More

    ReadMe, Aplikasi Iqro Braile Untuk Tunanetra

    Aplikasi ReadMe berhasil meraih juara pertama dalam Musabaqah Tilawatil Qur'an Mahasiswa Regional Jawa Timur (MTQ MR) IV di Universitas Trunojoyo Madura Kamis (21/07/2016). ITS
    Aplikasi ReadMe berhasil meraih juara pertama dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an Mahasiswa Regional Jawa Timur (MTQ MR) IV di Universitas Trunojoyo Madura Kamis (21/07/2016). ITS

    Mahasiswa Insitut Teknologi Sepuluh November (ITS) mengembangkan aplikasi belajar Alquran untuk penyandang tunanetra. Aplikasi ini berkonsep iqro braile, hanya saja dirancang secara digital.

    Para mahasiswa tersebut adalah Rahmat Bambang Wahyuari, Edy Hamid Saifullah, dan Nida Amalia. Mereka menamakannya dengan ReadMe untuk membantu penyandang tunanetra berlatih membaca Al-Quran.

    Awalnya, perhatian para mahasiswa ini tertuju pada sebuah ide tentang cara berkomunikasi antar penyandang disabilitas. Ide itu terus ia diskusikan hingga muncullah gagasan tentang Al-Qur’an Braile elektronik.

    - Advertisement -

    “Ide ini sudah tercetus sejak tahun lalu, namun masih terbungkus rapi di kepala,” ungkapnya.

    Menurut Bambang, ide membuat Alquran ini muncul, setelah dilakukan wawancara langsung terhadap penyandang tunanetra. Ternyata mereka lebih membutuhkan media pembelajaran Al-Qur’an braile. Saat itulah ia dan tim mulai merancang ReadMe.

    “Sekaligus menjadi batu loncatan, kami pun terlebih dahulu mendesain iqro,” papar mahasiswa Jurusan Teknik Mesin ini.

    Bambang menjelaskan, Iqro pada dasarnya adalah sebuah kitab yang berisi cara membaca dan mengeja huruf hijaiyah. Sehingga bagi siapapun yang ingin belajar membaca Al-Qur’an, akan lebih mudah jika belajar iqro terlebih dahulu. Bedanya, ReadMe hadir dalam bentuk digital dengan huruf braile.

    ReadMe secara bahasa berarti ‘baca aku’. Alat ini mengajak siapapun, khususnya penyandang tunanetra untuk membaca alat tersebut sebagai panduan untuk membaca Al-Qur’an.

    Ide ini sebenarnya tercetus sejak, setahun yang lalu. Namun baru bisa diselesaikan dua bulan terakhir.

    Bambang mengaku, mereka hanya memesan suku cadang yang dibutuhkan. Selanjutnya suku cadang tersebut mereka rakit sendiri bersama tim.

    “Proses perakitannya itu yang memakan banyak waktu, bahkan kami sampai lembur semalaman,” akunya.

    ReadMe memungkinkan para penyandang tunanetra dapat dengan mudah membaca Al-Qur’an tanpa harus terganggu oleh tebalnya setiap lembar mushaf braile konvensional. Dengan ReadMe, mushaf yang semula cukup tebal itu dapat  ditransformasi menjadi kotak kecil seukuran tempat nasi. Bahkan tambahan fitur berupa speaker juga turut membantu mereka dalam mempelajari Al-Qur’an.

    Alat ini membuatuhkan kapasitas memori yang besar dan karena terhalang oleh keterbatasan dana, konten aplikasi yang diciptakan tim masih terbatas. Saat ini ReadMe baru memiliki enam karakter huruf hijaiyah braile serta dua karakter tambahan sebagai penunjuk halaman.

    “Yang paling dekat adalah menambahkan karakter huruf hijaiyah serta pemakaian baterai sebagai sumber daya agar lebih praktis saat digunakan,” jelasnya Bambang menyebut rencana pengembangan ReadMe dalam waktu dekat.

    Alat tersebut rencananya juga akan dirancang agar dapat terkoneksi dengan smarthphone, serta dilakukan desain ulang agar ukurannya lebih kecil. Mereka juga ingin ada kerjasama dengan perusahaan untuk berinvestasi.

    Selain itu, kendala lain yang mereka hadapi adalah cara mengefisiensikan hasil kodingan, karena kapasitas memori yang terbatas. Bagi mereka, kalau hanya sekedar menambah karakter sebenarnya gampang, tinggal menambahkan database pada hasil kodingan.

    “Yang susah itu cara membuat kodingan jadi efisien,” tuturnya.

    Sukses Meraih Emas

    Piranti yang diciptakan tim hasil kolaborasi dari Jurusan Teknik Mesin, Teknik Elektro, dan Teknik Informatika ini berhasil mengharumkan nama ITS di ajang kompetisi mahasiswa. ReadMe berhasil meraih juara pertama dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an Mahasiswa Regional Jawa Timur (MTQ MR) IV di Universitas Trunojoyo Madura Kamis (21/07/2016).

    “Kesan saat dinyatakan sebagai juara satu yang pasti adalah senang. Artinya usaha keras kami selama ini ada hasilnya,” ujar Bambang sumringah.[]

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here