More

    Kidung Kasepuhan Ciptagelar

    05 06 2013 ILUSTRASI ciptagelar

    Ahmad Yunus

    Api melahap kayu bakar kering hingga terdengar menggeletak. Cahayanya memberi siluet pada barisankolot atau kalangan sepuh yang berkumpul di ruang dapur Imah Gede. Imah Gede adalah rumah besar yang berada di jantung Kasepuhan Ciptagelar. Kalangan sepuh duduk bersila, mengepulkan asap tembakau dibalut daun aren dan saling bercerita tentang kehidupan. Sesekali bergurau tentang hal-hal yang lucu tentang mereka.

    - Advertisement -

    Asap dari tungku mengepul pelan menyerupai kabut tipis yang jatuh dari langit. Langit imah gede yang terbuat dari bilah bambu mengkilap menjadi warna hitam pekat terkena kepulan asap dari tungku. Asap ini juga mengeringkan deretan kayu bakar yang tersimpan di atas tungku. Termasuk sejumlah makanan yang tersimpan di atas atap Imah Gede.

    Tungku menjadi kiblat di Imah Gede. Api menyala sepanjang hari. Memanaskan air hingga menanak nasi untuk kebutuhan makanan yang disajikan dalam Imah Gede. Mulai dari pepes ikan, sayur asam, ikan kering, nasi merah dan putih, hingga membuat sambal. Perempuan dari Ciptagelar sigap menghidupkan suasana dapur. Setiap hari tanpa lelah.

    Imah Gede di Kasepuhan Ciptagelar ibarat istana rakyat. Dan sang presidennya adalah Abah Ugis Suganda, generasi ke-9 dari Kasepuhan Ciptagelar. Kasepuhan ini usianya sudah 6 abad dan berada di kaki Gunung Halimun, Sukabumi.

    Imah Gede menjadi pusat segala kehidupan di kasepuhan. Mulai dari kegiatan seni, budaya, pertanian hingga ruang untuk menerima berbagai tamu yang mengunjungi kasepuhan. Berada di Imah Gede terasa sejuk. Angin dari Gunung Halimun merayap pada sekat-sekat anyaman bambu. Segar terasa pada kulit.

    Kasepuhan Ciptagelar menjalankan roda kehidupan secara harmoni. Mereka menjaga keseimbangan antara alam dan manusianya. Leuit atau lumbung padi menjadi ikon khas di kawasan kasepuhan. Leuit ini menyerupai rumah kecil. Tingginya sekitar 2.5 meter. Dan luasnya sekitar 2.5 meter persegi. Terbuat dari bambu dan atapnya dari injuk pohon aren. Keberadaan leuit menjadi penanda ketahanan pangan. Hasil panen raya padi tersimpan hingga puluhan tahun. Dan berbagai induk benih padi tersimpan dan terjaga secara adat di Leuit Jimat.

    05 06 2013 LEUIT_ciptagelar

    Leuit berjejer rapi di atas Imah Gede dan terletak berdekatan dengan pesawahan. Air yang mengalir dari atas gunung terdengar bergemericik. Mengairi pesawahan sepanjang tahun. Dan kebutuhan air bersih bagi kasepuhan.

    “Air ini juga menghidupkan turbin 3000 watt,” kata Yoyo Yogasmana, warga kasepuhan. Turbin memenuhi kebutuhan pasokan listrik di kasepuhan yang terletak di 1000 meter di atas permukaan laut.

    Kasepuhan Ciptagelar menjaga tradisi Sunda beratus tahun lalu. Menjalankan amanat leluhur, khususnya menjaga lingkungan. Baik di hutan, kawasan rumah tinggal maupun mengelola tanah untuk keperluan pertanian sawah air maupun ladang. Ada sekitar 300 kepala keluarga yang tinggal dalam kasepuhan. Roda kehidupan berpunggung pada pertanian alami.

    Kasepuhan menjalankan pertanian sawah hanya satu kali dalam setahun. Dan sisanya dipakai untuk mensyukuri hasil panen dan ritual kebudayaan. Semua berawal dan berakhir di leuit.

