More

    Gerakan ‘Indonesia Mengajar’ Ajak Mahasiswa ke Pelosok Negeri

    Ahmad Fauzan

    Anies Baswedan pendiri gerakan Indonesia Mengajar mengajak mahasiswa Indonesia ke pelosok negeri berbagi ilmu pengetahuan. FOTO : AHMAD FAUZAN

    Gerakan  ‘Indonesia Mengajar’ mengajak mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ)  untuk menjadi guru di pelosok Negeri  di Indonesia di Kampus UNJ, Jakarta, Jumat (25/11).  Acara tesebut digelar dalam rangka hari Guru  Nasional yang  bertajuk  ‘Persembahan Cinta Untuk Guru’,  Hadir dalam  kesempatan tersebut Anies Baswedan Ph.D (pendiri gerakan Indonesia Mengajar) dan 5 pengajar muda yang baru pulang dari pelosok Indonesia.

    - Advertisement -

    Gerakan Indonesia mengajar salah satunya terinspirasi dari  program Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM) tahun 1950. PTM merupakan program mengajar untuk mengisi kekosongan guru di luar pulau Jawa. Salah satunya adalah Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri, yang kala itu mahasiswa Universitas Gajah Mada  yang dikirim ke Kupang selama beberapa tahun. Sepulang dari sana ia mengajak serta tiga orang siswanya untuk  kuliah di UGM, salah satunya adalah Andrianus Mooy yang kemudian hari menjadi Gubernur Bank Indonesia.

    Anies Baswedan pendiri Indoneisa mengajar mengungkapkan  persoalan guru di  Indonesia  antara lain,  kualitas guru. Guru pernah diminta untuk menjawab soal ujian nasional, namun angka yang lulus hanya  40-60 persen.

    Menurut Anies, tanggung jawab untuk mendidik bukan saja diserahkan ke negara,  namun menjadi persoalan bersama.  Masalah pendidikan harus diselesaikan semua orang,  “Bila masalahnya  kekurangan guru berkualitas, maka kirimlah guru yang  memiliki kualitas baik,”  ujarnya.

    Anies menambahkan Gerakan “Indonesia Mengajar” bertujuan untuk menyuplai  anak-anak terbaik  menjadi guru di berbagai pelosok Indonesia. Prosesnya kami ingin anak yang terbaik hadir di sana menceritakan pengalamannya, kemudian masyarakat  di sana melihat para pengajar muda itu  sebagai visualisasi atas mimpi anak-anak mereka dimasa depan.

    “Kami ingin menjadi bagian kecil yang merangsang saja”, tutur Anies.

    Anies mengungkapkan, begitu pengajar muda datang langsung terbandingkan antara guru di sana dengan pengajar muda,  sehinggga tumbuh kesadaran di sana. Mereka bukan untuk menggurui namun memberi inspirasi.

    “Kami  mengundang  teman-teman untuk mengabdi satu tahun di sana, yang paling banyak belajar dari proses ini selain anaa-anak belajar di sana, para pengajar mudanya satu tahun gemblengan yang luar biasa,” tutur  Anis mengajak sekitar 200 peserta talkshow.

    Pada periode pertama, gerakan “Indonesia Mengajar” mengirimkan 51 pengajar Muda ke beberapa plosok Indonesia, dari tanggal 10 November 2010 – 10 November 2011.

    Diantaranya adalah  Bayu Adi  Persada, sarjana Teknik  informatika ITB,  setelah lulus dan  bekerja di sebuah perusahaan  swasta.  Hatinya  terpanggil untuk ikut dalam program “Indonesia mengajar”.

    “Saya menyukai berpetualang dan  berbuat sesuatu untuk bangsa,” tuturnya.

    Bayu ditugaskan di  desa Bibinoi Halmahera Selatan.  Ia mengajar SD Bibinoi  siswa kelas 3 .  Kebanggan luar biasa  Bayu  adalah 3 bulan mengajar di sana Bayu  membawa  anak didiknya menjadi semifinalis olimpiade sains di Halmahera Selatan.

    Bayu mengajar mata pelajaran apa saja, untuk mengisi kekosongan guru yang tidak masuk kadang sehari bisa empat kelas. Menurut Bayu  yang penting anak-anak tidak sia-sia datang ke kelas. Metode yang diajarkannya adalah  interaktif kepada siswa, kalau belajar tumbuh-tumbuhan, mereka akan belajar di luar kelas. Selain itu Bayu juga keterampilan dan matematika dengan cara yang menarik.

    Di sana  yang membutuhkan ilmu pengatahuan bukan hanya murid tetapi masyarakat desa, guru, masyarakat, dan anak mudanya. “Saya menjalankan semuanya, di sekolah jadi guru, di luar jadi tokoh masyarakat, kadang–kadang ikut jadi panitia kecamatan,” tutur Bayu.

    Kemudian, Erwin Puspaningtyas Irjani, lulusan Fakultas Kehutanan IPB, Jurusan teknologi hasil hutan.  Erwin yang biasa dipanggil Wiwin, setelah lulus bekerja di Bank Mandiri selama 1,8 bulan. Kemudian hatinya terpanggil untuk bergabung menjadi “Pengajar Muda”.

    Wiwin mengabdi di Majene Sulawesi Barat, tempat yang menurut Wiwin belum pernah ada pendatang. Siswa di sana pemalu, tidak aktif, rendah diri, dan sebagainya. Namun ketika Wiwin meninggalkan mereka kembali ke Jakarta, mereka sudah berubah, mereka percaya diri,  mengaktifkan kesenian lokal, mampu berbahasa Indonesia dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

    “Jurusnya untuk bertahan dan mengubah mereka cuma satu, tulus” Tutur Wiwin.

    Gerakan Indonesia mengajar telah mengirimkan 3 angkatan, kini membuka angkatan yang ke 4, pendaftaran dibuka hingga 17 Desember 2011. Syarat utama untuk menjadi Pengajar Muda adalah Warga Negara Indonesia, belum menikah dan sehat secara fisik dan mental serta bersedia ditempatkan di daerah terpencil selama satu tahun. Ayoo KaKa, kita gabung. []

    - Advertisement -

    1 COMMENT

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here