More

    Mahasiswi Unpar Kibarkan Merah Putih di Puncak Aconcagua

    Hilda (kiri) dan Fransiska di puncak Gunung Aconcaqua. Dok. Mahitala Unpar
    Fransiska Dimitri Inkiriwang (kanan), Mathilda Dwi Lestari di puncak Gunung Aconcaqua. Dok. Mahitala Unpar

    BANDUNG, KabarKampus – Tim The Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (WISSEMU) berhasil mengibarkan bendera merah putih di puncak Gunung Aconcaqua, Argentina. Mereka tiba di puncak gunung tertinggi di Benua Amerika tersebut pada  hari Sabtu 30 Januari 2016 Pukul 17.45 waktu setempat atau Minggu, 31 Januari 2016 Pukul 03.45 WIB.

    Tim WISSEMU terdiri dari tiga orang mahasiswi aktif Universitas Katolik Parahyangan yaitu Fransiska Dimitri Inkiriwang (22), Mathilda Dwi Lestari (22), dan Dian Indah Carolina (20). Mereka memulai perjalanan dari camp Berlin (5.930 mdpl) pukul 04.30 waktu setempat dan dibutuhkan waktu lebih dari 12 jam untuk mencapai puncak.

    Pada perjalanan menuju puncak pada ketinggian +/- 6.300 mdpl, Dian Indah Carolina (Caro) diputuskan untuk tidak melanjutkan pendakian karena mengalami gangguan kesehatan. Ia diharuskan kembali ke camp tiga untuk memulihkan kondisi fisik yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan summit attack.

    - Advertisement -

    (Baca Juga: Mengawali Tahun Baru Dengan Menggapai Puncak Aconcagua)

    Sebuah keputusan berat yang harus diambil mengingat keselamatan personil pendaki adalah hal yang utama dan sangat penting. Maka dari tititk ini pendakian hanya dilanjutkan oleh Fransiska Dimittri (Deedee) dan Mathilda Dwi Lestari (Hilda).

    Tim menceritakan panjangnya jalur menuju puncak dan curamnya tanjakan yang harus mereka hadapi.

    Perjalanan menuju puncak Aconcagua. Dok. Mahitala Unpar.
    Perjalanan menuju puncak Aconcagua. Dok. Mahitala Unpar.

    Hambatan yang harus dihadapi tim seperti jalur traverse sepanjang +/- 500 meter yang langsung disusul tanjakan terjal Canaleta (6.600 mdpl) sebelum Puncak Aconcagua. Tantangan dalam perjalanan ini masih ditambah dengan angin yang bertiup kencang dalam perjalanan.

    Ucap syukur adalah hal yang dilakukan oleh Tim WISSEMU ketika mencapai Puncak Aconcagua. Tetapi sayang, waktu tetap berjalan dan mereka harus segera turun untuk kembali ke camp Berlin.

    Kekhawatiran utama dalam pendakian menuju “atap” Argentina ini adalah cuaca yang sangat cepat berubah dengan angin yang tiba-tiba dapat bertiup dengan sangat kencang. Oleh karena itu mereka tidak dapat berlama-lama di Puncak Aconcagua, walaupun matahari di Amerika Selatan terbenam pada pukul delapan malam. Perjalanan  turun menuju camp Berlin juga tergolong tidak mudah, banyak jalur-jalur sulit yang harus mereka lalui kembali dan bertambah sulit ketika digunakan untuk berjalan turun.

    Gunung Aconcagua adalah gunung tertinggi di Benua Amerika Selatan yang terletak di Provinsi Mendoza, Argentina. Gunung ini menjadi menjadi puncak keempat yang berhasil dicapai Tim WISSEMU. Sebelumnya mereka telah mencapai Puncak Gunung Kilimanjaro pada 24 Mei 2015, Puncak Gunung Elbrus pada 15 Mei 2015 dan Puncak Gunung Carstensz Pyramid pada 13 Agustus 2014 dalam rangkaian ekspedisi menggapai tujuh puncak tertinggi di tujuh benua.

    Gunung Aconcagua terletak di jajaran Pegunungan Andes dan terkenal memiliki cuaca dingin yang ekstrem ditambah badai angin yang sangat berbahaya dan dikenal dengan sebutan el viento blanco. Angin kencang yang kabarnya dapat mencapai 90 km/jam bertiup bersamaan dengan kabut yang  ditambah dengan hujan salju merupakan gambaran sederhana dari badai berbahaya ini.

    Menurut beberapa pemberitaan media, el viento blanco ini juga yang diduga menjadi penyebab meninggalnya salah satu pendaki berpengalaman dari Indonesia yaitu (Alm) Norman Edwin dan rekannya (Alm) Didiek Samsu (tahun 1992) pada saat melakukan ekspedisi seven summits kala itu.[]

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here