More

    Menjelajahi Pulau Jemur Menyaksikan Penyu Bertelur

    tukik

    Frino Bariarcianaur

    Jejak-jejak penyu hijau berserakan menghiasi pasir pantainya yang putih.

    Inilah Pulau Jemur. Sebuah pulau yang berada di Kecamatan Pasir Limau Kapas, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), Riau. Pulaunya dikelilingi pasir putih dengan ornamen batu besar dan pohon yang berjajar. Di pantai ini tidak ada sampah plastik kecuali ranting-ranting kayu dan jejak-jejak binatang merayap. Di sinilah penyu hijau [Chelonia mydas] bertelur.

    - Advertisement -

    Siang ini, jejak-jejak sirip penyu masih terlihat jelas. Ada yang menuju laut ada yang menuju darat. Tapi ada juga jejak yang setengah melingkar. Jejak-jejaknya bertabrakan satu sama lain. Membingungkan.

    Jejak ini membuktikan dari tadi malam tak ada orang yang melintas pantai. Tidak ada jejak kaki manusia. Kesimpulan awal saya, pulau ini memang sepi. Sepertinya, tak ada orang kecuali rombongan saya, yakni staff pemerintah Kab. Rohil, staff Dinas Perhubungan Laut Distrik Navigasi serta petugas keamanan laut Komando Armada RI Kawasan Barat Dumai.

    Saya mengambil beberapa foto. Fokus saya pada jejak-jejak sirip [flipper] penyu.

    Untuk mencapai pulau Jemur bisa menggunakan perahu tradisional milik nelayan (pompong) atau speed boat melalui Kota Panipahan dan Kota Bagan Siapi-api, ibukota Kabupaten Rokan Hilir, Riau. Dari Kota Panipahan hanya menghabiskan waktu kurang lebih 3 jam. Namun akan lebih lama jika menggunakan perahu nelayan.

    Selama perjalanan kami bertemu nelayan yang sibuk menjala ikan. Sempat pula berbincang-bincang tentang cuaca dan hasil tangkapan. Ikannya masih terlihat segar-segar. Harganya pun tak mahal, harga pertemanan. Selain itu kami melihat kapal-kapal besar di perairan ini. Tapi cukup jauh. Dan yang terpenting, kami sebenarnya baru saja menyusuri, meski hanya sepenggal, selat terpenting dan paling bersejarah di Asia Pasifik, yakni Selat Malaka.

    Dulu, Selat Malaka menjadi salah satu selat perdagangan paling ramai di dunia. Selat yang menjadi rute favorite para pedagang Cina, Arab dan Eropa. Di selat inilah rempah-rempah, keramik, kain, emas dan sebagainya diangkut dari satu kerajaan ke kerajaan yang lain. Itulah kenapa banyak sekali bajak laut berkeliaran di sini.

    Tapi itu ratusan tahun yang lampau, kini perairan Selat Malaka lebih aman.

    Setelah menikmati pantai saya diajak untuk melihat pos keamanan TNI Laut. Masih dekat pantai, baru beberapa langkah saja, tak jauh dari pohon ketapang yang rindang, ada sebuah kolam dan beberapa tong air berisi tukik (anak penyu). Ya ampun, jumlahnya ribuan. Saya kaget dan berdecak kagum karena belum pernah melihat tukik sebanyak ini.

    Kiranya Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir sudah beberapa kali melepas tukik-tukik ke laut. Program kepedulian terhadap satwa langka ini juga bekerja sama dengan pemerhati satwa-satwa langka dari dunia internasional. Beberapa peneliti penyu juga pernah datang. Uniknya, yang memilihara tukik-tukik di Pulau Jemur adalah aparat keamanan dan petugas navigasi. Mereka bekerja secara bergantian.

    Setiap hari dua kali sehari tukik diberi makan yang mengandung udang-udangan, ikan kecil, rumput laut, cacing laut dan lain-lain. Di penangkaran seperti di Pulau Jemur, tukik-tukik diberi makan pelet atau udang kering [ebi]. Kalau sudah besar sekitar 20-30 Cm, penyu hijau menjadi binatang herbivora yang memakan rumput laut.

