More

    Apakah Sebuah Puisi yang Indah Selalu Mudah “Dipahami”?

    Sebagai pembanding, saya akan memberikan satu contoh puisi yang menggunakan ekspresi bahasa kompleks dari seorang penyair “infrarealismo” di Meksiko, Roberto Bolano. Sebagian penyair di sini mungkin tahu siapa itu Octavio Paz, penyair Meksiko yang mendapat anugerah Nobel Sastra 1991. Tetapi, jarang dari kita di sini yang mengetahui bahwa Paz memiliki “musuh” estetika di negerinya sendiri, yaitu para penyair yang lahir pada tahun 50-an dan menyebut diri mereka sebagai para penyair “infrarealismo”.

    Pada tahun 1976, beberapa penyair muda Meksiko yang paling kritis mulai menghimpun diri ke dalam gerakan puisi infrarealismo. Mereka membuat puisi menjadi sebuah gerakan sosial-politik dengan tetap mempertahankan estetika, menjadikan estetika dan etika sebagai hal yang tak terpisahkan dan membawanya ke titik ekstrim–avant gardisme. Mereka memberontak, melawan, dikucilkan, miskin, dibenci oleh publik sastra di negerinya sendiri–dan tetap tak mau menyerah. Mario Santiago Papasquiaro, Roberto Bolano, Cuauhtemoc Mendez Estrada, Ramon Mendez Estrada, Bruno Montane, Ruben Medina, Juan Esteban Harrington, Oscar Altamirano, Jose Peguero, Guadalupe Ochoa, Jose Vicente Anaya, Edgar Altamirano, Elmer Santana dan Mara Larrosa: itulah sekian nama para penyair infrarealismo yang memadukan estetika puisi surealisme Andre Bretton, dadaisme, realisme, dan puisi beat. Mereka berpandangan sangat kiri dalam politik, namun juga sangat estetik dalam puisi. Puisi-puisi mereka baru dikenal dunia sastra berbahasa Inggris secara internasional pada tahun 2007–2011, setelah para pendiri infrarealisme meninggal dunia. Di negeri mereka sendiri, di Meksiko, mereka dikucilkan dari pergaulan sastra, dibuang, dan dijauhi bagai “najis”. Suara mereka, suara lain itu, “dibunuh”.

    Salah satu pendiri dari gerakan infrarealismo adalah Roberto Bolano. Ia adalah seorang jurnalis, esais, novelis, dan penyair yang lahir di Santiago Chili pada tahun 1953. Sejak berusia lima belas tahun ia tinggal di Mexico City. Meski tak pernah menyelesaikan kuliahnya, ia adalah seorang pembaca yang tak kenal lelah dan bekerja sebagai kolumnis pada berbagai media di Meksiko. Pada tahun penghujung era 70-an ia kembali ke Chili dan bergabung dengan “kelompok kiri”, yang membuatnya terpaksa lari ke El Salvador. Ia kemudian eksil ke negara-negara Eropa sebelum memutuskan tinggal dan menikah di Spanyol. Ia meninggal pada tahun 2003.

    - Advertisement -

    Sebagai penyair, Roberto Bolano berusaha keluar dari hagemoni gaya lirik surealisme puisi-puisi Pablo Neruda atau Octavio Paz, dan lebih menekankan kepada “realisme yang mendalam sekaligus kritis” (infrarealismo) ala Walt Whitman, yang diaduk dengan gaya puisi surealisme dan dadaisme dari Perancis, pula gaya puisi beat dari Amerika Serikat. Sebagai seorang novelis Roberto Bolano berusaha lepas dari pengaruh realisme magis Amerika Latin dan menulis gaya eksprimentalnya sendiri, meski sebagian kritikus sastra Amerika Latin menganggapnya tidak terlalu berhasil.

    Roberto Bolano adalah sastrawan avant garde dari Amerika Latin, yang mesti berjuang melawan dominasi estetika sastra para raksasa pendahulunya. Sebuah perjuangan yang tidak mudah mengingat “frame” surealisme romantik dan realisme magis terlanjur menjadi label dari sastra Amerika Latin. Karya-karyanya baru dikenal oleh kalangan pembaca berbahasa Inggris justru setelah kematiannya.

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here