More
    Home RAGAM PERJALANAN Menyapa Batu Lulumpang di Gunung Kaledong

    Menyapa Batu Lulumpang di Gunung Kaledong

    Penulis : Muhamad Seftia Permana (Vjay)

    Foto : Dok. Tim Saba Gunung JGB

    Minggu, 19 Januari 2020, saya memiliki kesempatan untuk ikut dalam agenda Saba Gunung dari Komunitas Jelajah Gunung Bandung ke Gunung Kaledong. Agenda Saba Gunung biasanya dilaksanakan rutin setiap bulan. Untuk pemilihan lokasi, biasanya dipilih berdasarkan dengan bahan obrolan sebelumnya.

    Perjalanan yang dipimpin oleh Kang Dadan Kriwil sebagai Koordinator Saba Gunung ini, dimulai dari titik awal pendakian di wilayah Ciburial, Nagreg, Kabupaten Bandung dan berakhir atau turun melalui jalur Logawir / Kp. Cipari, Kec. Kadungora, Kab. Garut. Pendakian yang diikuti oleh 25 anggota dan dilakukan selama satu hari perjalanan pulang pergi dengan memulai perjalanan pada jam sepuluh pagi dan berakhir persis jam enam sore.

    - Advertisement -

    Awalnya, teman-teman memulai perjalanan dengan menitipkan kendaraan di rumah warga yang berada di titik awal pendakian yaitu Kp. Ciburial, Nagreg. Setelah persiapan dan berdoa bersama, perjalanan dimulai dengan menyusuri pemukiman dengan jalan mulai menanjak. Setelah melewati pemukiman, langkah akan ditemani oleh luasnya kebun yang ditanami oleh warga dari ketinggian sekitar 650 meter di atas permukaan laut sampai dengan sekitar 890 meter di atas permukaan laut. Setelah itu, vegetasi yang rapat mulai menjadi teduh pelepas lelah di tengah medan yang terus menanjak nyaris tanpa bonus kontur yang landai.

    Meski tidak setinggi gunung yang familiar idaman para pendaki urban, Gunung Kaledong menyuguhkan khasnya sendiri dengan medan yang cukup terjal. Sekitar jam dua siang, satu per satu dari rombongan mulai tiba di puncak dan dilanjutkan dengan istirahat siang di sekitar tempat yang terdapat Batu Lulumpang.

    Setelah dirasa cukup mengisi istirahat dengan sembahyang, makan siang dan bersenda gurau, rombongan bersiap kembali untuk melanjutkan perjalanan turun dengan melalui jalur yang berbeda. Sekitar jam setengah empat sore setelah ashar, rombongan kembali bergerak menuju arah berlawanan dengan kedatangan, yaitu menuju arah Kadungora, Garut.

    Dikarenakan Gunung ini hampir memiliki karakter yang sama di setiap sisinya, perjalanan saat turun pun melalui vegetasi yang serupa, hutan yang rapat dari puncak sampai bagian tengah, lalu dilanjutkan dengan kebun yang ditanami oleh warga sampai pemukiman.

    Tepat jam enam sore, seluruh rombongan sudah sampai di pemukiman warga, tepatnya di Kp. Cipari Kec. Kadungora, Kab. Garut. Sambil istirahat waktu Maghrib, sebagian rombongan berdiskusi dengan masyarakat setempat. Perjalanan masih belum berakhir sampai di situ. Rombongan masih harus melanjutkan berjalan kaki, menyusuri jalan Raya Bandung-Garut sejauh empat kilo meter untuk sampai di titik awal pendakian dan mengambil kendaraan yang dititipkan di rumah warga yang berada di Ciburial, Nagreg, Kab. Bandung.

    Batu Lulumpang

    Secara administrasi, Gunung Kaledong bertempat di dua wilayah, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut. Gunung ini memiliki tempat tertinggi di 1.239 meter di atas permukaan laut.

    Di gunung yang termasuk ke dalam Hutan Lindung ini, sebagian badan gunungnya digunakan masyarakat untuk berkebun sampai dengan lebih kurang pada ketinggian sekitar 890 Mdpl. Sisanya sampai ke puncak, masih berupa hutan lebat.

    Ada yang menarik, persis di tanah tertinggi Gunung Kaledong, terdapat batu yang menyerupai Lulumpang / Jubleg. Dalam bahasa Indonesia, artinya adalah tempat untuk menumbuk. Bentuknya hampir persegi, tepat di tengahnya terdapat lubang tempat menumbuk sesuatu.

    Masyarakat kaki Gunung Kaledong yang berada di Kp. Cipari mengisahkan bahwa Gunung yang berada di perbatasan Bandung dan Garut ini mulai ada di bawah wewenang perhutani sejak tahun 1986 sebagai bentuk pemindahan atau relokasi lahan atas pergantian dari lahan yang terpakai oleh salah satu waduk yang ada di Jawa Barat. Namun, untuk kisah Batu Lulumpang, masyarakat pun masih belum mengetahui secara pasti. Batu tersebut sudah ada saat masyarakat mulai tinggal di sana.[]

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here