    Penyu hijau berwarna abu-abu, kehitam-hitaman atau kecoklat-coklatan. Dinamai penyu hijau bukan lantaran sisiknya berwarna hijau melainkan karena warna lemak yang berada di bawah sisiknya berwarna hijau. Kepala penyu hijau kecil dengan paruh yang tumpul. Berat tubuh penyu hijau bisa mencapai ratusan kilogram.

    jejak penyu hijauSaya mulai merasakan daya tarik yang luar biasa di Pulau Jemur setelah melihat ribuan tukik.

    Pulau Jemur, pulau yang hanya dihuni oleh anggota TNI AL dan anggota tim Navigasi Indonesia, merupakan objek utama wisata bahari Kabupaten Rohil. Daya tariknya tentulah karena pulau ini menjadi tempat persinggahan penyu-penyu hijau untuk bertelur. Sehingga pemerintah Rokan Hilir berusaha agar pulau Jemur tetap terlihat alami. Jika tidak tentulah satwa-satwa langka ini tak mau lagi bertelur di sini.

    Tidak hanya di Pulau Jemur, menurut para ahli penyu, ada sekitar 143 tempat pendaratan penyu untuk bertelur (nesting site) hampir di seluruh Indonesia. Diantaranya di Pulau Berhala [Sumatera] Utara], Pantai Paloh [Kalimantan Barat], Kepulauan Derawan [Kalimantan Timur], Pesisir Desa Muara Way Tembulih [Lampung Barat], Pantai Pangumbahan-Ujung Genteng [Jawa Barat], Pulau Penyu [Sumatera Barat], Pulau Bengkaru di Kepulauan Banyak [Nanggroe Aceh Darussalam], Pantai Kuta [Bali], Pantai Gili Trawangan [Lombok], Pulau Runduma-Wakatobi [Sulawesi Tenggara], Pantai Warmon [Papua], dan masih banyak lagi.

    Itu artinya perairan Indonesia yang membentang dari Aceh sampai Papua adalah perairan yang dilintasi binatang yang dilindungi. Ini merupakan suatu kebanggaan sekaligus menjadi tanggung jawab Indonesia.

    Bahkan berdasarkan catatan The Indian Ocean and South East Asia (IOSEA), menyebutkan enam dari total tujuh spesies penyu yang hidup di dunia juga berada di perairan Indonesia, yakni penyu tempayan (Caretta caretta), penyu pipih (Natator depresus), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), dan penyu hijau (Chelonia mydas).

    Dengan kata lain, penyu-penyu di dunia hampir semuanya bisa dilihat di Indonesia. Saya berharap tukik-tukik di depan saya ini cepat besar dan mengarungi perairan Indonesia.

    Petugas TNI AL mengangkat tukik-tukik dan memperlihatkan kepada kami. Lucu dan menggemaskan. Saya kembali mengambil foto ribuan tukik yang berada di dalam tong-tong besar.

    Setelah puas melihat dan bermain-main dengan tukik kami menuju Pos Komando Armada RI Kawasan Barat Pangkalan TNI-AL dan Dinas Perhubungan Laut Distrik Navigasi Dumai. Jaraknya hanya ditempuh 15 menit saja. Ada tangga semen menuju puncak Pulau Jemur yang tidak tinggi. Saya melintas di samping helipad yang dipenuhi dengan rumput pendek. Di sini juga bersih. Barulah saya bertemu dengan beberapa petugas yang lain.

    Titik sentral kawasan ini adalah mercusuar. Saya pun meminta ijin untuk naik ke mercusuar.

    Dan wowww..! Pemandangannya luar biasa. Saya melihat jelas hamparan laut biru. Juga burung-burung camar yang terbang mengitari pulau. Dari ketinggian, perahu-perahu nelayan yang saya jumpai tadi tidak lebih besar dari batang korek api. Saya beruntung langit cerah sehingga memudahkan melihat keindahan Pulau Jemur.

    Pulau Jemur adalah pulau terbesar di gugusan Kepulauan Arwah (Aruah) yang terletak di Selat Malaka. Gugusan pulau ini terdiri dari pulau Pertandangan, Batu Mandi, Batu Adang, Batu Berlayar, Tokong Mas, Tokong Simbang, Labuhan Bilik dan Tokong Pucung. Pulau-pulau ini pula menjadi tempat peristirahatan para nelayan jika ada badai.

    Gugusan Kepulaun Aruah termasuk pulau-pulau terdepan Indonesia. Titik terdepannya berada di Pulau Batu Mandi. Pulau-pulau yang bisa dikatakan tak berpenghuni ini menyimpan eksotika zamrud khatulistiwa.

