Kayeli sebagai Awal Pusat Pemerintahan
Sebelum tahun 1919, Kayeli adalah ibu kota Pulau Buru. Kejayaan Kayeli sebagai pusat pemerintahan Belanda di sana ditandai dengan berdirinya sebuah benteng yang dibangun pada tahun 1785. Benteng setinggi 2,5 meter itu masih berdiri tegak meskipun ditumbuhi semak belukar, melingkari areal seluas hampir satu hektar. Benteng ini dahulu adalah pusat pemerintahan Belanda di Pulau Buru, di bawah administrasi Provinsi Amboina dengan salah satu gubernurnya yang terkenal yaitu Gouverneur Bernadus Van Pleuren (Detik News, 2020).
Kehadiran Belanda di wilayah Pulau Buru telah memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap pola persebaran kelompok masyarakat Buru di berbagai wilayah di pulau tersebut, dengan menjadikan Kayeli sebagai pusat pertahanan, pelayaran, dan perdagangan pemerintah kolonial Belanda.
Hal ini telah berimplikasi terhadap pola persebaran 13 kelompok masyarakat yang dipusatkan di Kayeli, kemudian ditempatkan secara terpisah di sekitar benteng yaitu; Lumaite, Hukumina, Palamata, Tomahu, dan Masarete di sisi timur; Waisama di sisi selatan; Marulat, Leliali, Tagalisa, Ilat, Kayeli, Bara, dan Lisela di sisi barat.
Pola tersebut terjadi dengan menggunakan pendekatan budaya yaitu berdasarkan aspek kebahasaan. Barbara Dix, menyebutkan bahwa pada abad ke-17 terdapat dua kelompok Bahasa utama di Pulau Buru yaitu Bahasa Hukumina dan Bahasa Kayeli.
Peran Kayeli sebagai ibukota kolonial Belanda di Pulau Buru telah dicatatkan dalam berbagai catatan-catatan para penjelajah Eropa yang pernah singgah dan melintasi wilayah Pulau Buru. Berbagai catatan yang menyatakan kemegahan Kayeli di bawah kekuasaan Belanda salah satunya termaktub dalam tulisan Louis de Bougainville bertajuk “A Voyage Round the World: Performed by Order of His Most Christian Majesty in the Years 1766-1769”.
Louis menceritakan kemegahan pemukiman serta benteng defensie di Kayeli yang begitu megah serta rapih. Di samping itu, keramah-tamahan masyarakat Kayeli dan juga Hindia Belanda dalam menyambutnya ketika berlabuh di Pelabuhan Kayeli menjadi kesan pribadi yang tak dapat dilupakan dalam perjalanannya menjelajah wilayah Hindia timur.
Kayeli juga berperan sebagai pos pemantauan Hindia Belanda terhadap berbagai kapal asing yang berlayar di perairan Buru dan juga sekitar teluk Kayeli. Maka tak heran ketika Belanda berkuasa di sana, terdapat 4 buah Mariam sebagai alat pertahanan yang dipasang di empat sisi benteng defensie.
Sebagai pusat perdagangan yang aktif di wilayah Buru, Kayeli juga berperan sebagai pusat produksi hasil alam Pulau Buru berupa pohon Kayu Arang dan juga Minyak Kayu Putih. Hasil alam yang sangat terkenal sejak saat itu adalah minyak kayu putih yang disuling guna menghasilkan minyak aromaterapi yang berguna untuk kesehatan. Semua hasil alam tersebut kemudian dikirimkan ke Ambon untuk diperdagangkan secara masif di wilayah kekuasaan Belanda di Indonesia Timur.
Selanjutnya, pengaruh Kayeli sebagai ibukota Hindia Belanda di Pulau Buru mulai memudar pada awal abad ke-19 seiring dengan penghapusan sistem monopoli perdagangan rempah-rempah yang terpusat di Kayeli. Selain itu, kondisi lingkungan Kayeli yang merupakan tanah berawa menjadi factor utama perpindahan tersebut. Musibah banjir dan meluapnya sungai Waeapo pada masa itu menyebabkan kerusakan yang teramat parah bagi pemukiman dan infrastruktur yang dibangun oleh Belanda di Kayeli. Sehingga, 31 Agustus 1919, Belanda resmi memindahkan ibukota dari Kayeli ke Namlea.
Namlea sebagai Pusat Pemerintahan Baru Belanda
Pada tanggal 31 Agustus 1919, Belanda resmi memindahkan pusat pemerintahan dari Kayeli ke Namlea. Pemindahan ibukota ini bertepatan dengan ulang tahun ke-39 Ratu Wilhelmina yang sekaligus menjadi penanda awal kekuasaan Belanda di kota Namlea.
Perpindahan pusat pemerintahan Belanda di Pulau Buru ditengarai oleh 2 faktor utama. Pertama, Pemerintah Belanda menilai perpindahan beberapa kelompok masyarakat yang awalnya terpusat di Kayeli sebagai sentral perdagangan rempah-rempah di Pulau Buru ditengarai oleh kebijakan penghapusan monopoli yang terjadi pada awal abad ke-19.
