More

    Melankoli Perselingkuhan, Melankoli Kematian

    C. Membaca Plot dalam Nokturnal Melankolia

    Plot atau alur adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun sebagai urutan bagian-bagian dalam keseluruhan fiksi. Dengan demikian, plot merupakan perpaduan unsur-unsur yang membangun cerita sehingga menjadi kerangka utama cerita. Plot merupakan ke-rangka dasar yang amat penting. Plot mengatur bagaimana tindakan-tindakan para tokoh harus berkaitan satu sama lain, bagaimana suatu peristiwa mempunyai hubungan dengan peristiwa lain, serta bagaimana tokoh digambarkan dan berperan di dalam peristiwa itu.

    William Kenney dalam bukunya “How To Analyze Fiction (1966)” pada halaman 13 menyatakan bahwa “The structure of plots divided into three parts. They are the beginning which consists of the exposition on introduction, the middle which consists of conflict, complication and climax and the end which converses resolution” (Struktur plot dibagi menjadi tiga bagian. Bagian awal yang merupakan dari eksposisi sebagai pengantar; bagian tengah yang terdiri dari konflik, komplikasi ,dan klimaks; serta bagian akhir yang berbicara tentang resolusi). Di dalam plot juga terdapat konflik. Konflik yang terjadi disebabkan adanya motivasi, tindakan para tokoh, dan unsur sebab-akibat dalam peristiwa. Kenney (1966:95) menyatakan “motivation as reason why the characters do what they do” (motivasi sebagai alasan perihal mengapa setiap karakter melakukan hal yang mereka lakukan).

    - Advertisement -

    Sifat plot itu ada yang tertutup dan ada yang terbuka. Plot dikatakan tertutup kalau konflik utamanya terselesaikan. Plot dikatakan terbuka kalau konflik utamanya tidak terselesaikan.

    Selain itu, secara teknik, bentuk plot ada yang linier: dimulai pada saat kini (dalam cerita) dan mengalir terus ke masa depan (dalam cerita). Plot juga ada yang disusun secara nonliner, misalnya dimulai dari akhir cerita, selanjutnya bergerak mundur ke masa lalu dari cerita (flashback). Masih dalam teknik nonlinier, plot juga ada yang dimulai dari tengah cerita (istilah teknisnya “In Medias Res”), lalu bisa bergerak linier dan atau flashback.

    Cerpen-cerpen di dalam buku Nokturnal Melankolia menggunakan dua jenis bentuk plot itu—baik linier maupun nonlinier. Plot dengan teknik linier dapat kita baca pada cerpen-cerpen yang berjudul “Veronika Memutuskan untuk Mati”, “La Jolie Chat”, “Nocturne”, “Matinya Seekor Kucing Hitam”, “Cupcake untuk Kaka”, “Perempuan Penari”, dan “Malam Kelima Belas”. Sedangkan cerpen-cerpen yang menggunakan plot nonlinier adalah “Cemani yang Tak Mau Pergi”, “Gloomy Sunday”, “Gadis dari Masa Lalu”, “Betina”, “Berbie”, “Dewi”, “Rezeki Cuanki”, “Lelaki dan Kera Putih”, dan “Obituarium Seorang Kekasih”. Dari bentuk plot yang digunakan terlihat bahwa Angelina Enny sebagai pengarang kumpulan cerpen ini lebih cende-rung menggunakan bentuk plot nonlinier (9 buah cerpen), ketimbang menggunakan bentuk plot yang linier (7 buah cerpen). Cerpen-cerpen yang menggunakan bentuk plot linier adalah cerpen realis, sedangkan cerpen yang menggunakan bentuk plot nonlinier cenderung nonrealis.