    ***

    penyu hijau 1Menunggu Penyu Hijau Bertelur
    Hanya penyu betina yang pulang, sementara penyu jantan terus berkelana.

    Kami bersembunyi tepat di bawah pohon ketapang. Mengintai. Cahaya bintang saja yang menemani. Di tepi pantai yang sunyi, kami menunggu penyu hijau betina bertelur. Tak terasa sudah 2 jam kami menunggu tapi belum ada tanda-tanda penyu hijau datang.

    Katanya, untuk bisa melihat penyu hijau bertelur tak boleh ada cahaya. Apalagi suara manusia. Penyu betina yang ingin bertelur menginginkan tempat yang sunyi dan aman. Jika ada cahaya dan suara manusia, penyu hijau dipastikan takkan mau datang. Penyu masih menganggap manusia sebagai salah satu ancaman keberlangsungan anak cucu mereka.

    Di dalam sejarah bertahun-tahun penyu menjadi salah satu hewan yang diburu manusia.

    Selain manusia, predator yang menyukai penyu adalah anjing, tikus, kepiting, burung dan ikan-ikan besar di laut. Dengan kata lain, sejak penyu di dalam telur, kehidupan mereka sudah terancam.

    Kini populasi penyu hijau dan beberapa jenis penyu lainnya kian hari kian menyusut. World Wild Fund (WWF) Indonesia memperkirakan setiap tahun sekitar 100.000 ekor penyu hijau dibunuh di kepulauan Indo-Australia.

    Untuk menjaga populasi penyu, Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan ancaman tegas seperti Pasal 21 ayat 2 dan pasal 40 ayat 2 Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dengan ancaman hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta.

    Selain itu pada tahun 2009, Indonesia meratifikasi United Nations convention Against Transnational Organized Crimes (UNTOC) melalui UU No.5/2009. Menurut laporan WWF Indonesia, UU ini memungkinkan Indonesia melakukan kerjasama dengan internasional dalam menangani kejahatan perdagangan ilegal satwa liar, termasuk penyu.

    Jauh sebelumnya Indonesia juga telah membuat Keputusan Presiden (Keprres) No. 42 tahun 1978 tentang Konvensi Internasional yang Mengatur Perdagangan Satwa dan Tumbuhan Liar Terancam Punah. Keprres ini dibuat lantaran Indonesia termasuk Negara yang menandatangani CITES [Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora].

    Cites adalah perjanjian internasional antarnegara yang disusun berdasarkan resolusi sidang anggota World Conservation Union (IUCN) tahun 1963. Perjanjian internasional ini menyebutkan bahwa penyu harus dilindungi dan tidak boleh dimanfaatkan karena terancam punah.

    Meski ada ancaman bagi pemburu sampai saat ini penyu tetap diburu untuk diambil daging, cangkang (kerapas) dan telurnya.

    Daging penyu bergizi tinggi dan dianggap punya khasiat kecantikan bagi perempuan. Sementara cangkang atau rumah penyu bisa dijadikan gelang, cincin atau kalung sebagai souvenir. Dan telurnya enak dimakan. Proteinnya sangat tinggi.

    Saya berdoa semoga malam ini bisa melihat penyu hijau bertelur. Benar-benar penasaran.

    PANTAI pulau jemur

    Setelah menunggu dua jam lebih yang ditunggu menampakkan diri. Tapi kami masih tidak berani menyalakan senter. “Tunggu dulu,” kata petugas. Padahal hati sudah tidak sabar lagi ingin melihat penyu hijau bertelur. Ia tampaknya sudah berpengalaman. Lalu, kurang lebih 20 menit berselang kami pun mulai keluar dari persembunyian mencari penyu hijau.

    Akhirnya seekor penyu hijau yang tengah bertelur tertangkap cahaya senter. Ukurannya cukup besar, kurang lebih satu meter. Ada sebuah lingkaran besar yang mengelilinginya. Saat senter kami menyinarinya, dia tak beranjak pergi. Hanya sirip depannya saja yang bergerak-gerak. Kami pun mengintip ke bagian ekor penyu.

    Plup!

    Satu persatu telur penyu keluar. Telurnya berlendir. Saya hitung, satu, dua, tiga, empat, lima….wihh banyak sekali. Si ibu penyu tetap saja diam. Dia tak berdaya. Kami lagi-lagi menyinari wajahnya dengan enter. Saya melihat mata penyu. Ada tetes air mata. Pasti sakit mengeluarkan telur sebanyak itu. “Ayoo..buu…keluarin semuanya,” kata saya sambil menepuk punggung penyu. Kawan-kawan pada tertawa. Penyu betina terus mengeluarkan telur sementara petugas keamanan laut mengambil telur-telur itu.

