Oleh: Randy Aprialdi

Kalau 10 tahun lalu ada mahasiswa yang menolak diajak masuk BEM atau himpunan, kemungkinan besar ia akan dianggap tidak punya semangat berkontribusi. Hari ini, kondisinya justru terbalik. Yang masuk organisasi kadang malah ditanya, “Memangnya dapat apa?”
Pertanyaan itu memang terdengar sinis. Tapi semakin lama, semakin sulit juga untuk dijawab. Bukan karena organisasi mahasiswa kehilangan fungsi. Bukan pula karena mahasiswa sekarang tiba-tiba berubah menjadi generasi yang individualistis.
Masalahnya lebih sederhana sekaligus lebih rumit karena dunia di luar kampus berubah jauh lebih cepat daripada organisasi di dalam kampus. Lihat saja bagaimana mahasiswa hari ini menghabiskan waktunya. Di pagi hari mereka kuliah, siangnya magang secara daring.
Malamnya mengerjakan proyek desain, menjadi editor video, mengajar les, mengelola toko daring, atau menjadi admin media sosial sebuah merek. Akhir pekan diisi dengan bootcamp, sertifikasi, atau lomba tingkat nasional. Di tengah jadwal yang sesak seperti itu, datanglah ajakan bergabung ke organisasi.
Semisal “rapat nanti jam tujuh malam.” Yang terbayang bukan lagi diskusi penuh gagasan. Justru notulen, perdebatan soal konsep acara, revisi proposal, hingga rapat yang molor karena menunggu kuorum. Banyak mahasiswa akhirnya memilih menjawab dengan sopan, “Maaf, saya tidak ikut.”
Dulu, organisasi kampus dianggap jalan pintas untuk belajar menjadi pemimpin. Hampir semua dosen senior dan alumni sukses punya cerita yang sama: mereka pernah aktif di BEM, senat mahasiswa, atau himpunan. Nasihat itu sebenarnya tidak salah.
Pada masanya, organisasi memang menjadi ruang belajar yang sulit ditemukan di tempat lain. Mahasiswa belajar memimpin rapat, menyusun program kerja, mengelola konflik, hingga berbicara di depan publik. Masalahnya, ruang belajar seperti itu sekarang tidak lagi hanya dimiliki organisasi kampus.
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






