More
    Home RAGAM PERJALANAN Belajar Islam di Negeri Sekuler Jerman

    Belajar Islam di Negeri Sekuler Jerman

    Iman Herdiana

    Muhamad Heychael, salah satu peneliti peserta program studi Goethe Institut Indonesia bertajuk “Life of Muslims in Germany”. Foto : Iman Herdiana

    Jerman dianggap surganya kaum imigran muslim. Pemeluk Islam di sana tumbuh pesat. Diduga jumlahnya kini mencapai 4,7 juta jiwa. Aliran Islam yang tumbuh pun tak kalah banyak dengan di Indonesia, mulai Sunni sampai Syiah. Mereka melakukan kegiatan keagamaan di ratusan masjid yang tersebar di berbagai kota, hidup berdampingan meski terdapat ketegangan bawaan dari negeri asal.

    - Advertisement -

    Pada 1945, jumlah pemeluk Islam di Jerman sekitar 6.000 saja, mayoritas berasal dari Turki, sebagian dari Timur Tengah dan Afrika terutama Tunisia. Imigran dari Turki paling banyak dan bisa dibilang generasi pertama umat Islam di Jerman. Kedatangan mereka untuk bekerja membangun Jerman yang hancur luluh pasca-kalah Perang Dunia II.

    Jumlah imigran muslim terus meningkat tiap tahunnya. Hingga 2015, pemeluk Islam diperkirakan mencapai 4,5 juta jiwa, menurut data Goethe-Institut Indonesia. Bahkan peneliti dari pusat studi media dan komunikasi Remotv, Muhamad Heychael, menyebut jumlah pemeluk Islam di Jerman mencapai 4,7 juta orang.

    Jumlah itu masih bersifat dugaan. “Karena KTP di sana tidak ada kolom agamanya,” kata Muhamad Heychael yang menjadi salah satu peneliti peserta program studi Goethe Institut Indonesia bertajuk “Life of Muslims in Germany”.

    Tidak adanya kolom agama di kartu tanda penduduk Jerman menyulitkan dilakukan pendataan terhadap agama yang dipeluk penduduk. Peniadaan kolom agama ini menegaskan Jerman sebagai penganut sistem sekularisme, bahwa agama harus terpisah dari negara, agama hanya berada di ruang privat atau personal, bukan di ruang publik. Di Jerman juga tidak ada menteri agama.

    “Tapi sekularisme di Jerman kooperatif, beda dengan di negara-negara lain,” katanya. “Sekularisme bukan anti agama, tapi memisahkan agama di ruang privat.”

    Sistem sekularisme Jerman yang kooperatif membiarkan agama dan keyakinan masyarakat tumbuh bebas tanpa campur tangan negara. Sebaliknya, agama juga tidak mencampuri urusan kenegaraan atau publik. Mereka hidup berdampingan tanpa mempersoalkan perbedaan agama dan keyakinan. Maka Jerman menjadi pusat pertumbuhan beragam agama sampai yang tidak beragama sama sekali. Pemeluk Islam kemudian tumbuh signifikan.

    Sistem sekularisme itu ditopang dengan penegakan hukum yang tegas. Tidak ada antar pemeluk agama yang berani melakukan persekusi maupun kekerasan, apalagi pembakaran rumah ibadah. Mereka taat hukum. Ketatnya penegakan hukum terkait agama ini berlaku pada keluarga. Seorang anak yang memasuki masa dewasa tidak boleh mendapat paksaan dari orangtuanya untuk menjalankan ibadah menurut agama tertentu. Jika ada paksaan itu, si orang tua akan berurusan dengan hukum.

    Di Jerman juga dikenal pajak untuk penganut suatu agama. Namun jika penganut tersebut menyatakan diri atheis, maka pajak agama tak lagi berlaku.

    Sikap tangan terbuka Jerman terhadap Islam, maupun agama lainnya, tak muncul dari ruang hampa. Jerman punya masa lalu yang kelam. Bahkan agama pernah menimbulkan pengalaman traumatis sewaktu negeri ini dipimpin Adolf Hitler yang kerajaannya luluh lantak di Perang Dunia II. Jerman lalu terbagi dua di masa Perang Dingin. Banyak warga Jerman yang pernah merasakan pahit getirnya hidup di pengungsian.

    Catatan sejarah itu di satu sisi membangkitkan tingginya rasa kemanusiaan. Maka ketika Suriah dilanda perang pada 2015 dan diikuti dengan gelombang warganya yang mengungsi ke negeri-negeri Eropa, Jerman menjadi salah satu negara yang terbuka menerima mereka. Warga Jerman tahu betul bagaimana menderitanya jadi pengungsi.

    Heychael menyebut, pada 2015 Jerman menerima 1 juta pengungsi Suriah. Kebijakan ini yang mendongkrak secara signifikan jumlah pemeluk Islam di Jerman.

    Dalam studi yang dilakukan pada Oktober 2017 itu, Heychael mendatangi salah satu pusat pengungsian untuk warga Suriah di Berlin. Di sana, orang Suriah ditempatkan di sebuah apartemen yang sanggup menampung 700 keluarga. Selain mendapat hunian, warga Suriah juga diberi uang sekitar 500 Euro per bulannya, difaslitasi untuk mendapat pekerjaan, dan bagi yang punya ijazah bisa melanjutkan sekolah.

