More

    Jejak Pergerakan Kemerdekaan di Pulau Buru

    Perlawanan Pemuda Merah Putih 

    Pemindahan ibukota pemerintah kolonial Belanda ke Namlea telah memicu berbagai perlawanan dari penduduk pribumi. Perlakuan diskriminatif, monopoli perdagangan, serta berbagai perlakuan-perlakuan yang tidak manusiawi pemerintah kolonial menyebabkan bangkitnya revolusi untuk menentang dan melawan Belanda. Gerakan bawah tanah atau clandestine yang diinisiasi oleh para pemuda Buru menjadi jalan tengah yang cukup efektif untuk membakar semangat untuk maju menentang serta mengakhiri kekuasaan Belanda di Pulau Buru. 

    Pada tanggal 4 April 1946 tepatnya pukul 12 WIT, sebuah kapal besar bernama KM. Sindoro tiba dan berlabuh di Teluk Namlea. Hal ini lantas memantik perhatian Abdullah Bin Thalib (Ami Do) untuk mengetahui tujuan kedatangan kapal tersebut. Selanjutnya, ia memerintahkan Taleb bin Thalib, Hamis Saanun, dan Yusuf Tjan untuk mendayung perahu kecil menuju kapal tersebut.

    - Advertisement -

    Ketika perahu tersebut mendekati kapal, terlihat kibaran bendera Merah Putih di atas kapal. Penumpang kapal yang melihat kedatangan ketiga pemuda tersebut lantas memekikkan sebutan “merdeka”. Ketiga pemuda tersebut kemudian dipersilahkan untuk naik ke KM. Sindoro.

    Awak kapal menjelaskan perjalanan mereka dari pulau Jawa ke Indonesia Timur sambil menunjukkan foto Bung Karno, Bung Tomo, Y. Latuharhari, serta para pemuda yang sedang berjuang untuk mengusir Belanda di pulau Jawa. Tindakan yang dilakukan oleh awak kapal bertujuan untuk membakar semangat nasionalisme dan patriotisme para pemuda Buru yang sedang berjuang melawan penjajah Belanda di Pulau Buru.

    Ketika bertemu dengan ketiga pemuda pulau Buru, awak kapal bertanya terkait status Pulau Buru, dengan lantang ketiga pemuda tersebut menginformasikan bahwa pemerintahan dan kekuasaan atas Pulau Buru masih di bawah kendali Belanda sehingga awak kapal diminta untuk bertemu dengan para pemuda Buru. Awak kapal dipimpin oleh Raden Yusuf Kartadikusuma, Ibrahim Saleh (kapten kapal), dan Anton Papilaya (Tim PNC) sedangkan yang tetap tinggal di kapal adalah Yos Sudarso, Dominggus Pattinasarane, Welly Noya, Agus Hektari, Mulyadi, Djafar, Polnaya, Espiano dan juga Ana Luhukay.

    Setelah tiba, rombongan disambut oleh Abdullah Bin Thalib dan teman-teman pemuda Buru lainnya. Ketua tim rombongan menjelaskan bahwa mereka merupakan Badan Propaganda Daerah Seberang yang mendapat perintah dari Biro Propaganda Pemerintah Republik Indonesia berkedudukan sementara di Yogyakarta, tugas utama tim ini adalah menyiarkan propaganda tentang kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamirkan pada 17 Agustus 1945.

    Berita tentang kemerdekaan Indonesia menjadi kabar bahagia yang secara spontan membakar semangat nasionalisme dan patriotism untuk mengusir Belanda dari Pulau Buru. Yusuf Kartadikusuma sempat membagikan kisah heroik para pemuda di Pulau Jawa dalam melawan Belanda dengan motto Merdeka atau Mati. 

    Terinspirasi dari kisah heroik yang dilakukan oleh para pemuda di Pulau Jawa, Abdullah bin Thalib akhirnya melakukan konsolidasi kekuatan dengan menugaskan seorang pemuda untuk memberitakan kabar gembira ini kepada Adam Pattisahusiwa. Konsolidasi ini bertujuan untuk menghimpun kekuatan pemuda dan juga menyebarluaskan kabar kemerdekaan Indonesia di Pulau Buru. Dialog-dialog yang dilakukan di rumah Abdullah Bin Thalib secara tertutup dan rahasia tersebut berlangsung hingga 5 sore.

    Besoknya pada tanggal 5 April 1946 pukul 09.00 WIT, pertemuan ke-2 diselenggarkan di tempat yang sama. Rombongan KM. Sindoro ikut serta dalam pertemuan yang terdiri atas Ibrahmi Saleh (Kapten Kapal), Raden Yusuf Kartadikusuma (pimpinan rombongan), Papilaya, Yos Sudarso, Dominggus Pattinasrani, dan Ana Luhukai. Akhir dari pertemuan ini ditutup dengan kobaran semangat untuk merdeka dan motivasi untuk melawan Belanda yang masih berkuasa di Pulau Buru.

