Politik Keislaman dan Ujian Keadilan
Di sinilah Nur Ihsan menempatkan persoalan Yaman dalam kerangka politik keislaman.
Menurut dia, politik keislaman Indonesia tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan mengenai siapa yang menjadi kawan dan siapa yang menjadi musuh.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: di mana keadilan, bagaimana rakyat dilindungi, dan bagaimana perang dihentikan?
Ia merujuk pada QS. Al-Ma’idah ayat 8:
“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
Ayat tersebut, menurutnya, memiliki relevansi kuat dalam membaca konflik kontemporer.
“Kita boleh berbeda sikap politik. Kita boleh mengkritik suatu pemerintah atau kelompok. Tetapi kebencian tidak boleh membuat kita kehilangan keadilan,” katanya.
Karena itu, ia mengingatkan umat Islam Indonesia agar tidak terjebak dalam politik identitas yang menjadikan konflik geopolitik sebagai pertarungan iman dan kafir, Sunni dan Syiah, atau Arab dan non-Arab secara hitam-putih.
Laut Merah, Bab al-Mandab dan Dunia yang Lebih Luas
Konflik Yaman juga memiliki konsekuensi yang melampaui batas negara.
Posisi Yaman di sekitar Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab menjadikannya bagian penting dari jalur perdagangan dan pelayaran internasional. Perkembangan konflik karenanya berpengaruh terhadap keamanan regional dan lalu lintas maritim.
Pada September 2026, Asisten Sekretaris Jenderal PBB Khaled Khiari melaporkan kepada Dewan Keamanan bahwa situasi di sekitar Selat Bab al-Mandab semakin volatil. PBB juga melaporkan meningkatnya pertempuran di pantai barat Yaman dan perkembangan militer Houthi di sekitar kawasan tersebut.
Pada saat yang sama, krisis kemanusiaan Yaman tetap sangat berat. Human Rights Watch menyebut lebih dari 22,3 juta orang di Yaman membutuhkan bantuan kemanusiaan pada 2026.
Angka tersebut mengingatkan bahwa di balik peta geopolitik, rudal, drone, pelabuhan dan jalur perdagangan, terdapat manusia biasa yang membutuhkan makanan, obat-obatan, sekolah, rumah dan rasa aman.
“Jangan sampai kita terlalu sibuk membicarakan siapa yang menang sehingga lupa bahwa rakyat Yaman sudah terlalu lama menjadi korban perang,” kata Nur Ihsan.
Indonesia dan Tradisi Politik Perdamaian
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