    “Padi bagi kami ibarat ibu. Ia yang memberi kehidupan. Di sini, adat melarang untuk menjual hasil padi. Itu artinya seperti menjual ibu,” kata Yoyo Yogasmana. Kang Yoyo-panggilan akrabnya- adalah seniman pertunjukan di Bandung. Ia lama berkiprah dalam dunia seni. Pertunjukkanya hingga ke Eropa dan Amerika. Namun, perjalanannya berujung dan jatuh cinta di kasepuhan. “Ada rasa damai. Ketenangan dan kebaikan,” katanya.

    Kasepuhan menjaga dan merawat padi seperti layaknya manusia. Benih baru disimpan dalam leuit hingga usia 3 hingga 4 bulan. Benih padi dibiarkan kuat secara alami. Dan leuit melindungi dari rasa dingin. Benih yang siap tanam kemudian dibawa ke area pesawahan. Pupuk alami dari kandang domba maupun jerami mengendap dalam lumpur yang basah. Angklung buhun dan kidung layaknya doa yang memberi harapan pada benih agar tumbuh menjadi sehat. Dan membawa kemakmuran bagi penghuni kasepuhan.

    “Kami ikat setiap lima genggaman padi. Menyerupai jemari manusia. Kami bentuk padi yang menguning emas seperti lekuk tubuh perempuan. Di sana ada rasa, jiwa dan keindahan yang sempurna,” kata Yoyo Yogasmana.

    Warga yang tinggal di berbagai penjuru kasepuhan membawa hasil panen padi. Mereka berjalan kaki melewati lembah dan jalan berbatu menuju leuit. Bebunyian dari bambu yang membawa hasil panen terdengar nyaring. Memberi harmoni layaknya orkestra yang berarak keliling kota. Dan perempuan Ciptagelar menumbuk padi untuk kebutuhan tepung. Bunyi dari tumbukan memberi ketukan yang ritmis.

    “Di tempat mana lagi yang masih menjalankan padi seperti kami. Kami menjaga amanat leluhur sampai kapanpun,” katanya.

    Berada di sini ibarat oase di gurun pasir. Kasepuhan Ciptagelar menjalankan kehidupan secara mandiri dan sederhana. Aturan adat membangunkan peradaban dan kehidupan. Perjalananan 6 abad tidak semudah membalikkan tangan dan mengukur dengan usia manusia sendiri. Keberadaan manusia tumbuh secara alami dan terjaga.

    Kasepuhan Ciptagelar adalah mutiara kehidupan dan pengetahuan. Bahwa sejak ratusan tahun silam masyarakat dengan aturan adatnya telah memberi jawaban pada persoalan hari ini. Peneliti, akademisi, politikus hingga media berdebat mengenai isu ketahanan dan swasembada pangan. Di ujung barat sana berteriak mengenai perubahan iklim. Namun mengapa perdebatan ini tak berpijak pada kaki sendiri.

    05 06 2013 iket padi“Bagi kami itu adalah siklus kehidupan. Bumi ini sudah tua dan akan kembali seperti bayi lagi,” katanya.

    Mayoritas perut manusia Indonesia terikat dengan beras. Pemerintah Indonesia kewalahan dengan pertumbuhan penduduknya. Kondisi ini berdampak akan kebutuhan konsumsi beras. Namun, areal pesawahan yang berkurang, petani yang semakin miskin, pola distribusi dan kepentingan ekonomi dan politik membuat beras menjadi isu penting. Dan kebijakan pemerintah Indonesia lebih gampang membuka kran impor beras. Ketimbang mendorong produktivitas agar kebutuhan beras bisa terjaga.

    “Beras yang kami makan hari ini adalah beras enam tahun lalu. Tapi masih terasa enak dan wangi sekali,” katanya.