Kedua, kondisi lingkungan dan topografi tanah yang berawa serta memungkinkan terjadinya bencana alam menjadi pemicu utama yang mengakibatkan Belanda memindahkan kekuasaannya ke Namlea. Hal ini dibuktikan dengan tragedi banjir besar yang meluap di sungai Waepo pada awal abad ke-19 sehingga menghancurkan sebagian besar infrastruktur dan pusat perdagangan Belanda di Kayeli. Selain itu, wilayah Kayeli juga memiliki tingkat kerawanan banjir yang tinggi yang dapat mengancam kehidupan dan perdagangan Belanda di Pulau Buru.
Dalam catatan Rumphius berjudul Ambonsche Landbeschrijving, Namlea adalah nama negeri yang merupakan daerah pemukiman bagi penduduk lokal, yang kemudian dikembangkan oleh Belanda sebagai pusat pemerintahan (Mansyur, Jejak VOC-Kolonial Belanda di Pulau Buru (Abad ke 17-20 M), 2014, p. 43). Lokasi yang didiami oleh Belanda sebagai pusat pemerintahan di Namlea didominasi oleh dataran rendah, daerah pantai serta perbukitan yang berhadapan langsung dengan Teluk Kayeli.
Topografi Namlea yang tidak terdapat sungai memungkinkan Belanda untuk memusatkan seluruh kebijakan pemerintahan, perdagangan dan pengawasan rempah-rempah di Pulau Buru karena dinilai relatif aman dari bencana banjir seperti yang terjadi di Kayeli. Di sisi lain, dominasi wilayah dataran rendah yang cukup luas memungkinkan Belanda untuk terus mengembangkan sistem tata kota serta infrastruktur yang memadai untuk menunjang aktivitasnya di Pulau Buru.
Ketika berkuasa di Namlea, Belanda membangun sejumlah infrastruktur untuk mendukung kegiatan perdagangan dan memudahkan proses administrasi selama berada di ibukota baru. Pertumbuhan sistem perkotaan Belanda di kota Namlea ditandai dengan toponim berupa bangunan dan jaringan jalan.
Toponim awal pusat pemerintahan yang dikembangkan di antaranya pelabuhan kecil/lama yang berlokasi di Dusun Bara, serta pasar lama yang berada di Dusun Rete. Infrastruktur lain berupa bangunan adalah Kantor Pemerintah Belanda (saat ini difungsikan sebagai Kantor Legiun Veteran) yang berlokasi di Dusun Bara (Pasar Namlea) dan rumah dinas Pejabat Belanda (yang saat ini difungsikan sebagai Kantor Satpol PP).
Dalam upaya pembangunan kota secara merata, pemerintah Kolonial Belanda membagi pembangunan kota dalam 3 klaster utama. Kluster pertama adalah bangunan yang berfungsi militer berada pada arah utara dan timur bekas kantor pejabat Belanda yang berlokasi di Dusun Bara dan Dusun Mena. Kluster kedua berada di Dusun Rete, yakni arah timur bekas kantor pejabat Belanda yang merupakan ruang aktivitas ekonomi dengan keberadaan pasar.
Kluster ketiga adalah Dusun Sehe yang terdiri atas ruang pemukiman bagi warga asli Buru (arah barat laut bekas kantor pejabat Belanda). Semua kluster-kluster tersebut dibangun sebagai upaya untuk menunjang kota Namlea sebagai ibu kota baru serta menunjang aktivitas politik, ekonomi dan social selama menduduki wilayah tersebut.
Pemindahan pusat pemerintahan pemerintah Hindia Belanda ke Namlea ternyata menuai kecaman dari warga setempat. Pasalnya, perlakuan diskriminatif dan monopoli perdagangan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda memiskinkan masyarakat baik yang terjadi di ibukota lama (Kayeli) maupun kota Namlea yang pada saat itu menjadi pusat perdagangan rempah-rempah di Buru.
Peraturan-peraturan yang terkesan diskriminatif terhadap pribumi serta perlakuan-perlakuan tidak manusiawi yang dilakukan oleh pemerintah kolonial terhadap masyarakat Buru dan Maluku, turut berkontribusi terhadap pembentukan gerakan-gerakan sipil anti-Belanda yang dipelopori oleh para pemuda-pemudi yang ada di Pulau Buru.
Gerakan-gerakan anti-Belanda dan semangat nasionalisme untuk merdeka menjadi motivasi awal pecahnya perlawananan masyarakat Buru dalam melawan Belanda hingga dekade awal kemerdekaan Indonesia. Para pemuda yang tergabung dalam gerakan revolusi Merah Putih bersatu untuk berjuang melawan Belanda hingga mencapai puncaknya pada tahun 1946. Tahun-tahun tersebut menjadi penanda semangat revolusi yang terus berkobar di Buru untuk mengusir penjajah Belanda dari Pulau Buru.
Perlawanan Pemuda Merah Putih
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