    Sebagai contoh cerpen yang menggunakan teknik plot nonlinier dan bergenre nonrealis dapat kita baca pada cerpen yang berjudul “Betina”. Di awal cerita kita cenderung menduga bahwa tokoh protagonis yang sekaligus menjadi narator cerpen ini adalah seorang perempuan. Angelina Enny dengan lihai menyusun plotnya, sehingga hanya setelah paragraf terakhir para pembacanya akan tahu bahwa sang protagonis bukan seorang manusia, melainkan seekor anjing betina:

    Namun sebelum aku siap menyerang lagi, si Jangkung keburu menghampiri dan membekapku. Batu akik di jarinya mengeluarkan kilatan merah. Aku teringat pada malam kemarin, ketika kilat itu datang bersama suara cempreng dan bayangan tubuh kerempeng. Lalu ia memasukkanku ke dalam karung, dan aku hanya bisa pasrah pada apa yang akan terjadi. (Betina, halaman 116)

    Apakah cerpen “Betina” memiliki akhir yang terbuka atau tertutup? Sebagian pembaca mungkin akan menduga, setelah membaca paragraf penutup cerpen “Betina” itu, bahwa plot berakhir terbuka. Namun, bila kita menilik pengertian sebelumnya soal plot tertutup atau terbuka—terkait apakah konflik utamanya terselesaikan atau tidak—maka saya menyimpulkan bahwa cerpen “Betina” ini mengambil bentuk plot tertutup. Konflik utama dalam cerpen ini adalah jenis “konflik publik”, konflik yang terjadi antara protagonis melawan masyarakat, karena protagonis memiliki nilai-nilai atau keyakinan yang bertentangan dengan masyarakatnya. Pro-tagonis (anjing betina) berhadapan dengan gerombolan preman (antagonis) pada satu kampung kumuh di pinggiran Kali Angke:

    Tidak seperti kata leluluhurku lagi, tidak seperti anjing, manusia memang ti-dak tahu berterima kasih. Bahkan anjing pun tahu kepada siapa mereka mengabdi, kendati manusia sering merendahkan manusia lainnya dengan menyebut “anjing”, mereka tidak lebih tinggi daripada seekor anjing untuk menghargai sesamanya. (Betina, halaman 106)

    Konflik antara protagonis (anjing betina) dan antagonis (gerombolan preman) pada bagian akhir cerpen selesai dengan kemenangan gerombolan preman, kemenangan bagi kelompok yang menurut pengarang telah dikaden secara moral. Anjing betina yang mencintai seorang pengamen jalanan bernama Joni—karena pernah menolongnya dari penganiayaan gerombolan preman—harus menyaksikan Joni mati terbunuh karena dituduh membunuh anak gadis tukang warung. Sedangkan anjing betina itu pada akhirnya harus masuk karung dan siap dibunuh pula. Konflik utama bisa diselesaikan sebagai sebuah ironi yang pahit tentu saja: kemenangan bagi masyarakat dekaden.

    Apakah cerpen “Betina” di atas termasuk cerita absurd, hanya oleh sebab tokoh pro-tagonisnya adalah seekor anjing betina yang bisa jatuh hati dengan seorang pengamen jalanan dan memiliki kesadaran moral? Untuk mendapatkan jawaban yang benar terhadap pertanyaan di atas, maka kita terlebih dahulu mesti memahami apa yang dimaksud dengan absurditas dalam konteks logika dan filsafat. Menurut ilmu logika, konsep absurditas sebenarnya terkait dengan “prinsip ledakan”. Prinsip ledakan timbul bila dan hanya bila kontradiksi dari satu proposisi diletakkan dalam konteks sebab-akibat pada kriteria kebenaran yang menggunakan implikasi material.

