More

    Jejak Pergerakan Kemerdekaan di Pulau Buru

    Penyerangan Pos Tentara KNIL di Pal-4

    Pengibaran bendera Merah Putih dan penyerahan kedaulatan oleh pemerintah Kolonial Belanda kepada Pemimpin Gerakan Pemuda Merah Putih ternyata tidak lantas menyelesaikan persoalan yang dihadapi para pemuda dengan Belanda. Hal ini lantas memantik perjuangan lain yang harus dilakukan oleh para pemuda guna menumpas Belanda yang masih menduduki Pulau Buru.

    Pada pukul 11 siang, Abdullah bin Thalib bersama 30 orang pejuang memimpin penyerangan Pemuda Merah Putih ke pos tantara KNIL di Pal4. Penyerangan tersebut dilakukan menggunakan mobil truk dan berbekal 8 buah senjata yang semuanya merupakan hasil rampasan dari pemerintah kolonial Belanda.

    - Advertisement -

    Setibanya di pos tantara KNIL di Pal-4, komandan pasukan berteriak dengan suara lantang “Merdeka, angkat tangan, menyerah atau mati”. Namun, KNIL yang dipimpin oleh Telehala sama sekali tidak menghiraukan perintah tersebut, ia lantas lari meninggalkan pos dan tertembak oleh timah panas hasil bidikan Abdullah bin Thalib. Setelah membunuh pimpinan KNIL, pasukan Merah Putih akhirnya meringkus 5 orang tentara KNIL untuk dibawa sebagai tawanan perang ke kantor HPB yang sejak saat itu beralih fungsi sebagai markas komando pasukan Merah Putih.

    Pada tanggal 8 April 1946 pukul 13.00 WIT, rapat kilat dipimpin oleh Adam Pattisahusiwa di kantor HPB yang dijadikan sebagai Basis Komando. Rapat yang diikuti oleh para komandan pasukan tersebut akhirnya menetapkan 6 keputusan, yaitu; (1) Memperkuat pertahanan di kota Namlea untuk mengantisipasi serangan balasan dari musuh baik dari dalam maupun dari luar; (2) Pemuda Merah Putih dilarang keluar kota Namlea apabila tidak ada perintah.

    (3) Tawanan perang diberi makan setiap hari dan tidak diperbolehkan untuk berlaku kasar terhadap mereka. Keamanan tawanan dan keluarganya harus terjamin; (4) Bila ada musuh yang menyerang tetap pertahankan dengan semboyan MERDEKA atau MATI; (5) Bila musuh lebih kuat, mundur secara tertib, dan terkoordinasi menuju desa Siahoni sebagai basis pertahanan; (6) Setelah berkumpul di desa Siahoni, segera susun kekuatan dan musuh diserang dengan teknik gerilya ke kota Namlea.

    Pada tanggal 9 April 1946, terjadi peristiwa agresi Belanda yang dilakukan oleh serdadu KNIL. Serdadu KNIL bersenjata lengkap berjumlah satu pleton tersebut dibawa oleh kapal dari Ambon yang berakhir kandas pada batu karang sekitar 150 meter dari tepian pantai Namlea. Setelah itu, 3 orang serdadu KNIL turun ke jembatan Namlea dan kemudian disambut oleh perwakilan Pemuda Merah Putih yaitu Abdul Majid Tan. Saat itu semua pemuda Merah Putih telah siap pada posisi masing-masing untuk mengusir gerombolan KNIL tersebut.

    Abdul Majid Tan yang bertugas menyambut para tantara KNIL tersebut sempat melakukan dialog dengan ketiga tantara KNIL tersebut, ia ditanyai mengenai keberadaan pimpinan HPB dan dijelaskan secara tegas bahwa yang bersangkutan sedang berada di kantor. Ketiga serdadu KNIL akhirnya memutuskan untuk bertemu dengan pimpinan HPB di kantor.

    Alih-alih baru melangkahkan kaki menuju kantor HPB, terdengar suara tembakan yang cukup keras dari arah kanan jembatan dan komandan KNIL akhirnya terjatuh dan mati di tempat. Timah panas yang menembus pimpinan KNIL tersebut berasal dari bidikan Abdullah Kabau atas Kerjasama strategi yang luar biasa bersama Abdul Majid Tan. Akhirnya, dua anak buah serdadu KNIL tersebut ditawan sebagai tawanan perang.

    Terbunuhnya pimpinan serdadu KNIL menyebabkan terjadinya tembak menembak antara Pasukan Pemuda Merah Putih dan gerombolan KNIL yang berada di atas kapal. Pemuda Merah Putih dengan teriakan MERDEKA membalas serangan membabi buta yang diarahkan ke kapal tempat di mana KNIL berada. Alhasil, gerombolan tantara KNIL melarikan diri dari Pelabuhan Namlea menuju Ambon.

    Pada tanggal 10 April 1946, sekelompok serdadu KNIL Kembali datang ke Namlea degan dua buah kapal biasa dan satu kapal perang. Sebelum melakukan pendaratan di Pelabuhan Namlea, tentara KNIL melakukan penempaban membabi buta dari atas kapal ke arah kota Namlea, sementara pemuda merah putih tetap bertahan dan membalas serangan tersebut.

