More

    Apakah Sebuah Puisi yang Indah Selalu Mudah “Dipahami”?

    Ketika pada tahun 90-an Roberto Bolano sempat kembali berkunjung ke Meksiko, ia langsung mengunjungi rumah salah satu sahabatnya, penyair Mario Santiago Papasquiaro–sang pendiri dan sekaligus dianggap sebagai penjaga estetika gerakan puisi infrarealismo. Namun, apa yang ia saksikan membuatnya hanya mampu berdiri terpaku. Rumah Mario Santiogo sudah jadi “rumah hantu”, berantakan dan sangat kotor. Dari beberapa pemuda pemain band liar yang tinggal di sana, ia mendapat kabar bahwa Mario Santiogo telah hilang sejak beberapa tahun lalu. Salah satu dari mereka berkata bahwa Mario Santioga sakit parah dan hidup sebagai gelandangan. Mendengar kabar itu Bolano menitikkan air mata. Perjuangan gerakan puisi infrarealismo untuk bertahan dalam pengucilan dunia sastra Meksiko telah sampai pada puncak pedihnya, lewat kehidupan sang tokoh pendiri utamanya, penjaga estetikanya, Mario Sontiago Papasquiaro. Itulah kemudian yang melatari Bolano menulis novel “The Savage Detectives” (1998), novel yang secara alusif mengisahkan tentang pencarian seorang penyair yang hilang di Meksiko. Novel setebal 600 halaman yang menggunakan teknik narator polifonik (ada 40 narator dalam novel ini), telah dianugerahi penghargaan sastra dan ulasan positif dari para kritikus sastra di Eropa dan Amerika. Mungkin, karena keunikan novel ini pula “The New York Times” menyatakan bahwa Bolano merupakan salah satu sastrawan terpenting Amerika Latin yang menyuarakan generasinya. Namun, Roberto Bolano menyatakan bahwa novel ini hanyalah semacam “surat cinta yang lirih bagi generasinya”–mungkin juga surat cinta terpedih bagi gerakan puisi infrarealismo.

    Sikap para penyair infrarealismo untuk memilih jalur puisi kompleks, bukan sekadar untuk tampil beda, tetapi didasari oleh landasan paradigma estetika dan pandangan ideologis yang kuat–sebuah pilihan ekstrim untuk terus bertahan dalam sikap kritis sekaligus menjadi inventor demi mencari jalan lain bagi estetika puisi pada zamannya. Sebuah perjuangan yang heroik pada awalnya, namun berakhir dengan nasib tragik para tokoh-tokohnya. Puisi kompleks itu, mungkin, hanyalah alegori dari kehidupan para penyairnya. Dan, karena itulah–menurut saya–suara lain mereka akan tetap terdengar, akan terus didengar. Seperti saat ini, suara lain itu, suara dari puisi-puisi penyair infrarealismo, pelah-pelan telah melintasi batas negara yang mengucilkan mereka.

    ————————————————————————————————-
    Esai dan Puisi Terjemahan @ Ahmad Yulden Erwin, 2015 – 2016
    ————————————————————————————————-

    - Advertisement -


    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here