan memadatkan kuliah yang lazimnya 3-4 bulan menjadi 1-2 bulan membuat dosen sering tidak punya hari libur.

    Kadang proses belajar mengajar dipadatkan dalam satu minggu terus menerus atau week end asal bisa mengejar jumlah jam. Tapi, jika jujur, seperti diakui oleh seorang Wakil Dekan di salah satu Fakultas Ilmu Sosial di UGM, dosen-dosen harus mengajar ekstra banyak, karena kalau tidak begitu, tidak akan survive secara ekonomi.

    Selain itu gaji dosen juga dianggap tidak cukup untuk hidup sebulan. Kebijakan pencabutan subsidi BBM, rendahnya dana untuk pendidikan dan kesehatan, menjadikan gaji yang tadinya sudah pas-pasan, menjadi benar-benar tidak cukup.

    Dalam artikel tersebut, Irwan Abdullah juga mengatakan, gaji seorang dosen yang sudah mengajar lebih dari 10 tahun seperti dirinya, hanya cukup untuk hidup 1 Minggu. Namun bagi pensiunan dosen, situasi bisa lebih berat. Gaji dan pensiun itu biasanya sudah habis untuk bayar listrik, telepon, dan bensin. Sisanya, harus dipenuhi dengan kerja yang lain.

    Tetapi, apakah perilaku kerja para dosen UGM yang rawan stress, itu adalah sesuatu yang unik dan datang ujug-ujug tanpa sebab musabab? Jawabannya tentu saja tidak. Kecenderungan itu ada di mana-mana. Ada banyak jawaban soal ini, namun secara umum keharusan bekerja lebih berat itu muncul dan semakin nyata, ketika paradigma pendidikan berubah menjadi komoditi dagang.

    Namun terlepas dar itu semua, kematian adalah hak preogratif Tuhan. Bagaimana cara meninggalnya adalah tergantung manusia itu sendiri. Profesi apapun, semua manusia akan mati!

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here