More

    Cinta Alam Untuk Keselamatan Kita

    Andi Awaliyah

    Bumi terbentuk sekitar 4,54 miliar tahun yang lalu dan pada miliar tahun pertama makhluk hidup mulai hadir dipermukaannya. Bumi dilindungi oleh lapisan yang disebut  ozon dimana lapisan ini menghalangi radiasi surya berbahaya sehingga makhluk hidup dapat berkembang biak dengan aman di daratan.

    Namun dari waktu ke waktu lapisan ozon semakin menipis menyebabkan temperatur di bumi begitu panas, ini yang biasa disebut pemanasan global. Selain itu juga berdampak lain seperti kenaikan permukaan air laut seluruh dunia, peningkatan intensitas terjadinya badai, menurunnya produksi pertanian akibat gagal panen, kebakaran hutan, serta makhluk hidup terancam punah.

    - Advertisement -

    Menipisnya ozon karena gas-gas rumah kaca seperti carbon dioksida, sulfur dioksida, nitrogen monoksida, nitrogen dioksida serta kholrofluoro karbon yang berasal dari kegiatan pertanian, lemari es, AC, sampah plastik, asap-asap kendaraan bermotor, rokok dan pabrik industri apalagi persediaan pohon semakin berkurang akibat manusia yang terus menebang tanpa menanamnya kembali.

    Seharusnya masyarakat harus mengimbangi antara efek yang ditimbulkan dengan jumlah pohon yang ada.

    Pemerintah telah membuat program go green seperti penanaman seribu dengan tujuan tercipta lingkungan yang bersih, hijau, serta terhindar dari polusi. Dimana partisipasi masyarakat sangat diperlukan namun banyak dari mereka melakukan kegiatan yang memicu terjadinya pemanasan global.

    Terdapat sekelompok masyarakat yang sangat menjaga ligkungannya, yaitu  suku Amma Toa Kajang yang berada di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Masyarakat ini masih memegang teguh adat istiadatnya. Dimana dalam kawasannya sangat menolak adanya teknologi masuk. Sehingga tak ditemukan satupun alat-alat modern yang dapat menyebabkan penipisan ozon  dan mencemari lingkungan termaksud Kulkas dan AC. Selain itu mereka juga sangat menghormati lingkungannya, mereka memperlakukan hutan seperti seorang ibu yang harus dihormati dan dilindungi. masyarakatnya dilarang keras menebang kayu, memburu satwa, atau memungut hasil-hasil hutan.

    Ini karena adanya pasang (pesan) yang secara eksplisit memerintahkan masyarakat Kajang untuk menjaga hutan dan kebersihan lingkungan dan jika dilangggar akan mendapat sanksi. Salah satu pasal dari pesan tersebut berbunyi: “Anjo boronga anre nakkulle nipanraki. Punna nipanraki boronga, nupanraki kalennu” (Hutan tidak boleh dirusak. Jika engkau merusaknya, maka sama halnya engkau merusak dirimu sendiri).

    Selain itu, kita juga bisa melihat pasal lain yang berbunyi: “Anjo natahang ri boronga karana pasang. Rettopi tanayya rettoi ada” (Hutan bisa lestari karena dijaga oleh adat. Bila bumi hancur, maka hancur pula adat) serta “Jagai Linoa Lolong Bonena. Kammayya Tompa Langika. Siagang Rupa Taua. Siagang Boronga” (jagalah dunia beserta isinya, begitu juga langit, manusia dan hutan). Masyarakat Indonesia harus bercemin kepada masyarakat suku Kajang yang mengimplementasikan isi dari pasang agar lingkungan tetap terjaga.

    Dengan begitu masyarakat sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Dengan melihat kondisi masyarakat Kajang serta pasang yang dianutnya masyarakat lain yang seharusnya mangambil tindakan antara lain seperti menggunakan air seperlunya, hemat listrik secara tidak langsung  akan mengurangi kadar CO2 di atmosfer, menanam pohon sebanyaknya untuk mengikat CO2, mengurangi penggunaan kendaraan pribadi yang menghasilkan CO2, serta memakai AC seperlunya agar mengurangi penghasilan CFC.

    Untuk itu baik pemerintah maupun masyarakat harus mengkaji lebih dalam mengenai pola hidup masyarakat Kajang agar bisa bercermin darinya. Dengan adanya rasa cinta alam maka lingkungan akan bersih dan sehat serta penipisan lapisan ozon akan lebih terminimalisir.   []

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here