
Dari penjara terbuka menjadi wilayah pengurungan massal. Setelah hampir tiga tahun genosida berlangsung, rakyat Palestina di Gaza menghadapi kenyataan yang semakin mengerikan: tanah mereka menyusut, makanan semakin sulit diperoleh, rumah sakit kehilangan kemampuan menyelamatkan nyawa, dan ratusan ribu anak tumbuh tanpa kepastian masa depan.
GAZA bukan lagi sekadar tempat manusia kehilangan rumah. Gaza telah menjadi tempat manusia kehilangan ruang untuk hidup.
Bayangkan lebih dari dua juta orang dipaksa bertahan di wilayah yang luasnya terus menyusut. Di belakang mereka, rumah-rumah telah menjadi puing. Di hadapan mereka, pembatasan militer menutup jalan pulang. Sementara dari luar, pasokan makanan, obat-obatan, bahan bakar, dan material perlindungan dibatasi.
Tidak ada tempat yang benar-benar memberikan kepastian keselamatan.
Anak-anak kehilangan sekolah. Para ibu kehilangan suami. Orang-orang sakit kehilangan kesempatan mendapatkan pengobatan. Mereka yang masih hidup harus menghadapi pertanyaan yang sama setiap hari: bagaimana memperoleh makanan, air bersih, dan tempat berlindung?
Inilah gambaran Gaza yang disampaikan Euro-Med Human Rights Monitor dalam laporan terbarunya, 29 September 2026.
Organisasi hak asasi manusia yang berbasis di Jenewa itu menyatakan bahwa Israel telah mengubah Gaza dari wilayah yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai penjara terbuka terbesar di dunia menjadi apa yang disebutnya sebagai ghetto terbesar dalam sejarah modern.
Sebuah wilayah tempat manusia tidak hanya dikurung, tetapi juga kehilangan sarana untuk mempertahankan kehidupannya.
Dua lapis pengepungan yang mencekik kehidupan
Menurut Euro-Med Monitor, pengurungan penduduk Gaza kini berlangsung melalui dua mekanisme yang saling memperkuat.
Pertama adalah pengepungan dari luar.
Penutupan dan pembatasan perlintasan menghambat masuknya berbagai kebutuhan mendasar. Makanan, obat-obatan, bahan bakar, serta material untuk membangun tempat berlindung menjadi barang yang sulit diperoleh.
Kedua adalah pengepungan dari dalam.
Israel, menurut laporan tersebut, menguasai atau membatasi akses terhadap sekitar 70 persen wilayah Jalur Gaza. Penguasaan itu tidak hanya berlangsung di belakang garis pemisah militer yang dikenal sebagai Yellow Line, tetapi juga menjangkau kawasan permukiman.
Akibatnya, lebih dari dua juta penduduk Palestina terkonsentrasi di wilayah yang luasnya kurang dari 30 persen keseluruhan Jalur Gaza.
Mereka kehilangan akses terhadap tanah, rumah, dan berbagai fasilitas yang sebelumnya menopang kehidupan sehari-hari.
Perpindahan penduduk tidak lagi berarti menemukan tempat tinggal baru. Sering kali, perpindahan hanya berarti berpindah dari satu lokasi pengungsian yang penuh sesak menuju lokasi lain yang sama-sama tidak aman.
Euro-Med Monitor menggambarkan situasi tersebut sebagai pengurungan penduduk dalam ruang yang semakin sempit, dengan kepadatan luar biasa dan tanpa jaminan bahwa mereka dapat kembali ke tempat asalnya.
Di sinilah istilah ghetto memperoleh makna yang mengerikan.
Dalam penggunaan historisnya, ghetto merujuk pada kawasan tempat kelompok penduduk tertentu dipisahkan dan dikurung. Euro-Med menggunakan istilah itu untuk menggambarkan kombinasi isolasi, penguasaan wilayah, pemindahan paksa, dan penghancuran kondisi kehidupan yang dialami penduduk Gaza.
Bagi organisasi tersebut, perubahan dari penjara terbuka menjadi ghetto bukan sekadar perubahan istilah. Itu mencerminkan semakin menyempitnya ruang hidup penduduk Palestina.
Ketika kelaparan menjadi ancaman kematian
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