    Prinsip ledakan (Latin: ex falso, sequitur: “dari kepalsuan, dapat muncul segalanya”; atau ex contradictione, sequitur: “dari kontradiksi, dapat muncul segalanya”), atau lebih dikenal sebagai prinsip pseudo scotus, adalah salah satu hukum dalam logika klasik dan logika modern. Dari prinsip ledakan tersebut sebuah inferensi logis apa pun dapat dibuktikan dari kontradiksi. Artinya, sekali kontradiksi telah menegaskan, maka setiap proposisi (termasuk negasi mereka) dapat disimpulkan dari sana. Contoh proposisi yang mengandung prinsip ledakan: “Jika Tuhan adalah transenden dan Tuhan adalah bukan transenden, maka kita boleh saling membunuh untuk membela Tuhan masing-masing”; atau, “Jika Tuhan adalah imanen dan Tuhan adalah bukan imanen, maka kita adalah pusat semesta”. Bila kedua contoh proposisi di atas hendak difor-mulasikan dalam logika proposisional dan teori kebenaran semantik dari Alfred Tarski, maka bisa ditulis seperti ini: p ∧ ¬ p → s (dibaca: jika proposisi atomik “p” dan ingkaran proposisi atomik “p” adalah kontradiksi, maka konklusinya adalah proposisi atomik “s”). Tafsir atas proposisi implikasi material di atas hendak membuktikan bahwa antara anteseden (sebab) dan konsekuen (akibat), tak ada relasi sebab-akibat, sehingga dapat ditarik kesimpulan apa pun tanpa mesti mempertimbangkan validitas argumen. Dalam konteks logika itulah sebenarnya yang di-maksud dengan absurd. Pengertian absurd dalam konteks logika di atas, selaras dengan per-nyataan Samuel Beckett, dramawan kelahiran Irlandia yang dikenal lewat karyanya “Menunggu Godot”, tentang absurditas: “Hal yang absurd hadir tanpa alasan.”

    Bila kita membaca secara detil cerpen “Betina”, maka terlihat jelas bahwa proposisi utama dalam cerpen ini sama sekali tak mengandung unsur absurditas. Jika masyarakat telah dekaden secara moral, maka individu yang berusaha menjaga integritas moralnya akan dengan gampang dikalahkan ketika mencoba melawan masyarakat yang dekaden itu. Itulah proposisi utama dalam cerpen ini. Dan itu logis, sama sekali tak ada unsur kontradiksi di sana. Relasi sebab-akibat yang timbul dalam cerpen “Betina” juga logis. Anjing betina dan Joni, pemuda pengamen yang dicintai anjing betina, mesti mati dalam masyarakat yang dekaden. Alasan kematian mereka adalah karena prasangka dari gerombolan preman bahwa Joni telah membunuh anak gadis pemilik warung, meski tuduhan itu belum tentu benar. Namun, bagi masyarakat yang dekaden, sebuah prasangka bisa dianggap sebagai kebenaran, sebagai kepastian rigorous. Jadi, cerpen ini memang terbukti tak memenuhi kriteria perihal absurditas.

    Lalu, ini cerpen bergaya apa? Saya bisa mengatakan bahwa ini adalah cerpen nonrealis dengan gaya satire-simbolis. Satire, karena cerpen ini mengkritik dengan keras perihal dekadensi moral pada satu masyarakat dengan cara membuat seekor anjing betina menjadi protagonis, menjadi tokoh utama yang memiliki perspektif moral. Simbolis, karena protagonis cerpen ini adalah seekor anjing betina yang dalam realitas masyarakat Indonesia, masyarakat yang mayoritas beragama Islam, dipandang sebagai hewan najis, hewan berbahaya dan hina; sementara dalam cerpen ini digambarkan bahwa sang anjing betina justru memiliki perasaan yang halus dan berpikir laiknya manusia.

    Lalu, cerpen apa di dalam kumpulan ini yang memenuhi kriteria absurditas? Saya justru menemukan hal itu pada cerpen terakhir, yaitu pada cerpen yang berjudul “Obituarium Seorang Kekasih”. Kenapa? Karena saya tak menemukan alasan atau motivasi yang membuat salah satu protagonis (kolektor lukisan) melakukan bunuh diri. Pahamkah? Jika belum, silakan baca lagi uraian saya soal “prinsip ledakan” di atas (atau di dalam “Apendiks 1” pada bagian akhir esai saya ini). Terima kasih.

