More
    Home RUPA KISAH Perjuangan Dokter Gigi Bangkit Dari AIDS

    Perjuangan Dokter Gigi Bangkit Dari AIDS

    Maruli Togatorop. Dok. FB Pribadi

    BANDUNG, KabarKampus – Siapa kira seorang dokter bisa terkena HIV/AIDS? Ini dialami seorang dokter gigi asal Merauke, Maruli Togatorop, yang didiagnosa HIV. Bahkan HIV Maruli sudah parah di mana virus sudah menyebabkan Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS).

    “Nilai CD4 (imunitas) saya sudah 8, sudah AIDS. Kurus sekali, tinggal tunggu kematian,” tutur Maruli, di sela acara The Indonesian AIDS Conference (iAIDS) 2019, di Bandung, Sabtu (30/11/2019).

    Sel CD4 atau pertahanan tubuh orang normal antara 600 sampai 1.500. Sel CD4 normal menghalau berbagai macam penyakit, termasuk infeksi akibat virus. Namun sel CD4 inilah yang diserang oleh HIV yang cepat atau lambat memicu terjadinya AIDS seperti yang dialami Maruli.

    - Advertisement -

    Dengan suara yang sesekali berat dan mata berkaca-kaca, Maruli menuturkan awal ia mengidap HIV. Ia bertugas di RSUD Merauke, kemudian pindah ke rumah sakit swasta di Jakarta. Selama menjalani profesinya, tubuhnya mulai sakit-sakitan. Ia mulai sering masuk dan keluar rumah sakit karena berbagai penyakit. Beberapa dokter spesialis sudah ia kunjungi, tetapi jenis penyakitnya tak ketahuan. Ia tidak tahu dan curiga bahwa dirinya terkena virus mematikan itu.

    Ketika kerja di Jakarta, sekitnya semakin parah. Tanpa sepengetahuan Maruli, dokter yang menanganinya melakukan tes HIV yang hasilnya positif. Waktu itu Juli 2014. “Saya kaget, karena saya sebelumnya biar kerja di rumah sakit saya belum familiar tentang informasi HIV. Saya korban ketidaktahuan, walaupun saya dokter saya tak paham isu HIV,” kata Maruli.

    Berat badan Maruli anjlok dari 75 kilogram menjadi 42 kilogram. Berbagai penyakit infeksi bermunculan, mulai pneumonia atau radang paru-paru hingga penyakit kulit Stevens-Johson Synrdrome yang membuat kulitnya bentol dan bersisik.

    Belum cukup beban yang harus ditanggung akibat penyakit beratnya, Maruli masih menghadapi stigma dari keluarga. “Saya kurus sekali, tinggal tunggu kematian. Dan keluarga saya juga kaget dan tak bisa terima kayak membuang saya. Mereka tak terima dengan keberadaan saya. Itu memperburuk kedanaan saya. Istri saya ceraikan saya karena HIV ini,” lanjut Maruli.

    Istrinya sudah menjalani pemeriksaan HIV, dan hasilnya negatif. “Setelah penceraian dan mendapat HIV, saya dapat dua gelar, terinfeksi dan seorang duda. Saya bilang sangat konyol,” tambahnya, seraya tertawa.

    Kendati HIV-nya sempat menimbulkan AIDS, Maruli bertanya-tanya kenapa kematian tak kunjung datang. Bahkan keluarganya sudah memvonis dia akan segera mati.

    “Tapi kok ga mati-mati juga, karena itu saya mencoba untuk bangkit. Saya berusaha untuk melakukan pengobatan.”

    Awalnya ia berusaha belajar hidup mandiri dan melakukan pengobatan sendiri. Ia lantas mengikuti sharing informasi dengan komunitas, termasuk menerapkan pola hidup sehat. Salah satu kunci melawan HIV ialah dengan meningkatkan sistem pertahanan tubuh dengan makan makanan penuh nutrisi seperti buah dan sayuran.

    Kini Maruli bisa lepas dari AIDS. Berat badannya kembali normal menjadi 62 kilogram, bahkan sempat naik menjadi 82 kilogram. Ia tetap menjalani profesinya sebagai dokter gigi. Jika ada pasien yang bertanya soal statusnya, dengan senang hati ia menerangkan sambil memberikan edukasi seputar HIV. 

    Menurutnya stigma dan diskriminasi terhadap Odhiv muncul karena ketidakpahaman. Itu yang terjadi pada keluarganya dulu. Setelah mempelajari isu HIV, Maruli sendiri paham bahwa HIV sebenarnya fakta medis yang tak berbeda dengan penyakit kronis lainnya. HIV tak memilih siapa saja yang akan diinfeksi baik seorang profesional, dokter, ibu rumah tangga dan lainnya. Menurutnya, semua orang yang aktif secara seksual atau berganti jarum suntik memiliki resiko kena HIV.

    Maruli terinfeksi bukan karena aktivitasnya sebagai dokter gigi, melainkan karena kegiatannya secara seksual. Ia yakin mulai terinfeksi ketika beraktivitas di Jakarta.

    Setahun setelah terinfeksi, ia langsung melaporkan diri ke Kementerian Kesehatan. Menurutnya Kemenkes mendukung langkah Maruli. Ia kemudian ditempatkan di Merauke.

    Sekarang virus HIV di tubuhnya sudah tidak lagi terdeteksi (undetectable) sejak tiga tahun lalu. Dalam posisi undetectable, kadar virus di darah Maruli sangat sedikit dan tidak beresiko penularan secara seksual. Posisi ini hanya bisa dicapai jika orang dengan HIV disiplin menjalani terapi anti-retroviral (ARV) tanpa putus.

    Bagi Maruli, HIV adalah berkah yang membuatnya mandiri dan bisa hidup sehat seperti saat ini. Kariernya di kedokteran gigi juga baik-baik saja. Ia bahkan sempat menulis buku “Dokter Kena HIV: Perjuangan Penerimaan Diri Hingga Membuka Diri”. Selain setia sebagai dokter gigi, Maruli aktif dengan komunitas HIV/AIDS mengedukasi masyarakat sekaligus memotivasi Odhiv agar bisa bangkit. []

    Dokter gigi asal Merauke, Maruli Togatorop, di sela acara The indonesian AIDS Conference (iAIDS) 2019, di Bandung, Sabtu (30/11/2019)

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here