More

    Membaca Yaman dengan Jernih: Solidaritas Keumatan, Tabayyun, dan Politik Perdamaian

    Tidak Membenci Saudi, Tidak Membenarkan Propaganda

    Pada akhirnya, Nur Ihsan menawarkan sebuah sikap yang menurutnya penting bagi umat Islam Indonesia: solidaritas kemanusiaan tanpa kehilangan kejernihan intelektual.

    “Kita membela Yaman bukan karena membenci Saudi. Kita menghormati tanah suci bukan untuk membenarkan propaganda dari pihak mana pun. Kita mengkritik tindakan yang salah tanpa harus membenci rakyatnya,” ujarnya.

    - Advertisement -

    Menurutnya, ukhuwah Islamiyah justru diuji ketika umat berhadapan dengan perbedaan kepentingan politik.

    “Ukhuwah bukan berarti kita harus sepakat dalam segala hal. Ukhuwah berarti kita tetap menempatkan kemanusiaan, keadilan dan perdamaian di atas kepentingan politik,” katanya.

    Pesan itu menjadi relevan ketika konflik Yaman kembali memasuki fase yang lebih tidak pasti.

    Di tengah suara rudal dan propaganda, Indonesia memiliki pilihan untuk menghadirkan suara yang berbeda: bukan suara yang memperbesar permusuhan, melainkan suara yang menuntut fakta; bukan suara yang membela satu kekuatan secara membabi buta, melainkan suara yang membela manusia; bukan suara yang mengobarkan perang atas nama agama, melainkan suara yang mengembalikan agama kepada keadilan.

    “Politik keislaman Indonesia harus menjadi politik yang membela kemanusiaan, menjaga ukhuwah, menegakkan keadilan dan mendorong perdamaian.”

    Barangkali, dari Jakarta, pesan itulah yang paling layak dikirimkan kepada Yaman—dan kepada dunia Islam.

    *Citizen Journalist

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here