More

    Gaza: dari Penjara Terbuka Terbesar di Dunia Menjadi Ghetto Terbesar dalam Sejarah

    Enam puluh ribu anak kehilangan orang tua

    Tidak hanya bangunan yang hancur di mana-mana. Genosida yang sedang berlangsung juga telah menghancurkan struktur keluarga Palestina.

    Menurut Euro-Med Monitor, sekitar 60.000 anak Palestina di Gaza telah kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya.

    Lebih dari 26.000 perempuan kehilangan suami.

    - Advertisement -

    Angka-angka tersebut menggambarkan kerusakan sosial yang akan berlangsung jauh melampaui berakhirnya pertempuran.

    Seorang anak yang kehilangan orang tua tidak hanya kehilangan orang yang dicintainya. Ia juga kehilangan perlindungan, pengasuhan, dan rasa aman.

    Seorang perempuan yang kehilangan suami mungkin harus menghadapi kehilangan itu sambil tetap mencari makanan, memperoleh air bersih, dan menjaga anak-anaknya di tengah pengungsian.

    Kesedihan pribadi berlangsung bersamaan dengan perjuangan mempertahankan hidup.

    Lebih jauh, pemindahan penduduk yang terus berulang merusak jaringan sosial yang selama ini menjadi penyangga masyarakat Palestina.

    Keluarga terpisah dari lingkungan tempat tinggalnya. Tetangga kehilangan hubungan sehari-hari. Komunitas kehilangan ruang untuk saling membantu.

    Padahal, dalam keadaan darurat, hubungan keluarga dan solidaritas sosial sering menjadi mekanisme pertama yang memungkinkan manusia bertahan.

    Ketika jaringan itu hancur, penderitaan tidak lagi berhenti pada kehilangan seseorang. Ia meluas menjadi kerentanan seluruh masyarakat.

    Euro-Med menilai bahwa pemindahan paksa berulang telah melemahkan struktur keluarga dan jaringan kepedulian yang menopang kehidupan penduduk Gaza. 

    Generasi yang kehilangan sekolah dan masa kanak-kanak

    Ada tragedi lain yang tidak selalu terlihat dalam laporan jumlah korban meninggal.

    Tragedi itu adalah hilangnya masa kanak-kanak.

    Sekitar 700.000 anak Gaza, menurut Euro-Med Monitor, telah kehilangan akses terhadap pendidikan tatap muka secara teratur selama hampir tiga tahun.

    Bagi mereka, ruang kelas digantikan oleh tenda pengungsian. Rutinitas belajar tergantikan oleh perpindahan tempat tinggal. Kehidupan sehari-hari berlangsung di tengah ketidakpastian.

    Dampak terhadap anak-anak Gaza

    91,8%

    anak-anak yang mengikuti konsultasi UNICEF menyatakan takut terhadap pengeboman.

    Ketakutan itu memperlihatkan bagaimana kekerasan telah memasuki pengalaman paling mendasar seorang anak.

    Tempat tinggal tidak selalu memberikan perlindungan. Tempat bermain tidak tersedia. Sekolah tidak dapat menjalankan fungsinya secara normal.

    Mereka tumbuh dalam lingkungan yang membuat keselamatan menjadi sesuatu yang tidak pasti.

    Beban tersebut juga dirasakan perempuan hamil.

    Euro-Med melaporkan prevalensi anemia di kalangan perempuan hamil mencapai 57,1 persen pada semester pertama 2026.

    Kekurangan gizi, keterbatasan layanan kesehatan, dan kondisi pengungsian memperbesar risiko bagi ibu serta bayi yang dikandungnya.

    Dengan demikian, dua generasi sekaligus terdampak: anak-anak yang sedang tumbuh dan bayi-bayi yang bahkan belum dilahirkan. 

    Kehancuran ekonomi dan hilangnya kemampuan untuk bangkit

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here