    Bandarlampung, 15 November 2017

    Ahmad Yulden Erwin

    ——————————–

    APENDIKS 1: PRINSIP LEDAKAN (ABSURDITAS) DAN LOGIKA

    Prinsip ledakan (Latin: ex falso quodlibet: “dari kesalahan dapat muncul kesimpulan apa pun”; atau ex contradictione quodlibet: “dari kontradiksi dapat muncul kesimpulan apa pun”), atau prinsip “Pseudo-Scotus”, adalah salah satu prinsip inferensi di dalam logika klasik, logika intuisionalistik, dan sistem logika yang sejenis. Di dalam prinsip ledakan pernyataan apa pun dapat dibuktikan dari kontradiksi atau kesalahan infrensi logis. Artinya, sekali inferensi logis memunculkan kontradiksi, maka setiap konklusi apa pun dapat tercipta darinya. Bila hendak dituliskan dalam bahasa logika intuisionalistik, maka prinsip ledakan itu dapat diformulasikan menjadi sebuah inferensi logis seperti ini: (ϕ ∧ ¬ϕ) ⊢ ψ. Contoh, bila saya menyatakan bahwa “saya ada di sini” dan (sekaligus) “saya tak ada di sini”, maka konklusinya adalah “sebuah meteor sedang melintasi langit”. Itu jelas merupakan inferensi logis yang absurd karena konklusi itu tidak ada sebagai terma di dalam premis-premisnya, seperti tiba-tiba saja muncul dari kehampaan.

    Dengan menggunakan bahasa logika intuisionalistik, berikut bukti (proof) dari prinsip ledakan: (ϕ ∧ ¬ϕ) ⊢ ψ

    Bila:
    ϕ (phi), ψ (psi), ω (omega) = proposisi atomik
    ∧ = konjugasi (operator logika untuk “dan”)
    ¬ = negasi
    ∨ = disjungsi (operator logika untuk “atau”)
    ⊢ = “terbukti (dalam satu sistem tertentu)” atau “implikasi” (operator logika untuk “maka”)

    Maka:
    1. ϕ ∧ ¬ ϕ (asumsi)
    2. ϕ (dari 1 dengan menggunakan eliminasi konjungsi)
    3. ¬ ϕ (dari 1 dengan menggunakan eliminasi konjungsi)
    4. ϕ ∨ ψ (dari 2 dengan menggunakan penambahan disjungsi)
    5. ψ (dari 3 dan 4 dengan menggunakan silogisme disjungtif)
    6. (ϕ ∧ ¬ϕ) ⊢ ψ (dari 5 dengan menggunakan pembuktian implikasi pada asumsi 1)

    Logika parakonsistensi berusaha membantah argumen dari logika klasik tentang “prinsip ledakan”. Menurut para logikawan parakonsistensi, seperti Jean-Yves Beziau dan Graham Priest, bila hendak meninggalkan “prinsip ledakan”, maka seseorang harus meninggalkan setidaknya satu dari tiga prinsip logika proposisional berikut ini:

    1. Penambahan disjungsi: ϕ ⊢ ϕ ∨ ψ
    2. Silogisme disjungsi: ϕ ∨ ψ, ¬ ϕ ⊢ ψ
    3. Transitivitas dari infrensi: Jika ϕ ⊢ ψ dan ψ ⊢ ω, maka ϕ ⊢ ω

    Jika dan hanya jika para logikawan telah meninggalkan satu dari tiga prinsip logika di atas di dalam inferensinya, maka kontradiksi akan terbukti koheren secara parakonsistensi, tanpa menjadi absurd:

    4. Bukti kontradiksi adalah logis: Jika ϕ ⊢ ψ ∧ ¬ ψ, maka ⊢ ¬ ϕ

    Namun, sayangnya, jika prinsip “negasi eliminasi” (¬ ¬ ϕ ⊢ ϕ) digunakan dalam bukti kon-tradiksi itu, maka setiap proposisi masih dapat dibuktikan dari kontradiksi. Negasi eliminasi ini masih merupakan kelemahan bukti kontradiksi dari logika parakonsistensi, meski logika in-tuisionalistik tidak mengenal prinsip negasi eliminasi.

    Intinya logika parakonsistensi mencoba membuktikan bahwa kontradiksi bisa tetap koheren secara logika dan tidak terjebak pada absurditas. Logika parakonsistensi membuktikan bahwa dua hal yang bertentangan tidaklah menghasilkan kesimpulan yang absurd, melainkan kesim-pulan yang logis. Bila prinsip ledakan menyatakan bahwa dua premis yang berkontradiksi akan menghasilkan konklusi apa pun (tidak peduli apa pun premisnya), maka logika parakonsisten membuktikan bahwa dua premis yang bertentangan tidak bisa menghasilkan konklusi apa pun.

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here