    Dua kali saya berkunjung ke kasepuhan. Melihat secara dekat bagaimana kehidupan di Ciptagelar berjalan. Bertemu dengan barisan kolot, wawancara dengan Abah Ugis, warga lainnya dan tinggal di rumah mereka. Saya mendokumentasikan melalui foto, video dan tulisan. Perjalanan membaca kasepuhan masih panjang. Saya berupaya mengumpulkan keping demi keping cerita dari 6 abad silam ini.

    Warga kasepuhan juga sangat melek terhadap media penyiaran. Anak-anak hingga orang dewasa suka nonton tayangan televisi. Warga juga memasang antena parabola untuk menangkap siaran luar negeri. Sesekali mereka juga memasang layar tancap dan memutar film Hollywood.

    “Kebanyakan sinetron. Kami ingin tayangan mengenai realitas,” kata Abah Ugis Suganda. Di halaman rumahnya ia sulap menjadi ruang kerja. Berbagai peralatan elektronik hingga keyboard untuk bermain musik. “Ini iseng saja untuk mengisi waktu,” katanya dengan logat Sunda yang kental.

    Abah Ugis suka dengan elektronik. Setiap malam ia habiskan untuk mengutak-atik peralatan elektronik. Dan kemudian ia membuat dan mendirikan Ciga TV atau Ciptagelar Televisi. Peralatannya sederhana, dvd player, alat pemancar, televisi, seperangkat komputer dan kamera handycam. Isi siarannya adalah tentang kehidupan di kasepuhan. Mulai dari pertanian, mainan anak-anak, seni angklung hingga pembangunan jalan.

    “Pemimpin redaksi, editor, reporter, kameraman adalah warga Ciptagelar,” kata Yoyo Yogasmana. Yoyo melatih anak-anak dan pemuda Ciptagelar menjadi reporter. Menyalakan kamera dan wawancara dengan warganya sendiri.

    Di rumah Yoyo Yogasmana saya melihat tayangan Ciga TV. Daya jangkau siaran Ciga TV sejauh 10 kilometer. Warga suka dengan tayangan Ciga TV dan menghadirkan sosok dan wajah dari warganya sendiri. Mereka senang berada di balik kaca televisi.

    “Ini jadi sarana pendidikan. Anak-anak bisa belajar bagaimana pertanian dan kebudayaannya sendiri,” kata Yoyo Yogasmana.

    Rumah Yoyo Yogasmana menjadi ruang redaksi. Ada tumpukan buku bacaan, peralatan musik Sunda dan papan tulis. Anak-anak berkumpul di sini untuk belajar apapun. Yoyo Yogasmana juga melatih bahasa Inggris kepada anak-anak. Tak sedikit ada kunjungan dari warga mancanegara yang ingin merasakan pengalaman berada di jantung kasepuhan ini.

    Kasepuhan Ciptagelar terletak di perbatasan Banten dan Jawa Barat. Dari Jakarta atau Bandung butuh waktu sekitar 12 jam menuju Ciptagelar. Perjalanan aspal berujung hingga Pelabuhan Ratu. Dan kemudian jalan berbatu dengan turunan dan tanjakan tajam. Butuh nyali dan kemampuan berkendara yang lihai. Sepanjang perjalanan akan melewati perkebunan karet, area persawahan dan perkampungan, melewati sungai yang airnya deras dan jernih. Namun, setiap perjalanan menuju Ciptagelar selalu menyimpan kesan dan pesona.

    05 06 2013 AHMAD YUNUS_ciptagelarAroma dan pulennya padi. Kepulan asap dari balik atap injuk Imah Gede. Iket kepala penanda identitas warga kasepuhan. Senyuman dan kehangatan dari warganya. Dan nyanyian Owa Jawa yang berteriak dari dalam hutan Halimun. Berada di sana, sejenak rehat dan kembali membumikan rasa kemanusiaan. Dan api tungku terus menyala dan membara memberi kehangatan pada siapapun. []

     

    * Penulis adalah jurnalis dan penulis buku “Meraba Indonesia”. Hobinya berpetualang ke seluruh pelosok Indonesia.

     

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here