More

    Jika Mudah, Mengapa Sulit Dilakukan?

    Komang Adi Putra
    Mufidah Kalla pernah berucap saat sosialisasi di Jakarta tahun 2008, “Melalui gerakan hemat listrik, diharapkan masyarakat bisa membudayakan perilaku hemat dalam konsumsi listrik.” (Lestarini, 2008). Namun, kalimat tersebut rupanya tidak mudah dilakukan.

    Risidya (21), mahasiswi perguruan tinggi di Surabaya, gemas akan kebiasaan teman-teman satu kosnya yang sering tidak mematikan lampu setelah menggunakan kamar mandi bersama. Apalagi lampu itu dibiarkan menyala di siang bolong. Atas inisiatifnya, Risidya memadamkan lampu itu.

    Apa yang telah dilakukan oleh teman-teman satu kosnya merupakan cerminan gaya hidup yang tidak bijak.

    - Advertisement -

    Perilaku tidak mematikan lampu yang tidak digunakan berarti pemborosan sebab membuang listrik secara percuma. Pembangkit listrik tenaga uap dari pembakaran batu bara masih menduduki posisi pertama dalam penyediaan listrik di Indonesia (Anonim, 2012).

    Memproduksi listrik berarti membakar batu bara sehingga meningkatkan emisi gas karbon dioksida (CO2) ke atmosfer. Penumpukan gas CO2 di atmosfer menyebabkan pemanasan global. Peningkatan suhu permukaan bumi dan perubahan iklim adalah beberapa akibat pemanasan global yang tidak bisa dihindari.

    Contoh kasus yaitu bunga cherry blossom bermekaran dua minggu lebih cepat di Korea Selatan akibat temperatur udara yang naik (Chansu, 2014). Sedangkan di Indonesia, musim hujan dan kemarau yang tidak datang tepat waktu adalah dampak yang paling kentara diamati.

    Mematikan lampu yang tidak digunakan tidak hanya sekadar menekan rupiah untuk membayar tagihan listrik, melainkan merawat bumi dengan mengurangi emisi CO­­2.

    Lebih lanjut, permintaan listrik pada sektor rumah tangga di Indonesia mengalami tren kenaikan dari tahun ke tahun. Permintaan listrik domestik untuk sektor rumah tangga tahun 2010-2012 berturut-turut 59,825 GWh (giga watt hour), 65,110 GWh, dan 72,133 GWh (Anonim, 2012). Seiring dengan peningkatan permintaan listrik, maka terjadi pula peningkatan jumlah batu bara yang dipakai. Dengan potensi cadangan energi fosil yang terbatas, Indonesia diprediksi akan mengimpor energi pada tahun 2030 (KESDM, 2012).

    Perilaku hemat adalah upaya untuk tetap menjaga penyediaan listrik lebih besar daripada permintaan listrik. Kampanye Earth Hour, sebuah aksi sukarela mematikan lampu dan alat elektronik selama 60 menit, adalah salah satu solusi hemat listrik yang kini popular. Beban listrik di Pulau Jawa, Madura dan Bali turun 509 mega watt atau setara satu miliar rupiah akibat pelaksanaan kampanye ini pada tahun 2014 (Firmansyah, 2014).

    Alangkah baik jika kampanye ini bukanlah sebuah momentum belaka. Usaha kecil tetapi dilakukan setiap hari lebih tepat sasaran untuk meretas masalah pemborosan listrik karena membentuk kebiasaan yang melekat di benak konsumen.

    Sementara itu, berdasarkan Widianto (2013), 23 persen penduduk di Jawa Timur belum teraliri listrik. Pun kalau sudah terjamah, masyarakat belum bisa memanfaatkan dengan optimal. Di Desa Sepande, Sidoarjo, Jawa Timur, ada warga yang tidak bisa menghidupkan kulkas di toko kelontongnya karena pasokan listrik yang tidak mencukupi. Alhasil, beberapa minuman tidak bisa dinikmati saat dingin dan segar.

    Oleh karena itu, tidak tepat jika perilaku boros dipelihara karena daerah lain masih ingin hidup nyaman dengan listrik.

    Teranglah kini bahwa memadamkan lampu yang tidak digunakan merupakan gaya hidup yang bijak. Kebiasaan kecil ini bila dilakukan setiap hari dan bersama-sama mampu membawa pengaruh besar. Jika mematikan lampu yang tidak digunakan adalah salah satu cara mudah, lantas mengapa sulit dilakukan? []

    Referensi
    Anonim. (2012) Statistik Listrik 2012: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Tersedia di: http://prokum.esdm.go.id/Publikasi/Statistik/Statistik%20Listrik_2012.pdf [Diunduh: 9 April 2014]
    Chansu, K. (2014) ‘Cherry Trees Bloom Early, Dampening Festival Plans’, Korea JoongAng Daily, 31 Maret. Tersedia di: http://koreajoongangdaily.joins.com/news/article/Article.aspx?aid=2987158 [9 April 2014]
    ­Firmansyah, F. (2014) ‘Earth Hour 2014, PLN Hemat Listrik Rp 1 Miliar, Tempo, 30 Maret. Tersedia di: http://www.tempo.co/read/news/2014/03/30/090566498/Earth-Hour-2014-PLN-Hemat-Listrik-Rp-1-Miliar- [9 April 2014]
    KESDM. (2012). Potensi Energi Baru Terbarukan Indonesia Cukup untuk 100 Tahun. Tersedia di: http://www.esdm.go.id/berita/323-energi-baru-dan-terbarukan/6071-potensi-energi-baru-terbarukan-indonesia-cukup-untuk-100-tahun-.html [9 April 2014]
    Lestarini, A H. (2008) ‘Mufidah Kalla: Stop Boros Listrik’, Okezone, 27 April. Tersedia di: http://economy.okezone.com/read/2008/04/27/19/104322/mufidah-kalla-stop-boros-listrik/large [9 April 2014]
    Widianto, E. (2013) ‘23 Persen Penduduk di Jatim Belum Dapat Listrik, Tempo, 31 Desember. Tersedia di: http://www.tempo.co/read/news/2013/12/31/058541136/23-Persen-Penduduk-di-Jatim-Belum-Dapat-Listrik [9 April 2014]

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here