More
    Home RUPA KISAH Pancasila di Sekolah dan Kostum Sepak Bola

    Pancasila di Sekolah dan Kostum Sepak Bola

    Sejarah perjalanan bangsa banyak yang terkuak di luar kurikulum sekolah. Seperti halnya sejarah penciptaan lambang negara Garuda Pancasila yang sempat disalahpahami sebagai karya M Yamin tapi belakangan si perancangnya adalah Sultan Hamid II dari Kesultanan Pontianak, Kalimantan Barat.

    Kenyataan itu antara lain terungkap lewat surat Sultan Hamid II kepada wartawan istana Solichim Salam, 15 April 1967, yang menceritakan proses panjang perancangan lambang negara. Surat ini dibacakan secara estapet oleh para aktivis muda Geostrategy Club (GSC) pada Selasa 11 Februari 2020, bertepatan dengan diresmikannya Garuda Pancasila sebagai lambang negara Republik Indonesia 11 Februari 70 tahun lalu.

    Eka Dharma Yudha, salah seorang aktivis GSC yang pernah main bola di Bali United dan ikut seleksi Tim Nasional (Timnas), mengaku mengetahui sejarah penyusunan lambang negara justru ketika aktif di GSC, bukan dari kurikulum sekolah.

    - Advertisement -

    Sebagai atlet sepakbola, ia mencoba menghubungkan Timnas dan Pancasila. Menurutnya, Timnas Indonesia menjadi sedikit dari negara yang memakai lambang negara di kostum atau jerseynya. Kebanyakan negara lain cukup memakai bendera negara di jerseynya. Kenyataan ini membuat Timnas unik. Sayangnya, kata Eka, muncul fenomena atlet yang hebat ketika membela klub tetapi loyo saat bermain untuk Timnas.

    Proses perancangan lambang negara sebagaimana diceritakan Sultan Hamid II dalam suratnya, melalui jalan berliku. Sebelumnya, Sultan Hamid II mendapat masukan dari banyak tokoh seperti Ki Hajar Dewantoro, M Yamin, Mohammad Hatta, M Natsir, dan para politikus di parlemen, termasuk dari Presiden Sukarno. Setelah menyelesaikan rancangan lambang negara, Sultan Hamid II menyerahkan desainnya itu untuk dilukis oleh pelukis istana bernama Dullah.

    Menurut Eka, perjalanan pembuatan lambang negara menunjukkan kolaborasi mulai dari politikus hingga seniman. Dengan kata lain, pembuatan lambang negara yang desain awalnya dari Sultan Hamid II tak lepas dari semangat gotongroyong.

    Namun Eka melihat hari ini semangat gotongroyong itu hilang. Padahal di negara lain mulai muncul semangat gotongroyong untuk mencapai kemajuan bersama. Pun dalam sepakbola, diperlukan semangat gotongroyong dalam menciptakan gol. “Kenapa bangsa kita tinggalkan ide yang kita buat sendiri?” kata Eka, usai membacakan surat Sultan Hamid II pada acara bertajuk “Peringatan Hari Lahir Lambang Negara: Elang Rajawali Garuda Pancasila 11 Februari 1950-11 Februari 2020”.

    Hal senada disampaikan Rifka, aktivis GSC yang juga aktif mengajar Bahasa Indonesia di sebuah SMA di Bandung. Menurutnya, sejarah lambang negara memang tidak diajarkan secara utuh di sekolah. Kurikulum sekolah hanya bersifat mengenalkan Pancasila, itu pun hanya di permukaannya saja.

    Setelah mengikuti pendidikan kritis yang menjadi program GSC khususnya tentang sejarah lambang negara, Rifka mengaku banyak menemukan hal baru. Ia lantas menyampaikan temuannya itu kepada anak didiknya di SMA. “Mereka kaget waktu tahu arti yang sebenarnya, misalnya bintang yang artinya cahaya, mereka kaget ternyata bintang tersebut berarti cahaya,” tutur Rifka.

    Ia juga menjelaskan simbol pohon yang selama ini dimaknai sebagai pohon beringin padahal sebenarnya pohon astana. Pohon astana yang berdaun lebat dan tinggi menjulang sering dipakai orang untuk berteduh. Ini menandakan bahwa negara memiliki fungsi menaungi rakyatnya.

    Anak-anak didik Rifka juga terkejut saat dijelaskan tentang makna rantai bulat dan persegi yang melingkar. Selama ini anak-anak jika diminta menggambar lambang negara, biasa membuat rantai bulat-bulat tanpa mengerti maknanya. “Mereka baru sadar bahwa rantai bulat kotak melingkar sebagai simbol dari kesetaraan laki-laki dan perempuan,” katanya.

    Banyak anak didik Rifka yang takjub dengan sejarah lambang negara. Sehari-hari mereka banyak menemukan masalah-masalah yang bikin baper seperti pertemanan sampai cinta monyet. Mereka pun biasa mencari kata-kata mutiara sebagai pelipur lara. Tetapi setelah mendapat penjelasan lambang negara, mereka seakan tersadarkan bahwa kata-kata mutiara itu ternyata banyak bertebaran di dalam khasanah Indonesia yang lebih dekat dengan mereka. []

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here