    Dua sirip belakang penyu seperti menutup lubang yang dalamnya kurang lebih 55-60 Cm. Ini merupakan salah satu usaha penyu agar telur mereka tak diambil.

    Bagi saya ini pengalaman luar biasa, bisa langsung menyaksikan prosesi “persalinan” seekor penyu hijau yang langka. Cukup lama menunggu penyu hijau selesai bertelur.

    Telur penyu berwarna putih dan lembut. Besarnya seperti bola ping-pong. Telur penyu disukai orang karena rasanya yang enak. Di pasaran sebutir telur bisa dihargai 4000 rupiah. Menurut mitos telur punya bisa menambah gairah seks (keperkasaan) seorang pria. Kenyataannya, telur penyu yang mengandung kolesterol tinggi ini bisa mengakibatkan penyempitan pembuluh darah. Pada akhirnya, menurut para ahli, bisa menyebakan impotensi.

    Bila dibandingkan dengan telur ayam, rupanya kadar protein telur penyu tidak jauh berbeda. Hanya kandungan lemaknya 2 kali lebih besar. Kandungan lemak inilah yang bisa berdampak meningkatkanya kandungan kolesterol.

    Saya terus mengambil beberapa foto untuk mengabadikan peristiwa penting ini.

    Selesai mengeluarkan telur, penyu betina menutup lubangnya. Ia masih tak menyadari kalau lubang yang ditutup itu sudah tidak lagi telurnya. Dua sirip belakang –kalau di air berfungsi sebagai kemudi—menutup lubang sementara dua sirip depannya –berfungsi sebagai pendayung—bergerak seperti beko, mengirimkan pasir. Dan penyu hijau ini mulai bergerak-gerak. Saat ingin memotret dari arah belakang, pasir lemparan dari sirip depan mengenai muka saya. Sakit juga.

    Selang beberapa lama, penyu betina seperti ingin melompat. Ia membuat gerakan, sedikit ke kiri sedikit ke kanan sambil menekan pasir.

    Buk!buk…!buk…!

    Lalu penyu betina merayap kembali menuju laut. Gerakannya cukup cepat meski tubuhnya lebih besar dari karung beras. Debur ombak pelan-pelan menutup seluruh tubuhnya, gerakannya pun semakin cepat. Penyu hijau betina akhirnya menghilang dari pandangan.

    Penyu hijau dapat berenang ribuan kilometer. Mereka bisa sampai ke perairan negara mana pun. Tapi akan kembali ke pantai tempat mereka pertama kali mengenal dunia. Saya hanya berharap di tahun mendatang, masih ada harapan bagi orang-orang atau anak cucu kita untuk menikmati prosesi ini.

    Jangan sampai akhirnya kita hanya bisa mengenal penyu hijau di buku-buku ensiklopedia. Harapan kami, seperti juga harapan para pecinta satwa langka dunia, telur-telur ini bisa menetas dan menjadi penyu hijau yang cantik. Lalu datang ke Pantai Jemur atau pantai-pantai Indonesia yang masih alami untuk bertelur lagi.

    Langit masih berhias bintang-bintang kecil, sementara pasir pantai berhiaskan jejak-jejak penyu. Jejak harapan untuk melihat kembali penyu hijau datang ke Pantai Jemur. Selamat jalan Ibu Penyu, anak-anakmu akan menyusul ke lautan.[]

    - Advertisement -

    1 COMMENT

    1. Kalo menurut saya pribadi, budidaya penyu ini lebih baik di lestarikan dengan artian bener-bener tidak di konsumsi publik sehingga penyu-penyu ini tidak trauma, tidak merusak ekosistem.

      Saya pernah liat penyu bertelur di Derawan, saking excitednya manusia ingin melihat proses alam ini, penyu yang sedang bertelur ini dtonton bak nonton film bioskop. Proses bertelurnya di ganggu dengan jepretan-jepretan kamera yang pake flash. Buat saya ini penyiksaan.

      Jadi, kalaupun mau lihat, please, tau diri. Ga usah pake flash dan jangan berisik.

      Be a good traveler and be smart people ….

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here