    Dalam tempo tempo 2 jam serangan berlangsung. Dengan pertimbangan keterbatasan amunisi dan persenjataan yang belum lengkap, para komandan pasukan “Pemuda Merah Putih” kemudian memberi komando, agar pasukan mundur dan bergerak ke basis pertahanan baru di Desa Siahoni, sesuai hasil kesepakatan rapat.

    Mereka yang terlupakan

    Jejak perjuangan pasukan pemuda Merah Putih menjadi tonggak sejarah perjuangan para pahlawan yang sangat luar biasa dalam konteks sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia di Pulau Buru. Usaha-usaha yang dilakukan oleh para pejuang merupakan manifestasi dari rasa cinta yang tinggi kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    Ironisnya, sejarah perjuangan dan patriotisme para veteran Buru yang tergabung dalam barisan “pemuda merah putih” hingga kini belum menjadi perhatian negara. Kisah-kisah heroik perjuangan para pemuda Buru seperti Abdullah Bin Thalib, Adam Pattisahusiwa, Abdurahman Wamnebo, dan para pemuda lainnya hanya menjadi riwayat sejarah belaka. Riwayat ini seharusnya menjadi perhatian besar sebagai bagian dari arsip sejarah daerah yang harus terus dijaga, dituturkan dan dipelihara oleh negara dan bahkan daerah.

    75 tahun tonggak sejarah perjuangan bangsa merupakan momentum yang baik bagi setiap elemen bangsa untuk terus mengenang arwah para pejuang yang dengan gigih menaruh perhatian besar dalam perjuangan pergerakan kemerdekaan untuk menumpas kekuasaan Belanda di Namlea dan Pulau Buru. Nama-nama besar para pejuang yang dengan gigih melawan Belanda kini hanya menjadi kenagan di mata keluarga. Janji atas janji akan penghargaan berupa gelar pahlawan kepada para pejuang hingga kini belum terwujud. 

    Situs benteng Kayeli yang merupakan bagian cagar budaya yang perlu direkonstruksi Kembali hingga kini belum terwujud. Padahal, Kayeli pada masanya adalah wilayah yang berperan penting sebagai pusat perdagangan, pelayaran dan pemerintahan pemerintah Kolonial Belanda yang sarat akan nilai historis yang tinggi.

    Pada akhirnya, eksistensi Hindia Belanda dan kisah heroik para pejuang akan selalu mewarnai setiap sudut kota Namlea dan Kayeli yang dulu pernah menjadi ibu kota Belanda serta poros-poros strategis perjuangan para pemuda Merah Putih yang sangat gigih dalam menentang pasukan Belanda.

    Dari rumah Abdullah bin Thalib, bangunan kantor HPB, Pelabuhan Lama Namlea, Rumah Dinas Kepala HPB, Nametek, Pal-4, hingga Desa Siahoni, semuanya adalah saksi bisu kerasnya perlawanan para veteran Buru untuk mengibarkan sang saka Merah Putih di tanah Minyak Kayu Putih.

    *Muhammad Rizal Saanun, S.IP., Master Candidate of Paramadina Graduate School of Diplomacy

    Daftar Pustaka

    Andaya, L. Y. (1993). The World of Maluku: eastern Indonesia in the early modern period. Honolulu: University of Hawaii Press.

    Detik News. (2020, Agustus 17). Kayeli Kota Yang Hilang. Retrieved from www.detiknews.com: https://news.detik.com/berita/d-1627296/kayeli–kota-yang-hilang

    Leirissa, R. (1973). Kebijaksanaan VOC untuk Mendapatkan Monopoli Perdagangan Cengkeh di Maluku Tengah antara Tahun 1615 dan 1652. Lembaga Penelitian Sejarah Maluku, 86.

    Mansyur, S. (2012, Juli). Pulau Buru Masa Perang Dunia II: Perspektif Arkeo-Historis. Kapata Arkeologi , Vol. 8 Nomor 1, 44.

    Mansyur, S. (2014). Jejak VOC-Kolonial Belanda di Pulau Buru (Abad 17-20 M). Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Vol. 32 No. 1, 33.

    Mansyur, S. (2014). Jejak VOC-Kolonial Belanda di Pulau Buru (Abad ke 17-20 M). Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Vol. 32 No. 1, 43.

    Mansyur, S. (2014). Jejak VOC-Kolonial Belanda di Pulau Buru (Abada 17-20 M). Jurnal Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Vol. 32, 32.

    Pamungkas, M. F. (2020, Agustus 16). Pulau Buru dalam Kenangan Penjelajah Prancis. Retrieved from historia.id: https://historia.id/histeria/articles/pulau-buru-dalam-kenangan-penjelajah-prancis-DrLAL

    Daftar Pustaka

    Taleb Bin Thalib, Pulau Buru pada Masa Revolusi Fisik Tahun 1946 : Sejarah Perjuangan Rakyat Pulau Buru dalam Menentang Penjajah Belanda (naskah dalam tulisan tangan). Cabang Markas Legiun Veteran R.I Pulau Buru

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here