    Sekularisme ala Jerman membuat kaum pendatang leluasa menjalankan kegiatan keagamaannya. Islam berbagai macam aliran tumbuh subur, jumlahnya tak kalah banyak dengan aliran Islam yang ada di Indonesia. Bedanya, di Jerman umat Islam dalam posisi minoritas. Aliran Islam terbesar muslim di Jerman ialah Sunni, yakni 74 persen, sisanya Syiah, Alevi, Ahmadiyah, Islam liberal, Salafi.

    Satu contoh aliran Islam yang tumbuh di Jerman ialah Alevi yang disinyalir berasal dari Syiah, namun oleh kalangan Syiah sendiri dinyatakan sesat. Penganut Alevi mempraktikkan ajaran kebatinan, tidak mendirikan salat, ritualnya cukup dengan berkumpul sambil diskusi dan diakhiri dengan sujud bersama. Penganut Alevi yakin bahwa setiap makhluk memiliki jiwa Tuhan. Sehingga mereka tidak membunuh hewan dan tumbuhan.

    Di tengah bertumbuhnya umat Islam di Jerman, Heychael mencatat sejumlah masalah mendasar terkait hubungan antar warga muslim maupun dengan warga Jerman dan pemerintahannya. Umat Islam di sana berkegiatan di masjid-masjid dengan identitas nasional mereka masing-masing. Misalnya di masjid yang didirikan orang Turki, bahasa yang digunakan adalah bahasa Turki dan Arab. Hampir semua masjid memakai pengantar bahasa Arab, bahkan di masjid yang banyak orang Indonesianya bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia.

    Pemerintah Jerman khawatir karena mereka tidak menggunakan bahasa Jerman. Selain itu, umat Islam di Jerman tidak bernaung dalam satu organisasi, masing-masing berjalan sendiri-sendiri.

    Ajaran Salafi radikal, misalnya, getol merekrut anak-anak muda. Mereka menggunakan internet dalam berdakwah, sasarannya memang anak-anak muda milenial. Kegiatan mereka mudah ditemukan di mesin pencari Google. Salafi di Jerman termasuk yang memberi kontribusi pada gerakan ISIS.

    Dini Alamanda, peneliti lainnya dalam studi tersebut, mengatakan gerakan muslim Salafi radikal sering menjadi sorotan media dan pemerintah Jerman. Para peneliti Jerman sudah mengidentifikasi bahwa Salafi terdiri dari dua golongan. Pertama, Salafi yang berorientasi pada pemurnian ajaran Islam. Ajaran ini banyak tumbuh di Indonesia. Dan yang kedua, Salafi jihad yang menghalalkan kekerasan terhadap yang berbeda keyakinan di luar kelompoknya. Kelompok Salafi jihad inilah yang berkembang di Jerman dan menargetkan anak muda sebagai pengikutnya.

    Masalah lain yang dicatat Heychael ialah masih terdapatnya ketegangan sektarian Sunni-Syiah yang tak lepas dari bayang-bayang konflik bawaan dari negeri asal. Contohnya, para imigran Suria yang datang ke Jerman secara umum telah bersinggungan dengan konflik sektarian dan perang. Ketika mereka bertemu di negeri asing, konflik bawaan itu secara psikologis memicu ingatan traumatis. Memang tidak ada letupan, namun akhirnya mereka tak mau saling membaur karena perbedaan sekte.

    Dalam kondisi itu, anak-anak sebagai pihak yang paling lemah lagi-lagi menjadi korban. Anak-anak pengungsi Suriah di Jerman merasa terasing karena tinggal bukan di negeri sendiri. Mereka menghadapi kultur yang jauh berbeda. Setelah lama tinggal di Jerman dan kembali ke negeri asal, mereka juga merasa negeri asal itu bukan milik mereka. “Mereka seakan tidak punya akar, mengambang,” kata Heychael.

    Di sisi lain, ada juga warga Jerman yang memandang Islam penuh prasangka atau islamophobia. Jumlah mereka sangat kecil. Di antara negara-negara Eropa yang menganggap orang Islam tidak baik, presentase Jerman termasuk yang terkecil, yakni 26 persen. Persentase islamophobia tertinggi di Eropa ditempati Hongaria yang nilainya lebih dari 70 persen. Islamophobia di Jerman muncul bukan karena masalah ideologis maupun sikap rasis, melainkan ada motif ekonomi. Mereka khawatir pekerjaan di dalam negerinya habis oleh pendatang.

    Islamofobia terutama tumbuh di masyarakat yang tinggal di daerah bekas negara Jerman Timur yang kondisi ekonominya lebih lambat dibandingkan Jerman Barat. Menurut Dini Alamanda yang dalam studi tersebut fokus melakukan kajian ke sejumlah kampus yang menggeluti studi Islam, Jerman memandang agama sebagai budaya yang tidak perlu dicurigai. Islamophobia tumbuh karena kurangnya edukasi. Sikap ini terutama ada di masyarakat Jerman yang kurang terdidik dan mudah termakan hoaks.

    Dini melihat upaya mengenal Islam lewat kajian ilmiah justru tumbuh subur di kampus-kampus, salah satunya Humboldt University of Berlin. Di kampus para pemikir sohor seperti G.W.F. Hegel, Albert Einstein, Karl Marx itu, Dini mendapat pendampingan dari Susanne Kaiser, jurnalis yang konsentrasi menulis isu-isu terkait Islam. Kepada Dini, Susanne menuturkan menulis tentang Islam memiliki tantangan yang besar. Susanne kerap menerima banyak email berisi pro dan kontra setiap kali tulisan tentang Islam-nya tayang.[]
    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here