    Konsolidasi Pemuda Merah Putih Melawan Belanda

    Pada tanggal 6 Agustus 1946, pertemuan rahasia digagas oleh Adam Pattisahusiwa dalam areal pohon kelapa yang berlokasi di daerah Nametek. Rapat yang dipimpin oleh Adam Pattisahusiwa, Abdullah Bin Thalib dan Papilaya dihadiri oleh 60 orang pemuda Buru. Rapat tersebut bertujuan untuk menyampaikan hasil pertemuan dengan Tim Propaganda Kemerdekaan yang telah bertemu dengan timnya beberapa waktu lalu.

    Dalam rapat rahasia tersebut, Adam menyampaikan pidato yang sangat visioner untuk membakar semangat para pemuda Buru untuk tetap menjujung tinggi nasionalisme dan patriotisme dalam memerangi penjajah Belanda. Pada rapat tersebut, pemimpin pemuda Merah Putih yakni Adam Pattisahusiwa dan Abdullah bin Thalib telah mengambil keputusan untuk melakukan penyerbuan ke kota Namlea pada tanggal 8 April 1946 pukul 08.00 pagi WIT.

    Penyerbuan Kota Namlea

    Tanggal 8 April 1946 merupakan tanggal bersejarah yang ditandai dengan penyerbuan kota Namlea oleh Pemuda Merah Putih. Penyerbuan ini dilakukan untuk menaklukan tentara KNIL (Nederlandsch Indie Civil Administratie atau Netherlands-Indies Civil Administration (NICA) yang saat itu masih berkuasa di Pulau Buru.

    Penyerbuan Pemuda Merah Putih ke kota Namlea dilakukan dari tiga penjuru mata angin yakni; dari arah timur (Nametek) dipimpin oleh Adam Patisahusiwa; dari arah barat (Pohon Durian) dimpin oleh Abdullah bin Thalib; dan arah utara dipimpin oleh Hamid Koja. Sebelum serangan dimulai, Jamaludin Mahulete mengeluarkan satu tembakan sebagai aba-aba kepada para pemuda untuk memulai serangan. Penyerbuan ke kota Namlea menargetkan 5 lokasi strategis yaitu Asrama Polisi Belanda; Kantor Polisi Belanda; Kantor HPB (Houfd Van PLastelyk Bestuur); Kantor Telegrap; dan rumah Kepala Kantor HPB.

    Setelah 5 lokasi strategis dikuasai oleh para pemuda, komandan Pemuda Merah Putih menginstruksikan untuk menahan semua pegawai NICA dan mengurung mereka di Kantor HPB. Selain itu, para pemuda juga menyita persenjataan yang dimiliki oleh NICA dan apabila ada yang melakukan perlawanan terhadap tindakan yang dilakukan, maka konsekuensinya adalah ditembak mati di tempat.

    Setelah itu, komandan pasukan Pemuda Merah Putih kemudian menginstruksikan untuk tidak merusak atau mengambil barang-barang yang ada di rumah-rumah penduduk, barang-barang milik pedagang serta harta benda mereka, dan juga rumah milik pemerintah Kolonial Belanda.

    Melihat bendera Belanda yang masih berkibar di depan kantor HPB, komandan pasukan Merah Putih memerintahkan untuk menurunkan bendera Belanda tersebut. Prosesi penurunan bendera Belanda tersebut diwarnai dengan kejadian kecil yakni tersangkutnya bendera tersebut pada saat diturunkan. Pada saat itu, Ibrahim Umasugi ditugaskan oleh Abdurahman Wamnebo untuk memanjat tiang bendera guna melepaskan sangkutan itu, sehingga bendera Belanda akhirnya diturunkan.

    Prosesi penurunan bendera Belanda di depan kantor HPB diwarnai dengan dirobeknya warna biru pada bendera Belanda oleh Abdurahman Wamnebo. Kejadian ini lantas memantik semangat para pemuda untuk melakukan persiapan mengibarkan sang saka Merah Putih di Pulau Buru.

    Prosesi pengibaran bendera Merah Putih di depan kantor HPB dilakukan oleh para pemuda terdiri oleh; Raden Ahmad yang bertindak untuk memimpin lagu Indonesia Raya; Syarif Tasijawa berperan sebagai komandan upacara; serta inspektur upacara dipimpin oleh Adam Pattisahusiwa. Sedangkan yang bertindak sebagai penggerek bendera dipimpin oleh Abdul Majid Tan dan Abdurahman Wamnebo.

    Selanjutnya, prosesi upacara bendera sebagai penanda bebasnya Namlea dari kekuasaan Belanda dilaksanakan pada jam 10 pagi WIT. Para pemuda seperti Abdul Halim Tan, Hamis Saanun, Abdullah Kabau, Salim Umaternate, dan Muhammad Barges menyampaikan berita kepada masyarakat Namlea untuk menyaksikan prosesi upacara pengibaran bendera Merah Putih di depan kantor HPB.

    Pengibaran bendera Merah Putih yang jatuh pada tanggal 8 April 1946 pukul 10.30 pagi WIT juga menandai akhir kekuasaan Belanda atas kota Namlea yang ditandai dengan peristiwa penyerahan kedaulatan dan kekuasaan dari kepala kantor HPB yakni G. Gaspers kepada Pimpinan Gerakan Merah Putih Adam Pattisahusiwa.

    Penyerangan Pos Tentara KNIL di Pal-4

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here