Ketika kelaparan menjadi ancaman kematian
Di Gaza, kematian tidak selalu datang melalui ledakan.
Kematian juga dapat datang perlahan melalui tubuh yang semakin kurus, persediaan makanan yang habis, dan penyakit yang tidak lagi dapat diobati.
Euro-Med Monitor menyebut Israel menggunakan kelaparan sebagai senjata yang mematikan. Ini adalah kejahatan perang.
Pembatasan pasokan makanan dan bahan bakar, menurut organisasi tersebut, telah memperburuk krisis kemanusiaan. Kekurangan bahan bakar membuat instalasi desalinasi dan pompa air tidak dapat beroperasi secara memadai.
Akibatnya, ratusan ribu orang terpaksa mengonsumsi air yang terkontaminasi.
Kondisi itu memperbesar risiko penyakit menular, penyakit kulit, dan kekurangan gizi akut, terutama di kawasan pengungsian yang tidak memiliki fasilitas sanitasi memadai.
Korban meninggal akibat kelaparan
460 orang
164 anak-anak
menurut data resmi yang dikutip Euro-Med Monitor.
Angka tersebut belum mencakup seluruh kematian yang diduga terjadi dalam kondisi serupa tetapi tidak tercatat akibat runtuhnya sistem kesehatan dan administrasi.
Di balik angka itu terdapat kenyataan yang sulit dibayangkan.
Seorang anak tidak seharusnya meninggal karena tidak mendapatkan makanan. Seorang ibu tidak seharusnya menyaksikan tubuh anaknya melemah ketika bantuan kemanusiaan tertahan di luar wilayah tempat mereka berlindung.
Namun, laporan Euro-Med menunjukkan bahwa kelaparan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari penduduk Gaza.
Organisasi itu menilai pembatasan kebutuhan dasar tersebut sebagai bagian dari pola tindakan yang mengancam kelangsungan hidup penduduk sipil.
Rumah sakit yang tidak lagi mampu menyelamatkan semua pasien
Ketika makanan semakin sulit diperoleh, fasilitas kesehatan juga menghadapi kehancuran.
Dari 36 rumah sakit di Gaza, menurut laporan tersebut, hanya 19 yang masih beroperasi. Seluruhnya bekerja dengan kapasitas terbatas.
Kekurangan obat-obatan, peralatan medis, dan bahan bakar menghambat pelayanan kesehatan.
Sementara itu, puluhan ribu pasien dan korban luka membutuhkan perawatan khusus yang tidak tersedia di Gaza.
Evakuasi medis ke luar wilayah pun menghadapi pembatasan.
Dalam situasi demikian, penyakit yang seharusnya dapat ditangani berubah menjadi ancaman kematian.
Seorang pasien yang membutuhkan tindakan medis mendesak harus menunggu tanpa kepastian. Korban luka menghadapi risiko memburuknya kondisi kesehatan sebelum memperoleh perawatan yang diperlukan.
Euro-Med memperingatkan bahwa penundaan evakuasi medis dapat menyebabkan kematian yang sebenarnya dapat dicegah.
Dengan demikian, kehancuran sistem kesehatan tidak hanya menghasilkan korban langsung. Ia juga menciptakan ancaman kematian berkepanjangan bagi mereka yang berhasil selamat dari serangan.
Enam puluh ribu anak kehilangan orang tua
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






