More

    “End of Black Era” Menjual Indonesia Lewat Film Fantasi

    “End of Black Era, The Incident”  menyuguhkan detail kostum dan fantasi di Indonesia.

    Dari kiri : Yongki Ongestu (sutradara), Yuris Aryanna (produser), dan Margareth Noblefranca (public relation) saat diskusi film “End of Black Era” di Indicinema, Gedung Bale Motekar Unpad, Bandung, Sabtu (21/05/2017). FOTO : NATALIA OETAMA

    “Mbak, silahkan pilih kostumnya. Pake kostum dulu sebelum nonton,” ujar salah salah satu panitia yang bertugas di meja registrasi. Saya tadi sempat bingung dengan tumpukan baju-baju di samping meja registrasi, dengan segera menganguk dan mulai memilah-milah kostum tersebut.

    Dalam batin, saya berpikir kreatif juga cara dia menjual film fantasi pendek yang baru tayang perdana di Bandung ini.

    - Advertisement -

    Tepatnya hari Sabtu lalu (21 Mei 2017) diadakan screening dan diskusi film “End of Black Era, The Incident” di Indicinema, Gedung Bale Motekar Unpad.

    Meskipun judulnya End of Black Era, namun film ini adalah film Indonesia yang diperankan hampir seluruhnya oleh orang Indonesia kecuali artis utama bernama Leifennie yang berdarah campuran Indonesia dan Malaysia.

    Pemutaran film yang dijadwalkan pada pukul 14.00 dan pukul 17.00 ini dibuka dengan dua film dokumenter.

    Film dokumenter pertama berkisah tentang Pak Baidi yang merupakan pengrajin tembaga di Kotagede, Yogyakarta. Film dokumenter kedua berkisah tentang Mbak Reso yang berumur 90 tahun dan masih menenun menggunakan cara tenun gendong yang nyaris punah.

    Setelah dua film dokumenter pendek tersebut barulah film berdurasi 12 menit “End of Black Era” ditayangkan. Hal pertama yang langsung mencuri perhatian saya adalah bahasa. Saya mencoba mencerna bahasa yang dituturkan narator di awal film, namun tak saya mengerti. Bahasanya seperti campuran dari beberapa bahasa, menarik.

    Di akhir film dalam diskusi bersama Yongki Ongestu dan Yuris Aryanna, yang jadi otak sekaligus pendana utama dari projek film pendek ini, barulah saya mendapatkan jawaban. Bahasa yang digunakan dalam film ini adalah bahasa angin yang merupakan kreasi dari salah satu teman. Bahasa ini dibuat dalam jangka waktu satu setengah tahun, telah lengkap dengan aksara dan pelafalannya.

    Hal menarik lainnya, Yuris dan Yongki menjelaskan tujuan awal mereka membuat film ini berawal dari keprihatinan Yuris yang bekerja sebagai wardrobe untuk iklan, videoklip ataupun film yang sering kali kurang dihargai.

    Menurut mereka, film yang bagus itu tak akan lepas dari kostum dan detil-detil yang ada pada tokohnya. “Sebut saja Hobbit..” kata Yongki. Karakter pada film menjadi menonjol justru karena persiapan matang dari konsep kostum dan aksesoris yang digunakan para pemainnya.

    Berangkat dari hal ini mereka mengusung tema fantasi, “Begini loh.. Kalau saya ga buat mungkin ga ada yang tahu bahwa orang Indonesia bisa melakukannya..” curhat Yuris dalam sesi tersebut.

    Untuk wardrobe film ini mereka sengaja ingin bekerja sama dengan para pengrajin yang jarang mendapat sorotan masyarakat. Menggapai mimpi sekaligus membantu memperkenalkan para pekerja rumahan yang memiliki ketrampilan mumpuni.

    “Sepatu boots yang dipakai di film ini dibuat di Bandung koq, walau bahannya saya ambil dari tempat lain,” tambah Yuris.

    Mimpi kedua muda mudi ini besar, mereka ingin film fantasi ini kelak bisa menjadi alasan orang datang dan berwisata ke Indonesia. “akh.. kebaca ya,” tawa Yongki ketika saya mengkonfirmasi mimpi besarnya itu.

    Screening dari film “End of Black Era” akan diadakan di beberapa kota besar di Indonesia. Setelah Jakarta dan Bandung. Mereka berencana membawanya ke Tangerang dan Yogyakarta. “Mungkin juga Malang jika memungkinkan..” ucap Yongki.

    Film yang menghabiskan dana lebih dari setengah miliyar ini merupakan investasi mereka. “Semoga ada yang mau bekerja sama dengan kami dan melanjutkannya..” curhat Yuris. Semoga mimpi membuat film fantasi Indonesia yang keren bisa terwujud! []

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here