Namun harus diakui, citra organisasi mahasiswa terlanjur identik dengan rapat yang panjang, birokrasi yang rumit, dan aktivitas yang kadang terasa jauh dari persoalan nyata. Ironisnya, organisasi yang sejak awal dibentuk untuk melatih kepemimpinan justru sering gagal membaca perubahan zaman.
Padahal mahasiswa tidak sedang kehilangan semangat berorganisasi. Mereka hanya memilih organisasi dengan bentuk yang berbeda. Lihat bagaimana komunitas pengembang aplikasi bermunculan di berbagai kampus. Ada komunitas kecerdasan buatan, komunitas investasi, klub lari, kelompok riset, hingga ruang belajar digital yang anggotanya datang tanpa perlu surat keputusan kepengurusan.
Mereka tetap berkumpul, berdiskusi, tetap membuat kegiatan, dan memimpin. Bedanya, mereka tidak terlalu peduli pada jabatan.Justru yang mereka cari adalah pengalaman. Barangkali di sinilah organisasi kampus perlu bercermin.
Selama bertahun-tahun, orgaisasi menjual narasi tentang kepemimpinan. Padahal yang dibutuhkan mahasiswa hari ini bukan sekadar pelatihan menjadi pemimpin, melainkan pengalaman yang benar-benar relevan dengan masa depan mereka.
Mengapa tidak menjadikan organisasi sebagai tempat membangun startup mahasiswa? Menghubungkan anggota dengan industri? Menghasilkan riset yang dipakai pemerintah daerah? Mengembangkan media kampus yang profesional? Atau menjadi ruang kolaborasi lintas disiplin yang benar-benar melahirkan karya?
Kalau organisasi hanya menawarkan rapat, regenerasi, dan program kerja yang sama setiap tahun, jangan heran jika mahasiswa memilih mencari ruang belajar di tempat lain. Sebab persoalannya bukan karena generasi sekarang maas berorganisasi.
Mereka justru sangat aktif. Hanya saja, organisasi yang mereka pilih tidak selalu bernama BEM atau himpunan. Mungkin inilah saatnya kampus berhenti bertanya mengapa mahasiswa enggan masuk organisasi. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah organisasi kampus masih mampu menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh dunia di luar kampus?
Kalau jawabannya belum, maka penurunan minat mahasiswa bukanlah sebuah krisis. Itu hanyalah tanda bahwa organisasi kampus sedang ditantang untuk berubah. Dan seperti semua lembaga yang gagal beradaptasi, pilihan yang tersisa hanya dua, yaitu berbenah, atau perlahan ditinggalkan.






